Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Reuni 212 Versi Ambon

Arief Balla oleh Arief Balla
4 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Reuni 212 tidak hanya diadakan di ibukota, tapi juga di Ambon. Reuni yang diadakan untuk mengingatkan persaudaraan antar umat beragama usai konflik Ambon 1999.

Eugine Mainake, teman serumah saya, menyesal tak bisa ikut Reuni 212 hari Minggu kemarin di Ambon. Alasannya ya karena jarak rumahnya di Ambon dengan tempat kuliahnya bersama saya ada di Illinois, Amerika Serikat. Sangat jauh.

Padahal momen reuni ini adalah momen yang selalu dia nantikan. Momen yang selalu saja membuatnya gagal menahan air mata haru. Apalagi reuni ini tak selalu dilakukan tiap tahun. Memang sih reuni biasanya dilakukan setiap beberapa tahun—tapi tidak untuk reuni satu ini.

Namanya Reuni 212, eh, bukan ding namanya Pela Gandong. Tapi yah memang, pelaksanaannya bertepatan dengan tanggal 2 Desember alias bisa saja jadi nomor cantik: 212.

Pelaksanaannya juga pada tanggal yang sama persis, jadi secara ugal-ugalan bisa saja dinamai Reuni 212 Ambon. Sebab, kalau mau dulu-duluan dengan Reuni 212 di Jakarta, reuni yang di Ambon ini memang sudah berlangsung lebih dulu.

Reuni biasanya bertujuan untuk merekatkan kembali silaturahmi yang terputus atau menguatkan silaturahim yang sudah terpilin. Pela Gandong hadir untuk mempertahankan dan memupuk persaudaraan yang ada antara umat Islam dan Kristen. Persaudaraan yang pernah mengalami masa surut yang menyedihkan di daerah tersebut.

Masyarakat Ambon, seperti kamu juga tahu, memiliki sejarah kelam yang sempat merenggangkan hubungan antara umat Islam dan Kristen. Tahun 1999 konflik berdarah mengatasnamakan agama meledak.

Eugine masih ingat hari itu pukul tiga sore pada hari Idul Fitri pada Januari 1999. Ketika dia telah berbaju dengan rapi hendak menuju ke kampung muslim untuk silaturahim selepas lebaran. Dalam perjalanan, Eugine yang baru berumur 6 tahun terkejut melihat orang-orang berlarian dengan parang.

Alih-alih berkunjung ke rumah teman muslimnya, Eugine dan keluarganya harus berlari ke bukit agar tak turut menjadi korban. Sejak saat itu teman muslimnya itu juga pindah ke kampung lain. Hubungannya dengan teman-teman muslim akhirnya harus disekat oleh konflik agama untuk beberapa lama.

Sejarah mencatat ada sekitar ratusan jiwa tewas karena konflik berdarah ini. Sebanyak 127 masjid atau surau dan 24 gereja dibakar. Hubungan silaturahmi yang telah terjalin selama ratusan tahun itu koyak. Kedua kubu saling membunuh atas nama agama masing-masing.

Beberapa tokoh menyebut konflik ini sebagai konflik agama. Beberapa yang lain menyebut karena faktor politik. Apapun itu, kepala kita telah cukup karib dengan nyawa yang melayang dan darah yang tumpah atas nama agama. Ratusan jiwa yang melayang, dan ratusan ribu jiwa di luar sana yang menjadi korban konflik politik bertopeng agama.

Upaya untuk menghidupkan kembali semangat perdamaian terus dilakukan. Watak orang Ambon yang sesungguhnya cinta damai selama beratus tahun coba dihidupkan kembali. Salah satunya dengan tradisi Pela Gandong ini. Satu tradisi ketika umat Kristiani dan Muslim bergandengan tangan untuk hidup saling melindungi dan saling menguatkan.

Pela Gandong adalah sebuah upaya reuni kedua kelompok yang sempat bertikai. Sebuah upaya reuni untuk menyatukan dua umat bersaudara yang sempat koyak.

Tradisi ini tak selalu dilakukan tiap tahun. Tokoh-tokoh adat bermusyawarah terlebih dahulu. Mereka menyepakati kapan dan bagaimana dengan biaya pelaksanaannya. Tradisi ini turut vokal dilestarikan oleh tokoh agama yaitu para pendeta dan ustaz.

