Tanya

Assalamualaikum wr. wb.

Dear, Mas Agus di Perumahan Mojok Residence.

Emmm, begini, saya mau curhat tentang kelainan dan ketidakbersyukuran saya. Sebut saja saya Mawar. Mahasiswi tingkat akhir yang lelah karena tak kunjung wisuda. Sama seperti saya yang lelah karena ketidakberhasilan saya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Piye yo, Mas, semua masalah ketidakberhasilan saya ini sebagian besar bersumber dari saya. Saya ini mudah sekali bosan, padahal saya ini tidak cantik untuk ukuran cewek yang sering gonta-ganti pacar. Tapi, gimana ya, urusan hati dan kenyamanan kan ndak bisa dipaksakan.

Mungkin ini alasan saya saja, sebenarnya. Sebab, saya sendiri tidak tahu laki-laki seperti apa lagi yang saya cari. Sering kali orang-orang di sekitar saya bilang bahwa saya ini ndak bersyukur, ndak ngaca, kok bisa-bisanya mutusin seorang dokter muda yang icik-icik ehem-ehem. Atau mematahkan hati seorang insinyur. Atau masih banyak lagi laki-laki di luar sana yang saya patahkan hatinya. Jujur, padahal saya bukan cewek matre atau suka lihat laki-laki dari tampang saja.

Mas Agus yang saya kagumi, bagaimana ya mengatasi kebosanan dalam hubungan setelah saya berhasil mendapatkan laki-laki yang saya idam-idamkan atau mengidam-ngidamkan saya? Apakah ini karena saya pernah menjalin hubungan yang lama lantas disakiti dan dikecewakan sehingga kemudian, saya menyia-nyiakan pria baik dengan alasan bosan?

Jujur saya lelah. Lelah karena tak kunjung lulus dan selalu gagal dalam bercinta. Saya juga takut kena karma. Mohon nasihatnya ya. Terima kasih.

Elvira

Jawab

Dear, Elvira

Jujur, ini sebenarnya permasalahan klasik bagi setiap pasangan. Bosan.

Kebersamaan yang terlalu rutin, jarak yang selalu dekat, dan perlakuan yang selalu sama, ditambah dengan naluri manusia yang selalu tertarik dengan hal-hal baru membuat kebosanan lumrah adanya.

Baca juga:  Aku Dikecewakan Lelaki yang Aku Kenal di Facebook

Banyak pasangan yang bisa bertahan menghadapi kebosanan, tak sedikit pula yang terempas.

Kebosanan dalam hubungan adalah keniscayaan. Dan saya rasa ia mustahil untuk dihilangkan.

Berita baiknya, ia bisa dikendalikan.

Kebosanan tak selalu tentang mencari yang lebih baik. Ia memang murni soal naluri manusia untuk mencoba hal-hal baru.

Permisalannya sederhana. Orang yang terbiasa makan piza, pada titik tertentu pasti juga ingin mencoba tempe. Begitu pun sebaliknya, orang yang sehari-hari makan tempe, sekali waktu pasti ingin juga makan piza. Itulah mengapa, lumrah jika ada seorang laki-laki yang sudah punya pacar cantik tapi justru selingkuh dengan wanita yang kecantikannya ternyata kalah jauh ketimbang pacarnya. Sebab, ia tidak mencari kecantikan, ia mencari hal baru.

Ketika sampean bilang bahwa sampean memutuskan pacar yang dokter atau yang insinyur itu sambil bilang “urusan hati dan kenyamanan tidak bisa dipaksakan”, saya cuma bisa nyengir sambil bilang “mbelgedes”. Lha sedari awal, kalau memang hati sampean nggak sreg, kenapa pacaran sama mereka?

Sedangkan untuk urusan kenyamanan, saya yakin sampean sebenarnya nyaman-nyaman saja pacaran sama mereka, tapi ya memang sampean saja yang tertarik buat cari kenyamanan yang baru. Lagi-lagi ini soal naluri manusia yang tak pernah merasa puas dan selalu ingin mencari tantangan.

Oke, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan rasa bosan dengan pasangan.

Pertama, coba untuk mengingat betapa pasangan sampean adalah pasangan yang istimewa. Cari hal-hal hebat yang ada pada pacar yang tidak akan sampean temukan pada pria lain. Misal, ia bisa selalu membalas chat sampean meski sedang beol sekalipun. Atau ia selalu mau dimintai tolong buat beli pembalut dan Kiranti. Atau bisa juga ia selalu bersedia diajak nonton film Disney walaupun ia tak pernah mudeng sama ceritanya.

Baca juga:  Perempuan Punya Teman Lelaki Wajar, tapi Tidak Sebaliknya

Kedua, ketika sampean merasa bosan, coba kenang bagaimana sampean dan pacar  membangun hubungan sampai sejauh ini.

Bayangkan betapa ia dulu sampai pernah nyewa iklan billboard hanya agar bisa menunjukkan bahwa ia suka sama sampean. Bayangkan betapa ia sampai harus berlatih menulis sampai tulisannya lolos di Mojok hanya agar bisa membuat sampean terpukau. Bayangkan betapa ia dulu sampai meminta tolong sama Tere Liye agar mau mengucapkan selamat ulang tahun buat sampean karena ia tahu sampean fans berat Tere Liye.

Tentu akan sangat sayang jika perjuangan yang istimewa itu harus tumbang hanya karena rasa bosan. Kecuali sampeyan memang menganggap pacar hanya sebagai portofolio, bukan pasangan.

Ketiga, cobalah untuk dekat dengan keluarga pacar sampean. Dekat dengan keluarga pacar bisa menciptakan satu hubungan yang lebih emosional dengan pacar. Sehingga ketika sampean merasa bosan dan ingin sekali putus, hubungan emosional inilah yang bisa berfungsi sebagai beban pemberat dan membuat sampean berpikir dua kali untuk putus.

Keempat, ingat baik-baik perumpamaan berikut: semua orang selalu memimpikan hubungan asmaranya berjalan seperti perahu arung jeram yang selalu bergejolak, dinamis, naik turun, asyik, serta menggairahkan, tidak seperti kapal pesiar yang selalu tenang, datar, tanpa gejolak, dan senantiasa membosankan. Tapi ingat, perjalanan jauh selalu menggunakan kapal pesiar, bukan perahu arung jeram.

Nah, Elvira. Itu beberapa tips yang mungkin bisa sampean lakukan untuk mengendalikan rasa bosan terhadap pasangan. Tentu saya tak menjamin itu berhasil. Sebab, tugas saya hanya memberi nasihat, bukan solusi.

Salam sayang

Agus Mulyadi

Komentar
Add Friend
No more articles