MOJOK.CO Salah kaprah di level dapur yang paling mainstream: nyama-nyamain mentega dan margarin, padahal jelas-jelas berbeda. Duh, situ ngerti nggak, sih?

Setiap tahun menjelang Lebaran, ibu saya bakal duduk manis di meja makan setiap selesai sahur, di hadapan adonan kue kering dan cetakan-cetakannya. Iya, beliau tentu saja bermaksud mempersiapkan bertoples-toples kue untuk ditaruh di ruang tamu, dalam rangka menyambut hari raya kelak.

Kadang-kadang, saya ingin membantu, tapi ujung-ujungnya ibu saya cuma nyuruh saya cuci baskom dan loyang. Bukan apa-apa—soalnya saya pasti selalu ngerusakin cetakan kue. Ajaib memang.

Lantaran “kesialan” tadi, saya mencoba untuk membantu di tahap yang lain: membeli bahan-bahan kue. Biasanya, Ibu akan menyuruh saya mencatat bahan yang perlu dibeli, dan—hampir setiap tahun—kami bertanya-tanya pada suatu hal: apakah mentega dan margarin adalah sama.

“Jangan lupa beli margarin.”

“Mentega apa margarin?”

“Sama aja, itulah maksudnya.”

“Bu, mentega sama margarin itu beda! Tapi, yaaa, aku juga nggak tahu bedanya apa, sih. Hehe.”

Sebelum momen itu terulang kembali tahun ini, saya rasa menjadi penting bagi kita semua untuk mencari tahu apa bedanya mentega dan margarin sesungguhnya. Atau, yang lebih mendasar: apakah mentega dan margarin memang berbeda? Atau jangan-jangan, ini cuma masalah penggunaan bahasa saja? Hmm?

Dikutip dari Kompas.com, hal ini ternyata diaminkan oleh President of Indonesia Pastery Alliance, Rahmat Kusnaedi. Menurutnya, seharusnya pertanyaan kita adalah “apa bedanya margarin dan butter?” bukannya “apa bedanya margarin dan mentega?”. Pasalnya, Rahmat meyakini bahwa margarin dan mentega adalah hal yang sama, hanya terpisah oleh terjemahan.

Baca juga:  Sembuhnya Setya Novanto Jangan Dibikin Teori Konspirasi

“Margarin itu bahasa Inggris, mentega bahasa Indonesia.”

Meski demikian, banyak sumber menyatakan bahwa mentega dan margarin memang merujuk pada dua produk berbeda. Istilah butter dalam bahasa Inggris sekalipun juga banyak diasosiasikan dengan istilah mentega dalam bahasa Indonesia. Artinya, patutlah kita menilai mentega dan margarin merupakan dua hal yang tak sama, meski sama-sama berwarna kuning.

Yah, nggak semua yang warnanya kuning itu sama, kan? Kalau sama, ngapain juga Mbak Titiek Soeharto pindah dari Golkar ke Partai Berkarya? Hehe.

Lagi pula, kayaknya nggak lucu kalau kita menutup artikel ini dengan kalimat “Ternyata mereka sama saja, mylov! Masalah selesai!”, ya, kan? Jadi, lebih baik kita jabarkan aja sekalian alasan-alasan kenapa mentega dan margarin itu berbeda, persis kayak kepribadianmu dan dirinya yang berkebalikan dan nggak compatible~

Pertama, margarin berasal dari lemak nabati, sedangkan mentega terbuat dari lemak hewani.

Lemak nabati margarin yang dimaksud umumnya berupa minyak kelapa yang dikenai proses hidrogenasi, yaitu perubahan bentuk cair menjadi padat dengan bantuan gas hidrogen. Margarin yang berbahan nabati ini memiliki kadar lemak dan kolesterol lebih rendah.

Sementara itu, mentega bukanlah pilihan yang bagus-bagus amat buat kamu yang memutuskan jadi vegetarian. Ia berasal dari lemak hewani, berupa lemak susu dengan lemak jenuh cukup tunggu. Mula-mula, susu—sebagai bahan dasarnya—akan dibiarkan beberapa hari dalam suhu dingin, tepat seperti kamu kalau lagi dikasih silent treatment dari pacar yang lagi ngambek. Lama kelamaan, krim susu bakal terbentuk, setelah terpisah dari bagian yang cair.

Baca juga:  Golkar & Nasdem, Partai yang Paling Banyak Berkoalisi di Pilkada 2018

Kedua, karena bahan dasarnya berbeda, tentu tekstur dan penggunaannya berbeda pula.

Dengan kandungan air mencapai 20% (lebih banyak daripada margarin yang hanya 16%), mentega tidak memiliki tekstur yang lebih kaku dibandingkan dengan margarin. Dengan demikian. daya emulsi mentega juga kalah kuat dan stabil. Apa dampaknya dalam pembuatan adonan kue?

Tentu saja, kuenya jadi lebih lembek, Maemunah. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan kenapa mentega banyak digunakan pada kue-kue serupa black forest, sementara margarin dibutuhkan dalam proses pembuatan kue-kue kering. Pasalnya, kue hasil adonan yang menggunakan margarin memang lebih ciamik: lebih lembut dan tidak mudah hancur.

Ah, coba kalau margarin bisa diolesin ke hati yang patah berkeping-keping gara-gara putus cinta, ya?

Ketiga, meski sama-sama berwarna kuning—seperti yang tadi sempat disinggung—kadar kekuningan mereka pun ternyata berbeda. Sebelum lanjut ke paragraf berikutnya, coba tebak, siapa yang lebih kuning: mentega atau margarin?

Ternyata, lemak nabati yang lebih berminyak membawa keuntungan bagi margarin: warna kuningnya lebih cemerlang dibandingkan dengan warna mentega yang berasal dari lemak hewani. Pengetahuan ini, saya rasa, bermanfaat juga untuk kita terapkan pada jokes kotor yang bertahun-tahun nggak ada perkembangannya, seperti: “Kuning-kuning, kayak tokai yang ngambang di kali!”

Nah, mulai hari ini, ubahlah jokes yang melecehkan warna kuning tadi dengan: “Kuning-kuning, kayak lemak nabati yang mengalami proses hidrogenasi!”



Loading...



No more articles