MOJOK.COJangan ngetawain ide Walkot Bandung untuk atasi kecanduan gadget pada anak dengan membagikan anak ayam. Sebagai orang tua, menurut saya ide ini bagus banget kok.

“JOKOOO!!! ACOOONG!!! SITORUUUS!!!”

Di tengah gemuruh hujan yang menghunjam tanah sejak sebelum tengah hari, terdengar sayup teriakan Abel, anak lelaki saya yang ketika itu kelas V SD. Ia pulang dijemput bapak saya, yang bercerita bahwa dalam mobil, sepanjang perjalanan bocah itu kelihatan sangat tertekan. Rupa-rupanya ia waswas memikirkan Joko, Acong, dan Sitorus, trio ayam jantan peliharaannya yang sejak menetas ia rawat sendiri dengan sepenuh jiwa, di antara belasan ayam peliharaan Bapak di kebun.

Saya tak tega memaksa Abel masuk ke rumah, jadi saya biarkan saja ia basah kuyup disiram hujan deras sambil terus berteriak-teriak. Beberapa saat kemudian Joko, Acong, dan Sitorus bermunculan dan menghambur ke pelukan Abel, yang wajahnya kini berseri riang. Dengan nada sayang dimarahinya ketiga ayam jantan yang tumbuh kuat dan tampan itu.

“Besok lagi kalau hujan masuk ke kandang, ya. Nggak usah nunggu aku di dekat pagar. Awas!”

Memang dua anak saya terbiasa memelihara binatang, mulai dari ayam, bebek, kura-kura, burung hantu yang tak dikandangkan, anjing, kucing, serta ular (yang terakhir ini masuk ke kandang terkunci pada waktu-waktu tertentu). Semua binatang itu mendapat sentuhan pribadi, misalnya secara teratur diajak masuk rumah untuk menemani belajar, nonton kartun bersama, dan lain-lain.

Adalah hal yang biasa melihat salah satu anak saya menghapalkan pasal-pasal UUD ’45 sambil berbaring di lantai dengan seekor ayam di telapak tangan kiri dan anjing mendengus-dengus di sisi kanan. Bahkan sesama binatang itu saling bersahabat dan tak ada tanda-tanda yang satu bakal diganggu yang lainnya.

Dan kenangan ini kembali muncul di benak saya seiring dengan hiruk-pikuk “chickenisasi” yang dilakukan Wali Kota Bandung Oded M. Danial. Tujuan utama chickenisasi untuk mencegah ketergantungan anak pada gadget.

Ini memang bukan perkara main-main. Di Jawa Barat, angka pasien rumah sakit jiwa karena kasus kecanduan ponsel di kalangan anak-anak dan remaja meningkat dengan beragam dampak. Seorang anak berteriak-teriak dan menendangi orang tuanya ketika gadgetnya diambil. Yang lain tidak ingat siapa dirinya, sebab yang ada di otaknya hanya game. Anak malang satunya bahkan tangannya terus bergerak seolah sedang memainkan hape, bahkan ketika ia tidak memegang apa-apa. Anak yang lainnya lagi membentur-benturkan kepala jika kalah saat bermain game.

Demikianlah Pemkot Bandung akhirnya menginisiasi gerakan memelihara ayam dengan sasaran anak SD hingga SMP itu. Tiap siswa menerima satu anak ayam dan bakal membentuk kelompok terdiri dari lima orang. Kelompok ini memelihara ayam-ayam tersebut dalam satu kandang yang disimpan di rumah salah satu anggota. Artinya, anggota kelompok mustilah tinggal berdekatan. Lumayan juga, kan. Siapa tahu setelah kumpul-kumpul memberi makan ayam, mereka jadi muncul ide untuk main skateboard atau melukis mural barengan. Beberapa jam lagi terlewat dengan melakukan aktivitas fisik dan bukannya menunduk memelototi gadget.

Baca juga:  Lima Manfaat Ayam di Era Revolusi Industri 4.0

Ayam-ayam tersebut wajib dicatat tumbuh kembangnya. Mulai berat badan, kesehatannya, dan lain-lain, lalu dibandingkan dengan kelompok lain di sekolah. Menariknya lagi, beberapa mata pelajaran terintegrasi dengan kegiatan ini. Misalnya, penulisan laporan masuk dalam mapel Bahasa Indonesia, pengukuran pertumbuhan ayam dalam IPA, dan kreativitas kandang ayam dinilai sebagai prakarya.

Dan tentu saja, suara kontra langsung muncul dengan gempita. Salah satunya, mengutip Tirto, dari KPAI. Komisioner KPAI Restno Listyarti ragu akan efektivitas program ini, sebab kecanduan gadget tak lepas dari pola asuh orang tua. Orang tua harus memberi contoh dengan tidak sering memegang gadget sekaligus tegas membatasi waktu pemakaian gadget pada anak. Hal kedua, anak perlu diarahkan untuk memperbanyak kegiatan di luar rumah, seperti berenang, les musik, les balet, dan sebagainya.

