Rasanya semua orang sepakat bahwa wafer Khong Guan adalah pilihan utama yang selalu menjadi rebutan di antara sekian banyak jenis isi dalam kaleng biskuit Khong Guan. Ia, selalu menjadi yang pertama untuk diambil. Kehadirannya kerap menimbulkan konflik horizontal antar sesama anggota keluarga, ia kerap menjadi sebab utama perkelahian antara sepupu satu dengan sepupu yang lain saat lebaran karena masing-masing tak ada yang mau mengalah untuk memilihnya.

Sebagai salah satu orang yang juga terbawa arus untuk ikut memperebutkan wafer Khong Guan sejak kalengnya dibuka untuk pertama kalinya, saya mencoba mencari tahu, bagaimana kehidupan wafer ini, dan perjuangannya dalam mengarungi kehidupan perbiskuitan yang semakin lama semakin keras saja.

Berkat salah satu koneksi Mojok yang bekerja di bagian distribusi, saya berhasil menemui wafer Khong Guan dan bercakap-cakap agak lumayan dengannya. Wawancara yang hanya 18 menit tersebut saya rasakan cukup intim, ia membagikan banyak informasi penting, dan tak ketinggalan, ia juga membeberkan curahan-curahan perasaannya sebagai seorang wafer Khong Guan.

Dari sembilan jenis isi di dalam Khong Guan, Bung adalah primadona yang selalu menjadi pilihan pertama untuk diambil, bagaimana perasaan Bung?

Banyak orang mengira bahwa menjadi yang utama adalah hal yang menyenangkan, itu tak sepenuhnya salah. Namun khusus untuk wafer Khong Guan, orang harus mulai berpikir lebih jauh. Menjadi wafer Khong Guan adalah pertaruhan besar. Ada beban dan tekanan batin yang amat kuat yang harus senantiasa saya pikul, utamanya di masa jelang-jelang lebaran seperti sekarang ini.

Baca juga:  Maha-mendengar dan Maha-melihat

Sebentar, beban seperti apa yang Bung maksud?

Ya beban personal. Menjadi pilihan utama, maka ekspektasinya pun pasti utama pula. Sebagai yang selalu diambil pertama, orang-orang selalu berharap saya mampu memberikan rasa wafer yang luar biasa serta kerenyahan yang kriuk paripurna. Hal tersebut tentu tak selalu bisa saya berikan. Selera orang tak pernah bisa sama. Ada kalanya, orang tak suka dengan jenis rasa yang saya punya, tentu saja itu bukan salah saya, namun pastilah kesalahan itu kemudian ditimpakan kepada saya.

Hanya itu? Receh itu, Bung.

Tentu saja tidak. Saya selalu dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan keharmonisan keluarga karena kehadiran saya kadang membuat kakak-adik atau paman-keponakan saling baku hantam, mereka berebut untuk mendapatkan saya. Kalau hanya satu atau dua keluarga, saya masih bisa berbesar hati, namun kalau ada ribuan keluarga, itu tentu lain perkara.

Ah, kalau itu, memang berat, Bung. Saya turut prihatin.

Tapi itu sebenarnya masih belum seberapa. Ada yang lebih membuat saya merasa sangat frustrasi menjadi wafer Khong Guan.

Apa itu, Bung?

Pandangan sinis dari saudara-saudara saya sekandung dan sekaleng. Bayangkan, kami sembilan bersaudara, namun selalu saya yang menjadi pilihan utama. Tak sekalipun mereka menjadi pilihan yang pertama. Memang ada beberapa momen saya hanya menjadi pilihan kedua atau ketiga, namun itu hanya terjadi pada keluarga yang ganjil, keluarga yang anak-anaknya tidak terlalu suka wafer, dan kita tahu, keluarga ganjil macam ini tentu saja sedikit sekali jumlahnya.

Baca juga:  Tanda Penting di Balik Kepulangan Habib Rizieq

Dalam satu lingkungan kaleng itu, saya merasa seperti dikucilkan. Tatapan saudara-saudara saya kepada saya selalu tak berubah, sejenis tatapan seorang pemburu kepada mangsanya.

Pernah kakak kedua saya, Marie Susu dan adik pertama saya, Rose Cream, secara terang-terangan menyebut saya sebagai anak haram dan tidak layak mendapatkan penghormatan selayaknya saudara sekandung. Itu sakit sekali.

Dan Bung percaya apa kata Marie Susu dan Rose Cream?

Awalnya saya tak mau percaya begitu saya, namun tatapan kakak tertua saya, Chocolate Cream ternyata juga menunjukkan hal yang sama. Kak Choco saya anggap sebagai saudara saya yang paling bijak, maka, kalau ia saja bersikap antipati kepada saya, maka mau tak mau, saya terpaksa harus mulai mempercayai apa kata Marie dan Rose.

Bung pernah mencoba melawan saudara-saudara Bung?

Tak pernah. Saya, dengan segala sikap buruk yang saya terima, masih tetap berusaha menganggap delapan saudara saya satu kaleng itu sebagai saudara kandung. Sejujurnya, saya iri dengan kawan-kawan lain yang punya nasib yang jauh lebih beruntung seperti Superco atau Saltcheese. Mereka berdua, menjalani kehidupan sebagai malkist dan krekers dengan lingkungan yang sehat. Tanpa persaingan.

Tunggu, bukankah kehidupan yang sehat itu justru adalah hidup yang penuh dengan persaingan?

Ya, tapi bukan persaingan yang Anda selalu menjadi pemenangnya. Jika persaingan itu membuat Anda selalu menjadi pemenang, itu bukan sehat, justru itu racun. Dan saya sudah menghirup racun jenis itu, puluhan tahun lamanya.

Baca juga:  Wawancara Singkat Bersama Rengginang: Menggugat Guyonan Basi “Kaleng Khong Guan Isi Rengginang”

Bung menyesal menjadi wafer Khong Guan?

Kadang. Tapi bukankah penyesalan tak pernah bisa mengubah keadaan? Ia hanya bisa mengolah penerimaan atas keadaan.

Kalau begitu, kenapa Bung tidak mencoba untuk meminta agar dikemas sebagai kemasan mandiri?

Saya tak perlu meminta sebenarnya, Hal itu sudah dilakukan oleh Khong Guan. Khong Guan sudah punya kemasan khusus wafer Khong Guan. Kemasan yang saya anggap memang diperuntukkan untuk keluarga-keluarga yang tak punya jiwa dan gairah berkompetisi. Hanya saja, Khong Guan tak mau sepenuhnya melepas saya sebagai kemasan kaleng sendiri. Khong Guan masih tetap menginginkan saya ada di kemasan kaleng besar dengan aneka jenis isi itu.

Kalau begitu, berarti tak ada yang bisa Bung lakukan?

Memang. Saya hanya bisa menerima keadaan yang getir ini. Berusaha menjadi anak yang manis dan patuh. Berharap agar saya bisa segera lepas dari situasi yang menyebalkan ini, walau hal tersebut tampak sangat mustahil.

Apa harapan Bung kedepannya?

Saya hanya ingin cepat mati, dan kemudian dilahirkan kembali sebagai wafer Tango atau wafer Nabati.