MOJOK.COSaya pernah menjadi saksi bagaimana perjuangan bapak saya mempraktikkan ternak lele pemula. Di balik iming-iming proses yang mudah dan hasil melimpah, ada halangan yang semula tak pernah kami bayangkan.

Untuk mencari kesibukan atau bisa diniatkan lebih jauh lagi, untuk mencari pendapatan, beternak itu nggak ada salahnya dan perlu dicoba. Tapi ingat, dicoba lho ya. Jadi belum tentu ada hasilnya.

Saya masih ingat sewaktu kelas 4 SD bapak saya yang seorang pegawai negeri berniat mencari tambahan pendapatan. Setelah survei ke sana kemari, akhirnya diputuskan pada saat itu untuk beternak lele dumbo. Katanya, dijamin tiga bulan bisa panen.

Lele dumbo pada saat itu jadi primadona bagi para pekerja untuk memperoleh pendapatan sampingan, terutama di kota kecil seperti Temanggung di mana saya menghabiskan masa kecil. Segera jadi primadona karena dianggap memeliharanya tidak repot, ikannya tumbuh dengan cepat, dan dijual pasti laku. Sebab, untuk memelihara jenis ikan yang lain diperlukan tempat yang luas dengan sirkulasi air yang baik.

Singkat cerita, Bapak kemudian membangun kolam ikan di halaman belakang rumah. Kolam tiga petak dengan panjang masing-masing 3 meter dan lebar 1,5 meter saat itu ditebar bibit ikan sebanyak 1.000 ekor. Ukiran bibit masing-masing kolam bervariasi. Dengan harapan jika kolam ke-1 panen, segera bisa dilanjutkan oleh kolam ke-2 dan kolam ke-3. Begitu seterusnya sehingga sirkulasi produksinya terjaga. Dalam ternak lele pemula ini, yang dipilih adalah pembesaran, bukan pembibitan. Jadi dari menebar bibit hingga panen hanya perlu waktu tiga bulan tadi.

Tibalah saat panen pertama dari kolam ke-1. Lele sudah besar-besar, tidak banyak yang mati, dan dijual pun dapat harga yang lumayan. Selain dijual, masih ada yang dibagi ke tetangga dan saudara sampai tiga hari kemudian, di meja makan keluarga kami masih terhidang lele dalam berbagai varian masakan. Nah setelah panen dari kolam ke-1 itu, kami sekeluarga sangat optimistis dengan kelangsungan budi daya lele. Meskipun satu hal yang harus diingat. Memelihara lele tidak seperti memelihara ikan nila atau ikan mas. Ikan lele ini nggak bisa jadi hiburan karena nggak bisa dilihat dan kolamnya pun mengeluarkan bau tidak sedap. Karena sukacita panen pertama, bau tak sedap pun jadi tak mengapa.

Baca juga:  Si Jumbo Bernama Lele Dumbo

Setelah kolam ke-1 dipanen, tentu kolam yang kosong harus diisi bibit lagi. Dari sinilah peruntungan keluarga kami dalam memelihara lele mulai tidak begitu bagus. Bibit yang ditabur untuk mengisi kolam ke-1 yang sudah panen ternyata ada yang membawa penyakit jamur dan berefek mematikan. Kolam di belakang rumah yang sistem pengairannya ini saling berhubungan antarkolam ini menjadi sebab penyakitnya menjalar dengan cepat. Mirip Covid-19 begitu. Karena penyakitnya tidak tertangani dengan cepat, kematian lele-lele setiap hari pun tidak terelakkan. Maka, setiap pagi lele-lele yang mati itu harus diambil dari kolam dan kami menguburnya dengan penuh kesedihan.

Setelah kematian massal akibat jamur itu, kolam dikuras dan lele-lele yang tersisa dibagikan ke tetangga dan saudara. Setidaknya para tetangga tidak hanya mencium aroma tak sedap, tapi juga ikut menikmati lelenya. Dari kejadian itu Bapak belum menyerah untuk menjadi peternak lele yang tangguh. Kabarnya jika nanti ada jamur lagi, bisa diobati dengan berbagai cara, salah satunya dengan obat berbentuk cair berwarna biru yang diklaim sebagai antijamur. Tapi target yang dipasang Bapak pun sudah bukan lagi mencari pendapatan sampingan, melainkan hanya sebagai pemenuhan konsumsi keluarga saja dan tentu saja tabungan bahan lauk hari raya.

Meskipun hanya sebagai pemenuhan konsumsi keluarga, ternyata kenyataan tetap tidak seindah gambaran di awal. Lele ini adalah hewan yang sangat rakus. Intensitas makan lele itu lima kali sehari. Dan kalau tidak dikasih pelet pabrikan, pertumbuhannya tidak cepat sehingga nilai keekonomiannya menjadi hilang. Akhirnya pengeluaran konsumsi rumah tangga yang lain harus dialihkan untuk ngasih makan lele. Jadi setelah urusan bibit yang tidak selesai, kebutuhan peletnya jelas harus nombok. Untuk menyiasatinya Bapak kasih makan daun-daunan. Salah satunya dengan daun sente yang banyak tumbuh liar di sawah-sawah dekat rumah. Karena targetnya hanya sebagai konsumsi keluarga, lele yang tidak cepat besar dianggap bukan masalah.

Baca juga:  Panduan Memulai Ternak Lele untuk Sarjana Filsafat

Setelah beberapa tahun kemudian, karena harus sekolah di luar kota saya tidak intens lagi mengamati perkembangan lele-lele di rumah. Yang jelas tiga kolam berukuran 3 x 1,5 meter di halaman belakang sudah dibongkar. Kolam dipindah di samping rumah memanfaatkan sisa pekarangan.

Suatu hari, saat pulang ke rumah Bapak mengajak saya untuk membeli bibit ikan nila dan gurame. “Lah nggak ngingu lele lagi?” tanya saya. Bapak akhirnya ngaku kalo selama ini untuk beli pelet dia selalu nombok. Dari pengalaman ingin merintis ternak lele pemula, Bapak membagikan tipsnya, yaitu: kalau niat ternak lele untuk bisnis, syaratnya lokasi harus jauh dari perkampungan, bisa cari substitusi pakan pabrikan, dan harus mampu bikin bibit sendiri. Untuk itulah hingga saat ini kolam-kolam di rumah tidak pernah lagi ditabur benih ikan lele. Entah trauma atau memang kami sekeluarga tidak cocok kerja di air.

BACA JUGA Panduan Memulai Ternak Lele untuk Sarjana Filsafat