MOJOK.CO Industri iklan di Thailand punya rahasia dan trik ampuh. Sehingga, menikmati iklan bukanlah sebuah jeda tayangan menjemukan, melainkan sebuah hiburan. 

Kita ingat betapa kesalnya lihat muka Budi Setiawan di YouTube dengan poni lemparnya yang mustahil dilupakan. Sialnya, kemunculan budi di platform video gratisan itu nggak bisa di-skip alias mau nggak mau kita harus enontonnya dulu sampai kelar.

Alih-alih bikin orang join Binomo, iklan Budi Setyawan justru bikin banyak orang ingin langganan YouTube premium biar nggak melihat wajahnya lagi. Sungguh ironi. Orang-orang kesal dan secara nggak langsung ingin melakukan sesuatu agar gimana caranya nggak melihat iklan menjengkelkan itu lagi. Ini buruk banget buat brand.

Di industri periklanan, iklan Thailand adalah yang paling disegani. Mereka kerap memenangkan penghargaan dan jadi rujukan orang-orang di agensi untuk bikin tayangan yang sama kreatifnya. Salah satu iklan Thailand yang pernah ‘menipu’ saya di masa-masa kuliah dulu adalah iklan berikut.

Alus banget, tanpa dialog, tanpa budget yang fantastis, iklan ini berhasil nangkring di kepala saya bertahun-tahun. Iklan bra di atas punya brand value yang disampaikan dengan baik. Tujuan dari iklan terpenuhi, tujuan lucu terpenuhi, dan visualnya pun ciamik.

Selain lucu, iklan Thailand terkenal dengan ceritanya yang menyentuh. Hampir sama kayak iklan Ramayana edisi Ramadan. Bedanya, iklan Thailand bisa ditayangkan sepanjang tahun. Coba simak deh iklan berikut.

Baca juga:  Nggak Seperti Kami yang LDII, Muhammadiyah Sudah Cukup Lucu Kok

Nggak ada yang mengiris bawang, kalian memang lagi mrebes mili karena sedih lihat iklan di atas. Thailand sering disebut sebagai tear jerker karena menampilkan iklan yang bikin nangis sampai nyesek. Menariknya, produk-produk yang ditayangkan di iklan kreatf ini tergolong produk yang cukup biasa, bahkan cenderung nggak ada inovasi dari aspek barang atau jasanya.

Konon rahasia iklan Thailand bisa sebagus sekarang adalah karena sejarah kebebasan berekspresi di Thailand yang juga sempat jatuh bangun. Pada 1997 kebebasan berekspresi di Thailand sungguh dinamis. Media-media tidak terkecuali periklanan yang kemudian menemukan pijakan untuk berkembang. Namun pada 2001 kebebasan itu kembali dibatasi. Hanya iklan-iklan yang mendukung program pemerintah yang bakal dapat anggaran dan ‘lulus sensor’.

Sekarang, beberapa pembatasan iklan mulai dicabut, meskipun tayangan yang mengandung kritik terhadap pemerintah tetap akan disensor. Dalam keterbatasan itulah industri periklanan di Thailand putar otak dan menumbuhkan geliat iklan lewat tema budaya, keluarga, komunitas, dan komedi. Pembatasan ini bukannya membuat mereka berpikir semakin sempit, justru bikin mereka berpikir dengan lebih kreatif. Mirip sama kasus iklan rokok di Indonesia, walau nggak pernah menampilkan orang merokok tapi iklannya keren.

Rahasia kesuksesan iklan Thailand lainnya terletak pada bagaimana industri menghormati brand value. Mereka nggak sembarangan produksi iklan tanpa tahu nilai apa yang ingin disampaikan sama pengiklan.

Baca juga:  Pace dan Mace Ribut Soal Stay Home atau Homestay

Contohnya, iklan bra, ehem. Value-nya sederhana, bahwa siapa pun yang memakainya bakal punya dada yang bagus dan terangkat. Tapi, jika iklan bra ini menggunakan aktris cewek sebagai talent, maka pengiklan bakal berhadapan dengan sensor soal pornografi. Alhasil, cowok yang dihadirkan dengan value: bahkan cowok yang tepos pun bisa kelihatan wow dengan bra ini.

Bertahun-tahun Thailand memang jadi kiblat industri periklanan. Nggak heran ketika orang Thailand nonton TV dan mendapati iklan, mereka nggak lekas pindah channel. Penonton justru bakalan terlarut sama iklan dan sejenak lupa sama tayangan apa yang sedang mereka tonton. Ini adalah kesuksesan besar yang mungkin bisa ditiru industri iklan di Indonesia, biar YouTube kita makin banyak iklan makin nggak menjengkelkan.

BACA JUGA Menteri Terawan Tak Lagi Sama, Sebuah Teori Konspirasi atau artikel lainnya di POJOKAN.