Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Permintaan Maaf Kapolda Sumsel Terkait Donasi 2 Triliun Seharusnya Memancing Pejabat-Pejabat Lain untuk Ikut Meminta Maaf

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
5 Agustus 2021
A A
meminta maaf
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meminta maaf menjadi barang yang amat mahal bagi para pejabat pemerintah yang gagal menangani pandemi Covid-19.

Polemik terkait sumbangan 2 triliun rupiah dari keluarga Akidi Tio pada akhirnya memang membesar menjadi kegaduhan publik yang luar biasa. “Prank” tersebut bahkan sempat disandingkan dengan aneka prank besar yang terjadi di setiap masa pemerintah presiden-presiden sebelumnya, dari Soekarno sampai SBY.

Pihak keluarga Akidi Tio pun sempat dipanggil oleh pihak kepolisian untuk menjelaskan terkait donasi 2 triliun yang rencananya akan digunakan untuk membantu penanganan Covid-19 di Palembang tersebut. Sampai saat ini, keberadaan uang 2 triliun tersebut juga masih belum jelas. Tak berlebihan jika publik kemudian menganggap donasi tersebut sebagai donasi bodong.

Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri merasa bertanggung-jawab dan kemudian meminta maaf kepada publik. Ia yang, secara langsung ikut terlibat dalam acara seremonial pemberian donasi tersebut merasa menanggung beban moral untuk meredakan polemik tersebut.

“Secara pribadi saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya jelas kepada bapak Kapolri, pejabat utama Mabes Polri, anggota Polri se-Indonesia dan masyarakat Sumatera Selatan,” terang Eko dalam konferensi pers yang digelar di kantor Polda Sumsel yang digelar pada Kamis, 5 Agustus 2021.

Eko merupakan pihak yang sempat dihubungi oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nurainy dan dokter pribadi keluarga Akidi Tio, Hardi Darmawan terkait rencana donasi tersebut.

Eko pun mengaku salah dan meminta maaf karena ia tidak teliti dengan donasi tersebut.

“Ini terjadi karena ketidakhatihatian saya karena percaya dengan pemberian bantuan tanpa mengecek uang yang dijanjikan dulu sebelumnya.”

Dalam polemik donasi 2 triliun ini, tentu saja secara teknis Eko tidak salah-salah amat, sebab sebagai pemimpin institusi kepolisian, memang sudah menjadi tugasnya jika ia dipercaya untuk ikut mengawal proses pemberian donasi yang diperuntukkan untuk masyarakat di wilayah kerjanya. Kalau kemudian donasi tersebut ternyata adalah donasi bodong, maka itu tentu di luar kendali dirinya.

Kesalahan yang nggak salah-salah amat itu memang menjadi besar sebab atensi publik atas donasi tersebut sudah kadung menyebar. Lha gimana, di masa seperti ini, siapa yang tak tertarik dengan berita donasi uang sebesar 2 triliun. Sekali lagi, 2 triliun, bukan 2 miliar. Itu uang kalau dibelikan santan Kara, satu Indonesia putih semua.

Jika kemudian Eko meminta maaf atas kesalahan “moralnya” itu, maka sudah sepantasnya permintaan itu diapresiasi. Setidaknya hal tersebut bisa menjadi bentuk tanggung-jawab yang selemah-lemahnya iman.

Momentum pejabat meminta maaf, utamanya terkait dengan sengkarut pandemi Covid-19 memang sangat jarang. Meminta maaf menjadi perkara yang amat sulit dan berat untuk dilakukan. Jangankan meminta maaf, bahkan sekadar mengakui kesalahan pun belum tentu bisa.

Kapolda Sumsel, terlepas dari kesalahannya dalam polemik donasi Covid-19, rasanya tengah menunjukkan model keteladanan yang penting. Keteladanan yang seharusnya juga ditiru oleh para pejabat yang telah bersalah karena gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang telah menelan banyak korban jiwa.

Sosiolog bencana di Nanyang University Singapura, Sulfikar Amir kepada Tirto pernah mengatakan bahwa permintaan maaf dari pejabat, apalagi pemimpin negara, merupakan bentuk empati paling dasar dari negara kepada rakyat yang sudah kehilangan anggota keluarga karena Covid-19.

Iklan

Sudah banyak pemimpin negara yang meminta maaf karena kegagalannya dalam menangani pandemi Covid-19, dari Perdana Manteri Australia Scott Morrison, Presiden Israel Reuven Rivlin, Kanselir Jerman Angela Markel, Perdana Manteri Inggris Boris Johnson, Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, bahkan sampai Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Berdasarkan penelitian oleh peneliti studi perilaku dari Universitas Ben-Gurion Negev juga menyatakan bahwa permintaan maaf jauh lebih efektif untuk menyelesaikan masalah ketimbang tidak meminta maaf.

Itulah kenapa, kita layak mengapresiasi permintaan maaf dari Eko. Setidaknya hal tersebut bisa memberikan pengharapan bahwa akan ada pemimpin-pemimpin berikutnya yang berani meminta maaf atas kesalahannya namun masih tidak merasa bersalah.

Memang rasanya agak mustahil membuat para pemimpin dan pejabat untuk beramai-ramai meminta maaf, namun siapa tahu, kalau sudah ada contohnya, para pejabat dan pemimpin itu jadi tidak canggung dan merasa malu untuk meminta maaf. Pejabat kan memang sukanya begitu, beraninya ramai-ramai.

Sekarang Kapolda, siapa tahu besok menteri, atau pejabat yang dulu sempat bercanda soal Covid-19, atau pejabat yang tidak konsisten menerapkan hukuman mati terhadap koruptor bansos, atau pejabat yang malah mereview sinetron ketika banyak masyarakat kelaparan. Nah, kalau itu semua sudah, tinggal nunggu presiden, deh. Lak yo begitu.


BACA JUGA Dianggap Konyol atau Tidak, Aksi Protes Dinar Candy Memakai Bikini Adalah Peringatan Besar bagi Pemerintah dan artikel AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2021 oleh

Tags: Akidi Tiopermintaan maafSotar Satir
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

jokowi
Kolom

Perintah Jokowi Memang Sebaiknya Tidak Selalu Dituruti oleh Anak Buahnya

27 Agustus 2021
stiker
Kolom

Penempelan Stiker pada Rumah Warga yang Belum Divaksin Adalah Langkah yang Brilian dan Harus Diapresiasi

13 Agustus 2021
meminta maaf
Esai

Prank Kombo dalam Isu Bantuan 2 Triliun dari Keluarga Akidi Tio feat Polda Sumsel

3 Agustus 2021
jokowi mojok.co
Kolom

Maksud Mulia di Balik Pernyataan “Bukan Mudik tapi Pulang kampung”, “Bukan Kolaps tapi Overcapacity”, dan “Bukan Kelangkaan tapi Keterbatasan”

10 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.