Saya tidak hendak menyangkal argumen pertama tentang suri tauladan dan pola asuh orang tua karena itu tak terbantahkan. Bagaimana orang tua berharap anak tidak doyan hape jika ia sendiri sibuk main FB dan WA? Sekali lagi, peran orang tua adalah keniscayaan.

Yang jadi pertanyaan adalah poin kedua: Apakah memelihara ayam tidak termasuk kegiatan luar rumah? Well, KPAI benar kalau bisa membuktikan ada orang yang memelihara ayam di kamar tidur atau ruang keluarga. Di mana-mana ayam dipelihara di luar rumah, Bu, kecuali sang empunya tidak keberatan rumahnya bau kandang. Atau sedang enak-enak makan tiba-tiba nasinya ketempelan bulu ayam yang terbang.

Dari pengalaman saya sendiri membesarkan dua anak, memelihara binatang layak disebut integrated learning. Pertama adalah melatih disiplin, mengingat binatang harus diberi makan pada jam-jam tertentu. Belum terhitung makanan yang tak boleh sembarangan, baik jenis maupun takarannya. Kedua adalah dedikasi. Bocah normal mana yang mau membersihkan kotoran mahluk lain, kalau tidak ada cinta yang mendorongnya?

Selebihnya, memelihara binatang itu menguras tenaga, seperti membersihkan kandang, memandikan hewan, dan sebagainya. Bermain dengan hewan juga bisa disamakan dengan olahraga, sebab biasanya anak-anak akan berloncatan, bergulingan, dan tertawa histeris hingga keringat mengucur deras.

Baca juga:  Lima Manfaat Ayam di Era Revolusi Industri 4.0

Kabar baik dari penelitian oleh Center for Disease Control and Prevention adalah, anak-anak dengan hewan peliharaan (hamster, kucing, ayam, anjing, kelinci, dan sebagainya) lebih rendah tingkat kecemasannya ketimbang yang tidak. Akibatnya mereka akan berkembang menjadi remaja yang lebih sehat dan bahagia, serta tumbuh dewasa dengan empati tinggi. Memelihara hewan juga membantu meredakan tekanan serta mengelola penyakit pada penderita gangguan mental berat seperti depresi, skizofrenia, bipolar, dan stres pasca-trauma.

Sampai di titik ini saya bertanya-tanya, mengapa anak-anak penderita gangguan mental akibat gadget itu tidak dilibatkan dalam kegiatan ini, ya?

Beberapa waktu lalu KPAI jadi sasaran amarah orang se-Indonesia karena ribut-ribut dengan Djarum sehingga perusahaan itu memutuskan tidak lagi meneruskan audisi bulu tangkis untuk anak-anak. Orang-orang mencaci-maki dan menantang KPAI untuk memberikan program pengganti yang serupa, dan tentu saja KPAI gelagapan. Sekarang ini ketimbang menentang program anak memelihara ayam, mungkin KPAI bisa memberikan solusi lain.

Program dari KPAI tentunya harus mampu menangkal ketergantungan anak pada gadget secara terstruktur dan terukur. Dan patut dicatat pula oleh KPAI, bahwa tak semua anak mampu ikut les musik, apalagi balet. Bagi anak-anak pinggiran, bisa makan sebutir telur tiap hari saja sudah sangat bersyukur, apatah kursus di tempat ber-AC dengan bayaran jutaan.

Jadi, lepas dari apa pun pendapat KPAI, program ini sangat potensial menjadi alternatif kegiatan anak yang mengasyikkan dan membuat sibuk pikiran serta perasaan. Baiknya pemerintah Bandung benar-benar menyiapkan juklaknya. Dan bila kelak terbukti benar efektivitasnya, program ini bisa diduplikasi di daerah-daerah lain. Lalu dilanjutkan dengan jenis hewan peliharaan lain seperti bebek, entok, ikan, kelinci, dan lainnya. Atau dikembangkan dengan program penghijauan kampung dan perumahan, yang diinisiasi oleh para siswa yang tinggal di wilayah itu.

Kenapa tidak? Segala cara patut kita coba untuk mendapatkan generasi yang tumbuh dan berkembang dengan optimal. Generasi yang bahagia, dan bukannya memandang hampa saat dipanggil, karena akal sehatnya sudah dicerabut oleh rangkaian spartan game online.

Anak-anak Indonesia layak mendapatkan pengasuhan paripurna, dan tidak disumpal dengan gadget hanya supaya tidak”‘merecoki” orang tua. Semestinya itu yang dari awal menjadi tugas kita, dan bukannya ayam-ayam sumbangan Pemkot serta binatang peliharaan lainnya.

BACA JUGA Izin Edar Obat Layaknya Pernikahan, Kalau Prosesnya Lama Pasti Ada Alasannya atau esai YUANITA MAYA lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles