Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kena Pelecehan Seksual, Pantaskah Via Vallen dan Gita Savitri Dianggap Lebay?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
6 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Via Vallen dilecehkan melalui DM Instagram. Ia marah dan mem-publish DM tadi sebagai Instagram Story. Sebagai wanita, apalagi yang pernah mengalami pelecehan seksual, saya merasa tindakan Via Vallen sangat wajar. Sayangnya, ada saja yang memilih jadi pihak tak terduga.

Berita pelecehan seksual yang dialami Via Vallen secara tertulis melalui DM sedang ramai dibicarakan. Kala itu, Via mendapat pesan dari pria yang memintanya bernyanyi dan berpakaian seksi bersamanya di kamar tidur. Banyak yang ikut marah pada terduga pelaku, tapi tak sedikit pula yang menyayangkan tindakan Via. Bagi mereka, apa yang Via lakukan tak ubahnya sesuatu yang lebay dan tak masuk akal.

Ya, saya ulangi: lebay dan tak masuk akal.

Karena si terduga pelaku adalah pesepak bola dari tim ternama di Indonesia, Via lantas disebut-sebut hanya mencari panggung dan ingin dihujani perhatian. Tindakannya mengunggah percakapan DM di Instagram Story pun dikecam, dikatai sebagai sesuatu yang tak pantas dan semestinya jadi rahasia pribadi. Singkatnya, orang-orang ini mungkin ingin bilang:

“Kalau dapet pesan pelecehan, diemin aja kan bisa?!”

Marilah kita melompat sedikit ke kejadian beberapa hari lalu, masih di dunia Instagram. Seorang selebgram sekaligus YouTuber Indonesia, Gita Savitri (@gitasav), mengalami hal serupa. Ia sempat di-DM sebuah akun bernama Tristan Nugraha yang menyarankan Gita untuk menjual diri dan berhubungan intim dengannya.

Sontak, Gita segera mengunggah tangkapan layar DM akun ini ke Instagram Story. Meskipun polemik ini berujung panjang karena ternyata Tristan Nugraha adalah akun palsu yang mencuri foto seorang pria lain bernama Helmi Akbar Wangsi, pelecehan seksual yang dialami Gita patut disoroti.

Seperti Via Vallen, Gita pun mengalami periode victim blaming. Bagi sebagian orang, tindakannya tidak perlu: membagikan percakapan tak senonoh dari oknum pelaku pelecehan seksual.

Memangnya, apa sih yang dimaksud dengan pelecehan?

Dilansir dari Detik.com, psikolog dari Universitas Indonesia, Bona Sardo, menyatakan bahwa segala bentuk perilaku yang menjurus ke arah seksual atau merendahkan orang lain, baik secara fisik maupun verbal, dapat disebut sebagai bentuk pelecehan.

Pada data resmi keluaran Komnas Perempuan tahun 2017, ratusan ribu kasus pelecehan dan kekerasan kepada perempuan berlangsung terus menerus. Mirisnya, selain KDRT, kasus yang paling banyak terjadi adalah pelecehan siber, alias berlangsung di dunia maya. Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati pun membenarkan bahwa apa yang dialami Via merupakan pelecehan seksual berbasis siber.

Via Vallen dan Gita Savitri hanya segelintir saja. Di luar akun mereka, tentu masih ada orang yang merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka bukan tokoh ternama atau—mungkin—mereka tidak berani bersuara.

Lah, bagaimana kalau mau bersuara kalau ujung-ujungnya terkena victim blaming?

Menjadi korban pelecehan seksual itu tidak mudah. Rasa malu itu besar sekali. Ngeri. Sepertinya, seluruh diri pun ternoda dengan segera. Korban-korban ini, FYI, sangat mungkin bakal menangis karena malu dan takut, bercampur dengan kemarahan besar yang tak tahu harus diarahkan ke mana. Keputusan Via dan Gita yang mem-publish pesan tak senonoh yang didapatnya adalah reaksi refleks, alias bentuk kemarahan atas apa yang baru saja mereka baca.

Iklan

Tapi kenapa harus di-publish? Kenapa nggak dicuekin aja pesannya?

Oh ya, ya, ya, marilah kita bersikap cuek pada seluruh pesan karena sangat wajar bagi kita menerima perkataan tak sopan tersebut. Marilah kita bersikap cuek dan membiarkan pelaku berkeliaran dengan seenaknya, membagikan kalimat-kalimat rendahan pada korban berikutnya. Begitukah maksudmu?

Tapi, yang DM Via kan bule. Jadi, wajar dong kalau dia mengajak Via bertindak sedikit “gila” karena kehidupannya lebih bebas daripada kita?

Pertanyaan dan anggapan ini adalah simpulan ceroboh yang banyak ditemui di kolom komentar. Mau memaklumi tindakan ini hanya karena si pesepak bola bule? Sudahkah kamu baca pengakuan beberapa aktris Hollywood soal pelecehan seksual yang mereka alami dari seorang produser bernama Harvey Weinstein? Dan ingat: mereka semua bule, tapi mereka sama-sama tidak merasa suka atas perlakuan tersebut.

Gebrakan Gita Savitri dan Via Vallen bukanlah perkara lebay atau tidak lebay—ia menjadi sumber suara atas perasaan tidak nyaman yang diterima wanita manapun atas pelecehan seksual. Sayangnya, mereka tetap dianggap lebay oleh sebagian orang yang ternyata adalah…

…sesama perempuan. Yes, you read it right. Miris!

Coba duduk sejenak dan marilah berpikir. Via, Gita, dan ribuan korban pelecehan seksual lainnya butuh didengar. Mau di dunia nyata maupun dunia maya, semua pelecehan seksual ini terjadi di balik tangan seorang manusia yang sama-sama bisa berpikir seperti kita.

Tidakkah itu mengerikan dan semestinya dihentikan?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: Gita SavitrigitasavHelmi Akbar WangsiInstagramMarko Simicpelecehan seksualperempuantristannugrahawvia vallenvictim blamingwanita
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan
Urban

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO
Kabar

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.