permainan tradisional

Mengenang Kelicikan-Kelicikan Masa Kecil Saat Bermain Petak Umpet dan Permainan Tradisional Lainnya

MOJOK.COMengenang aksi curang dan culas yang dilakukan anak-anak jaman dulu saat memainkan permainan tradisional.

Di Twitter, seseorang membagikan video anak-anak yang sedang bermain petak umpet. Dalam video tersebut, tampak aksi cerdik seorang anak yang bersembunyi justru persis di balik tembok tempat anak yang “jadi” menutup matanya.

Video pendek tersebut benar-benar membikin hati saya amat bahagia. Pertama karena memang video tersebut benar-benar lucu. Sedangkan yang kedua, video tersebut membuat saya sadar bahwa ternyata masih cukup banyak anak-anak yang mau bermain petak umpet. Hal yang, dalam beberapa tahun terakhir, sudah benar-benar jarang saya temui.


Di tengah gempuran permainan digital, melihat anak-anak masih memainkan permainan tradisional seperti petak umpet, atau kelereng, atau boy-boy-nan, gobak sodor, dan aneka permainan tradisional lainnya memang menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri.

Sebagai anak yang masa kecilnya hampir selalu memainkan permainan-permainan tersebut, ada semacam perasaan agar anak-anak jaman sekarang juga harus mengalami permainan yang dulu biasa saya dan kawan-kawan sebaya saya mainkan.

Saya, dan mungkin juga banyak orang lainnya rasanya agar getir dan prihatin melihat anak-anak jaman sekarang tidak punya banyak kesempatan untuk menikmati keasyikan memainkan permainan-permainan masa kecil kami.

Baca juga:  Sebuah Seni Menjual Mainan Anak-Anak

Boleh jadi ini sebenarnya hanya perasaan kami saja yang berlebihan. Toh anak-anak kecil jaman sekarang bisa saja justru jauh lebih bahagia dan senang karena memainkan permainan-permainan digital melalui gadget mereka. Barangkali kami saja, generasi yang lebih tua, yang merasa sok tahu atas standar kebahagiaan-kebahagiaan dalam permainan.

Kendati demikian, perasaan saya tetap sama. Keprihatinan dan kegetiran itu tetap ada.

Bagi saya, walau mungkin permainan digital dan permainan tradisional sama-sama menyenangkan, namun ada sensasi pengalaman yang tak bisa didapatkan oleh permainan digital.

Ada banyak pengalaman-pengalaman lucu, kejadian tak terduga, sampai perkelahian antar teman, yang sangat mungkin terjadi saat memainkan permainan tradisional. Hal yang jarang terjadi pada permainan digital.

Jatuh dari pohon karena nekat bersembunyi di atas pohon saat bermain petak umpet, dihajar orangtua karena pulang terlalu sore setelah bermain gambar umbul tak kenal waktu, atau berkelahi akibat berselisih paham dengan kawan saat bermain kelereng. Itu menjadi pemandangan yang amat biasa.

“Anak kecil itu kadang memang perlu berkelahi,” begitu kata Pak Edi, tetangga saya. “Bukan urusan menang atau kalah, tapi biar mentalnya jadi.”

Aneka permainan tradisional yang saya mainkan waktu kecil dulu tentu saja membawa kenangan-kenangan manis. Bukan hanya soal kekompakan, kebersamaan, kelihaian, dan hal-hal baik lainnya, namun juga tentang kelicikan dan aksi-aksi culas.

Baca juga:  Di Sebuah Kafe yang Belum Premium Akun Spotify-nya

Kalau Pak Edi bilang anak kecil kadang perlu berkelahi, maka saya juga meyakini bahwa anak kecil kadang perlu menjadi licik. Dan pada kenyataannya, memang itulah yang dulu kami lakukan.

Kami banyak melakukan hal-hal licik dan curang dalam permainan masa kecil kami. Dalam pikiran kami, licik dan cerdik memang seperti tak berjarak.

Saat bermain petak umpet, misalnya, bukan cerita baru kalau ada anak yang susah sekali ditemukan saat bersembunyi. Hal yang memang masuk akal, sebab ia memang tidak bersembunyi di tempat yang “legal”, melainkan bersembunyi di rumahnya sendiri, sambil makan dan menonton televisi. Ini kelicikan yang amat lumrah.

Kali lain, kami, anak-anak kecil juga bersiasat dengan saling bertukar baju untuk mengelabui anak yang bertugas mencari kami. Tentu ini trik murahan, namun tetap saja banyak yang jadi korban.

Pada permainan lain, misal gambar umbul atau lempar gambar, saya, dan mungkin banyak anak-anak lainnya pasti pernah mencoba menggunakan gacoan gambar yang dua sisinya sama-sama hidup, sebab gacoan tersebut memang berupa dua gambar yang kami tempel menjadi satu, sehingga saat dilempar, jatuh dalam posisi apa pun, ia tak akan pernah menjadi gambar yang mati.


Pada titik tertentu, kelicikan-kelicikan “kecil” yang kami lakukan dulu itu menjadi amat indah untuk dikenang. Ia bakal menjadi kelicikan yang pelakunya justru bakal merasa bangga untuk menceritakannya. Kelicikan-kelicikan menyenangkan yang pada akhirnya saya merasa amat menyesalkannya karena tidak bisa dilakukan oleh banyak anak-anak jaman sekarang.

Baca juga:  Pendidikan Seks dan Cermin Kelakuan Kita

Tentu saja itu subyektif, sebab anak-anak sekarang pastilah punya “kelicikan”-nya sendiri. Kelicikan yang kelak mereka pasti juga menyesalkannya karena tidak bisa dilakukan oleh banyak anak-anak generasi berikutnya.

Begitu seterusnya.


BACA JUGA Urusan Menyalahkan Generasi, Orang Dewasa Memang Jagonya dan artikel AGUS MULYADI lainnya.