Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dilema Anak Rantau Antisakit Menghadapi Orang Tua yang Super Khawatir

Alexander Arie oleh Alexander Arie
4 Mei 2019
A A
Dilema Anak Rantau Antisakit Menghadapi Orang Tua yang Super Khawatir - Sakit Tengeng
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Anak rantau menjadi serba salah ketika jatuh sakit, sementara punya orang tua yang super khawatir. Jadilah, sebuah dilema yang bakal muncul di kehidupan perantauan.

“Sehat, Bang?”

“Sehat, Mak. Ini lagi mau meeting.”

Demikian secuil percakapan saya dengan Mamak di kampung. Pertanyaan standar seorang Ibu pada anak kandungnya yang hidup ratusan atau bahkan ribuan kilometer jauhnya dari rumah.

Jawaban “sehat” adalah template anak rantau untuk pertanyaan tentang kesehatan. Termasuk saya, meskipun pada kenyataannya sedang terbaring lemah di salah satu ruangan Rumah Sakit Caritas, Palembang, bersebelahan dengan seorang tauke karet yang lagi ribut karena istri sah datang membesuk saat selingkuhannya juga sedang menjenguk. MAMAM…

Ya, ini nyata. Nyata bahwa saya mengaku sehat padahal sedang opname. Nyata juga bahwa saya pernah dalam sebuah momen janggal pertikaian dua wanita demi seorang pria yang sedikit tampan saja tidak. Sebagai jomblo ketika itu, saya sungguh merasa hidup ini tidak adil.

Konsep merantau sudah ada sejak dulu. Kisah fiktif alias perumpamaan paling kondang dalam ajaran Katolik, misalnya, membahas tentang seorang anak bungsu yang meminta seluruh jatah warisannya untuk kemudian pergi merantau dan berfoya-foya. Si anak bungsu pulang saat sudah tidak punya apa-apa.

Tanah Minang punya Malin Kundang. Kalau yang satu ini, di perantauan beroleh kesuksesan sehingga ketika pulang malah lupa sama ibunya sendiri. Si orang kaya baru ini dikutuk jadi batu karena melupakan ibunya. Sudahlah jadi batu, sekarang jadi objek wisata pula. Mempertimbangkan posisi itu, Malin bahkan tidak memperoleh persenan sama sekali. Kasian benar nasibnya. Itulah akibatnya kalau durhaka sama ibu.

Kita juga mengenal Jokowi yang merantau dari Solo ke Aceh selama tiga tahun, mulai dari Lhokseumawe hingga Bener Meriah. Ada juga Sandiaga Uno, yang merantau ke Amerika Serikat untuk sekolah, bahkan tanpa dibekali tiket pulang. Mungkin karena kalender akademik belum keluar, jadi tiket pulang belum bisa dibeli. Gitu.

Saya sendiri jadi anak rantau, meninggalkan rumah di punggung Bukit Barisan menuju Jogja Berhati Mantan Nyaman yang sekarang maunya disebut “istimewa” sejak usia 14 tahun. Usia labil untuk jauh dari pengawasan orang tua. Saya sendiri telah memutuskan bahwa kelak tidak akan membiarkan anak saya merantau pada usia labil begitu.

Dalam setiap perantauan, fase pertama adalah sedih. Sedih karena sepi, karena berjauh-jauhan dengan orang tua. Tahapan kedua justru sebaliknya: gembira. Sesudah merenungi jarak itu, anak rantau kemudian memperoleh sesuatu yang sulit didapatnya ketika ada orang tua.

Ya, kebebasan. Yang sering jadi kebablasan.

Kalau dahulu di rumah tidak boleh merokok, maka di perantauan merokok bisa sesukanya. Jika di rumah ada jam malam, di kos-kosan mau tidak pulang juga tidak masalah. Satu hal yang pasti, senakal apapun anak rantau pasti punya satu prinsip: orang tua yang super khawatir di rumah hanya boleh tahu bahwa si anak rantau selalu dalam keadaan baik-baik saja. Sehat walafiat.

Anak rantau level apa pun pasti tahu bahwa kabar buruk dari tanah rantau akan menjadi beban pikiran orang tua yang super khawatir. Orang tua yang banting tulang demi kiriman bulanan. Atau kalau sudah bekerja, anak rantau juga tidak mau orang tua jadi panik dan malah jatuh sakit hanya karena kabar kurang enak dari tempat yang jauh.

Iklan

Apalagi, bagi anak rantau yang paham bahwa orang tuanya bukanlah tipe cuek, tapi yang setiap ada masalah pasti langsung sakit. Bisa dipastikan, kabar yang sampai ke kampung hanya yang baik-baik saja, sejauh segala hal memang masih bisa ditangani.

Ada seorang teman, atlet sepak bola antarkampung. Ketika ikut tarkam, lututnya cedera parah. Membiru dan benar-benar tidak bisa berjalan. Ketika pergi ke klinik, dia malah disarankan untuk amputasi.

Begitu ada telepon dari rumahnya di Kalimantan, dia memang mengaku kalau sedang cedera. Namun, hanya cedera biasa yang bakal sembuh dengan mengoleskan obat gosok. Pada akhirnya, seorang tukang pijat spesialis olahragawan tarkam berhasil membereskan kakinya. Setelah berhari-hari harus hilir mudik dibantu teman-teman kos maupun rekan-rekan sesama tarkam-wan.

Sebagai anak rantau, saya juga pernah mengalami ketika saya dan dua adik sama-sama merantau di Jabodetabek. Adik saya yang cewek mengabari kalau dirinya demam sudah beberapa hari. Sebagai abang yang baik, saya lantas mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Eh, ndilalah, dia positif Demam Berdarah Dengue (DBD) dan harus opname.

Pada saat yang sama, orang tua sedang dalam perjalanan ke kampung karena ada sepupu kami yang menikah. Saya dan adik saya yang cowok lantas berunding dan memutuskan bahwa tidak perlu mengabari orang tua di kampung.

Jadilah, saya dan adik saya yang cowok ini bergantian menginap di rumah sakit hingga lima hari. Setiap melapor ke rumah, kami hanya menyebutkan bahwa adik sudah keluar dari rumah sakit dan kini ada di kos-kosan untuk istirahat barang dua sampai tiga hari. Sementara itu, saya melaporkan diri sedang kerja di kantor.

Yaa, mau dibilang dosa karena membohongi orang tua, ya benar juga. Namun, kebohongan itu sendiri sudah berdasarkan analisis risiko yang memadai. Bukan apa-apa, sering, dampak yang ditimbulkan dari laporan kurang baik dari anak rantau itu bisa bikin pening orang tua.

Dalam konteks anak dikirim atau bekerja di kota yang orang tua sama sekali tidak familiar, ketika memutuskan untuk menengok, pasti muncul kerepotan tersendiri yang susah ditangani si anak rantau yang lagi sakit atau sedang ada masalah. Mulai dari siapa yang menjemput ke bandara atau stasiun, nanti orang tua tidur di mana, orang tua akan makan di mana, pakaian dalam pacar masih tersimpan di lemari, dan hal-hal lainnya.

Ketika terjebak dalam keadaan tersebut, anak rantau tetap memikirkan orang tuanya yang tidak akan dalam kondisi baik ketika harus datang ke kota asing maupun menginap di kos-kosan yang pengap. Ada perbedaan perspektif dalam hal ini; orang tua dengan konsep bahwa anaknya tetaplah yang utama, sedangkan anak rantau dengan prinsip enggan merepotkan. Dua pola pikir inilah yang menjadi pertentangan online sehingga berujung mengabarkan yang baik-baik saja.

Bagaimanapun, seberbeda apapun pola pikir orang tua dan anak rantau, sesungguhnya semuanya hanya berdasarkan pada satu hal: cinta. Cinta yang dapat kamu bagikan dengan menuliskan cerita perantauanmu di kolom komentar~

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2019 oleh

Tags: anak rantaujokowijomblomalin kundangorang tua
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

orang tua.MOJOK.CO
Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.