MOJOK.CO Inilah alasan kenapa almarhum Nunuk Nuraini, peracik bumbu Indomie Goreng pantas menerima gelar pahlawan kuliner Indonesia. 

Jika ada orang yang kita kira pantas masuk surga bahkan sebelum orang tersebut meninggal dunia, maka jelas itu adalah Nunuk Nuraini. Pembuat, peracik, sekaligus pembuat resep bumbu Indomie. Wabilkhusus Indomie Goreng rasa original yang legendarisnya naudzubillah itu.

Masalahnya, doa tertinggi yang bisa dipanjatkan oleh seorang manusia itu jadi benar-benar direalisasi malaikat ketika Nunuk Nuraini beneran berpulang ke Rahmatullah pada 27 Januari 2021. Berita duka yang bikin sebilah belati tiba-tiba menusuk sanubari ini.

Rasa sakit ini, benar-benar melebihi kayak kita mau bikin Indomie, tapi di dalam bungkusnya ternyata nggak ada bumbunya. Sedih level dewa, Ngab. Sedih.

Bagi saya, juga mungkin kebanyakan masyarakat, Nunuk Nuraini dan Indomie Goreng adalah pahlawan kuliner yang sejati. Grand-master-chef rendah hati yang mampu bikin rasa level hotel bintang lima tapi bisa dinikmati hanya dengan tarif gorengan tiga.

Dalam pikiran saya, kabar meninggalnya Nunuk Nuraini ini langsung membawa kenangan ke arah kemiskinan saya tempo dulu. Zaman masih kuliah, ketika Indomie adalah penyelamat hidup bersama Promag dan kopi saset.

Masa-masa sulit yang saya pikir pernah dialami oleh semua orang. Mau itu abang tukang bangunan, adik-adik mahasiswa di kos-kosan, sampai mereka yang ada di perantau. Indomie Goreng racikan Nunuk Nuraini membuat setiap tempat, setiap situasi, setiap keadaan hati menjadi berasa di rumah sendiri.

Berpadunya gurih, sweet after-taste, juicy, asin, aroma harum dari setiap kepingan yang ada di Indomie Goreng jelas jadi pengalaman komunal yang luar biasa paripurna. Ibarat setiap orang akan selalu ingat pada masakan terlezat emaknya, maka Ibu Nunuk Nuraini ini tanpa sadar sudah menciptakan perasaan betapa kita pernah menjadi anak-anaknya.

Home sweet home. Mau di Hong Kong, mau di Taiwan, mau di Tangerang… begitu masak dan makan Indomie Goreng di kosan, tiba-tiba tempat jauh di perantauan yang bikin sedih itu jadi berasa kayak di kebun rumah sendiri. Berasa sedang dimasakin emak sendiri.

Perasaan ini juga akhirnya menciptakan sensasi bahwa Indomie Goreng berasa kayak jadi resep keluarga bagi masing-masing anak di Indonesia—bahkan kalau melihat popularitasnya di seluruh dunia, mungkin juga bagi setiap anak di dunia.

Secara personal, saya tahu Nunuk Nuraini ketika beliau pertama kali muncul di hadapan publik dalam acara peluncuran “Indomie Real Meat Empal Goreng” pada tahun 2017 lalu. Sejak saya tahu bahwa beliau lah yang menciptakan resep Indomie Goreng, doa dan hormat selalu saya tujukan padanya setiap saya masak Indomie di rumah.

Bagi saya, namanya sama harum dan lezatnya dengan masterpiece yang pernah beliau berikan dalam resep mie instant terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia ini.

Meski begitu, sebenarnya karya-karya Bu Nunuk Nuraini tidak hanya ada di resep Indomie Goreng saja. Ada juga Indomie Real Meat, juga merek-merek lain seperti Sarimi dan Supermie.

Sebagai seorang flavor development manager yang bertanggung jawab untuk semua produk mie instant milik Indofood, indera penciuman dan lidahnya jelas berada di level di atas rata-rata manusia. Soalnya—ini serius—bagaimana kamu bisa meracik sebuah masakan yang cocok dengan lidah semua orang di Indonesia?

Sekarang gini. Coba bayangkan sejenak. Kamu tahu kan kalau orang Padang itu dikenal doyan pedas, orang Brebes dikenal doyan yang asin-asin, dan orang Jogja dikenal doyan yang manis-manis? Tapi apa kamu nggak merasa heran, kalau lidah semua orang itu bisa cocok dengan satu rasa dalam Indomie Goreng?

Itu kalau level resepnya bukan level dewa nggak mungkin banget, Bung. Hambok yaqin. Itu paripurna sebagai sebuah resep, Bung. Cocok di lidah semua orang dengan pengalaman rasa yang berbeda-beda lho. Kok ya bisa cocok? Buset, kadang saya tertegun kalau memikirkan ini.

Uniknya, salah satu sosok paling legend di dunia kuliner ini tergolong jarang bicara di depan publik. Konon katanya, Bu Nunuk Nuraini ini takut salah ngomong jika harus diwawancarai.

Duh, duh, padahal ya, saya yakin, setiap anak di dunia pasti pernah merasa menjadi anaknya Bu Nunuk melalui Indomie Goreng. Dan yang namanya anak, pasti senang kalau didongengin sama ibunya.

Tapi apa boleh bikin, barangkali Bu Nunuk Nuraini ini menjalankan amalan dari Tan Malaka, “Padi tumbuh tak berisik.” Beliau tak perlu banyak bicara, cukup lidah dan kemampuannya sebagai pakar teknologi pangan yang membuat Indomie mampu berbicara banyak di dunia Internasional.

Dan kini, Indomie bakal dibicarakan pula di dunia dan akhirat.

Karena—mungkin—surga memang sedang butuh peracik masakan terbaik dunia untuk calon penghuni-penghuninya. Wajar kalau kemudian Bu Nunuk Nuraini lah yang terpilih dipanggil duluan.

***

Jika harus dihitung, mungkin terlalu banyak utang budi saya kepada Bu Nunuk Nuraini dan Indomie Goreng. Tanpa memakan Indomie Goreng hampir setiap hari dalam setahun, mungkin saya tidak akan bisa membeli laptop dan iPhone sebagai alat produksi untuk melanjutkan hidup.

Berkat semua postingan Indomie yang saya buat di Instagram, mungkin saya tak bisa mendapatkan banyak pekerjaan. Singkatnya, isi rekening saya nggak akan sebanyak sekarang tanpa semua itu.

Karenanya, berita duka dari Bu Nunuk adalah sebuah getir dalam hidup yang harus saya hadapi. Orang yang bahkan tidak pernah saya temui itu adalah sosok yang secara tidak langsung telah membuat saya bisa ada di posisi sekarang.

Kini, dengan memasakkan Indomie Goreng telur setengah matang untuk istri, saya mendoakan pahlawan tanpa tanda tanya ini mendapatkan tempat terbaik. Karena memang tak ada lagi yang perlu dipertanyakan dari jasa dan karya-karyanya.

Terima kasih, Ibu… terima kasih sudah meracik secuil kepingan surga yang bisa dirasakan di dunia ini. Hormat kami, dari semua anak-anakmu. We love you.

BACA JUGA Apakah Pembuat Indomie Goreng Masuk Surga? dan tulisan soal sekte Indomie lainnya.