Iklan

Tercatat, tanggal 2 Desember kemarin telah disepakati jauh sebelumnya sebagai waktu yang tepat untuk merayakan kembali tradisi ini. Dilaksanakan di Amahusu. Maka pada hari Minggu pagi acara pun dimulai.

Sama seperti Reuni 212 di ibukota yang didatangi tamu kehormatan Prabowo Subianto, Reuni 212 di Ambon juga dihadiri para tamu kehormatan, dari pejabat daerah sampai tokoh-tokoh setempat. Yang membedakan di Ambon tokoh-tokoh agama Islam dan Kristen disambut dan diarahkan menuju gereja, tempat Pela Gandong akan dilaksanakan.

Untungnya, di Ambon tidak ada ustaz yang suka menyeru kalau tokoh agama Islam mengadakan kegiatan di gereja dianggap sudah menggadaikan akidahnya.

Pada acara Reuni 212 Ambon ini sebuah kain putih panjang (kain gandong) akan dipegang bersama-sama orang-orang Islam dan Kristen menyambut mereka. Iringan sambutan disertai dengan alunan musik rebana dan tifa.

Rebana adalah alat musik yang sering dipakai untuk mengiringi lagu-lagu Islam sementara tifa biasa identik dengan lagu ketika ritual Kristen. Dalam kesempatan lain, tifa biasa pula digunakan untuk tujuan lain selain tujuan ritual keagamaan.

Selain itu, di depan gereja, ada tari-tarian yang ditampilkan oleh pemuda pemudi Islam diiringi rebana. Lalu ada pula yang ditampilkan oleh pemuda pemudi Kristen. Di dalam gereja, mereka saling menguatkan rasa persaudaran.

Kegiatan-kegiatan diarahkan untuk saling memahami satu sama lain. Tak ada susupan politik. Juga tak ada yang memperalatnya untuk selentingan kepentingan tertentu. Persaudaraan bersama terlalu mahal untuk digadaikan dengan kepentingan politik belaka.

Dalam reuni Pela Gandong tak ada akan terdengar teriakan “2019 Ganti Presiden” atau “2019 Tetep Presiden Petahana”. Nama Tuhan disebut dengan penuh kasih dan sayang meski disebut dengan nama yang berbeda-beda.

Nama Tuhan disebut untuk menguatkan persatuan bersama. Bukan untuk menguatkan kelompok sendiri tetapi tidak meminggirkan yang lain. Bukan pula soal siapa yang mayoritas dan siapa yang minoritas. Semuanya saudara sebangsa.

Reuni itu diadakan untuk menjaga perasaan satu sama lain. Persatuan dikuatkan untuk menguatkan bersama. Bukan persatuan yang menguatkan kelompok sendiri yang justru memberi garis perbedaan dengan kelompok lain.

Pela Gandong bertujuan menjaga perasaan masing-masing. Sebab persaudaraan untuk saling menaruh menjaga terlalu sayang jika dikoyak-koyak lagi. Konflik 1999 lalu telah menjadi bukti nyata betapa persatuan itu terlalu mahal harganya.

Jangan sampai ketika ada saudara-saudara kita berusaha saling membangun persatuan namun di sisi yang lain ada pula yang sibuk mementingkan kepentingannya sendiri.

Dalam banyak hal, kita memang dapat menggunakan dalih apapun untuk membenarkan kepentingan diri sendiri. Dan terutama sekali jika kita adalah kelompok mayoritas. Yang minoritas seringkali tak cukup punya keberanian memprotes. Namun tentu dalam hal tertentu kekuatan dan kekuasaan sebagai mayoritas justru sedang diuji.

Diuji apakah bisa untuk mengayomi, bukan justru mendiskriminasi.

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2018 oleh

Tags: AmbongerejaIslamjakartakonflik agamakonflik AmbonKristenPela Gandongrebanatifa
Arief Balla

Arief Balla

Sedang Studi Master di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat.

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet
Urban

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi bapak kerja habis-habisan 60 jam agar anak tak susah finansial. Tapi peran sebagai ayah dipertanyakan karena anak mengaku fatherless MOJOK.CO

Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

26 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Bapak Rela Jual Tanah demi Membeli Innova Reborn Setelah Tahu Bahwa Reborn Bukan Sekadar Mobil Terbaik 2025, tapi Investasi yang Nggak Bisa Rugi

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.