MOJOK.COOrang-orang berlomba-lomba mendatangi siluman pesugihan politik. Mereka menjatahkan sesajen berupa kardus-kardus uang untuk biaya pemerolehan jabatan politik.

Dua hari lalu saya menonton tayangan YouTube perihal tempat pesugihan di Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Tiga orang cempiang ilmu hikmah, mereka adalah Ustaz Ujang Busthomi, Gus Soleh Pati, dan Gus Idris, mendatangi kancah pencarian peruntungan nasib melalui jalur lain itu.

Sejak awal masa pandemi corona, Kang Ujang secara rutin menayangkan ubah-usik kegesitannya dalam menangani masalah-masalah gaib. Dia merakit saluran rungu-pandang di YouTube. Sebagaimana pula Gus Idris, dari Malang, Jawa Timur, dan Gus Soleh Pati, dari Pati, Jawa Tengah, yang telah masyhur dengan kepakaran melukis makhluk-makhluk gaib. Saluran YouTube Kang Ujang telah meraih lebih dari empat juta pelanggan maya. Selain meyambangi tempat-tempat pesugihan atau pemujaan, Kang Ujang juga merawuhi kediaman dukun-dukun santet. Tidak jarang dia bersabung dengan para juru kirim penyakit itu.

Tayangan Kang Ujang tentang tempat pesugihan di Cirebon mengingatkan saya pada cerita masyarakat. Tentang tempat-tempat keramat yang sering ditandangi banyak orang dari berbagai wilayah. Ada Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah; Makam Eyang Djoego di Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur; Pantai Parangkusumo di Bantul, Yogyakarta; Gunung Srandil di Cilacap, Jawa Tengah, dan berbagai tempat keramat lainnya.

Seorang kawan dari Klaten, Jawa Tengah, bahkan bercerita ihwal jumlah tempat pesugihan di sudut desanya yang melebihi angka empat. Hampir setiap masyarakat menyimpan bergantang-gantang riwayat lisan tentang pesugihan. Seiras dengan desas-desus keheranan pada kemendadakan jatuhnya kekayaan, kehormatan, dan kenaik-derajatan pada diri entah siapa.

Pesugihan dan kisah-kisah ganjil tentangnya kerap menarik-narik Jawa, dan dengan demikian Islam Jawa, yang kerap diterima dengan citra poliklenik. Pesugihan berseiring dengan citra keris (tosan aji), jimat, dan upacara-upacara suci budaya masyarakat yang disalahterimakan.

Semuanya nyaris menjadi makanan empuk bagi mulut-mulut pelontar tuduhan kafir dan dakwaan kemusyrikan. Ada seorang sesepuh di Yogyakarta yang menyebut abad ini sebagai kala nistana, yaitu zaman ketika Jawa menjadi bahan olok-olok, caci-maki.

Jawa selalu kerap dipahami secara sewenang-wenang dengan peradaban poliklenik: mistis, gaib, dedemit. Wayang, yang seharusnya menjadi gambaran suluk atau perjalanan hidup lahir-batin manusia Jawa sebagaimana diracik oleh Sunan Kalijaga dan wali-wali lainnya, bahkan kerap terlukiskan secara amat klenikal.

Bebrayan Ageng

Pesugihan berasal dari kata dasar sugih. Dalam bahasa Kawi, sugih artinya kaya. Dua kata di dalam daftar dasanama kata ini ada drêbala dan sardana. Sugih juga berarti duwe bandha akèh (punya benda-harta banyak); kadunungan apa-apa sing akèh (ketempatan apa saja dalam jumlah banyak). Masyarakat Jawa biasa menetra pesugihan sebagai upaya lain untuk menangguk berlimpah harta-benda hanya dalam sekilat petir.

Caranya dengan meminta bantuan kepada makhluk halus yang berada di tempat-tempat keramat. Mulai dari tuyul, siluman babi, pocong, kandang bubrah, buto ijo, baju bebek, jaran penoleh, bangsa siluman, hingga Nyi Blorong. Makhluk-makhluk itu merupa sebagai juragan pemasok gemerincing kebendaan di rumah para pemujanya.

Syaratnya sederhana: makhluk-makhluk itu harus diberikan tumbal nyawa di waktu tertentu. Bila tidak, maka nyawa si pengais kekayaan dadakan itu sendiri yang akan direnggut. Terkadang ada syarat-syarat lain. Tergantung sifat dan akhlak makhluk pinuja. Intinya tetap sama: ada tagihan di tempo-tempo tertentu.

Kisah-kisah pesugihan membuka kembali ingatan tentang persekutuan manusia dan makhluk halus. Geliat kemesraan hubungan antara dua makhluk ini bahkan termaktub di dalam agama besar.

Lembaran kisah Sulaiman dan bangsa jin masuk di dalam daftar ini. Berbanjar dengan cerita tutur perihal Aladin, Sinbad, dan Ali Baba dengan jin ifrit. Di Jawa, legenda Bandung Bondowoso dan sekawanan jin arsitek Candi Prambanan dan serta Panembahan Senopati dan Ratu Kidul sampai hari ini terus melestari. Belum terhitung lagi rumor-rumor khas pesantren perihal santri-santri dari bangsa jin yang kerap mengaji kepada para kiai.

Saya pernah mendengar para sesepuh di Jawa yang bertutur tentang kilah-gesit para jin dan bangsa halus lainnya yang ikut membangun masjid Demak. Sunan Kalijaga juga pernah diceritakan suatu ketika didatangi oleh laba-laba dan pasukannya. Mereka ingin ikut berurun tenaga untuk memakmurkan Masjid Demak dengan menyumbangkan benang-benang halus pengikat kayu-kayu keramat di ruang-ruang utama.

Seluruh kekayaan cerita tutur itu merupa sebagai seratan abadi yang menyelentikkan kenyataan pergaulan antara manusia dan bangsa lelembut. Ada kesalingberi dan kesalingterimaan di sana. Artinya, di dalam alam kesrawungan (interaksi sosial), ada jejalin kesetaraan antara manusia dan bangsa lelembut.

Dalam tata pawedhan (epsitemologi) Islam Jawa, perhubungan antara dua jagad itu termasuk perkara lumrah. Ia merupakan kamar besar di dalam rumah persaudaraan agung (bebrayan ageng). Bahwa seluruh makhluk di alam raya yang menempati segenap arah (kiblat papat) merupakan saudara seperhambaan.

Dengan catatan bahwa manusia diberikan tanggung jawab sebagai pemangku (khalifah) di pemakmur kehidupan. Sedangkan di dalam tata pabhuwanan (kosmologi) Islam Jawa, manusia menempati jagad tengah di dalam susunan tiga jagad (triloka/tribhuwana): jagad atas (niskala), jagad tengah (sakala-niskala) dan jagad bawah (sakala).

Jagad atas ditempati oleh anasir ketuhanan. Jagad tengah ditempati oleh manusia. Jagad bawah ditinggali oleh binatang-binatang dan bangsa halus. Nalar ini mewujud di Jawa bahkan sejak sebelum agama-agama datang. Ketika Islam hadir, ia dipelihara dan dilanjutkan oleh para wali pemula agama Islam di dalam seluruh ajaran-ajaran kawicaksanan Islam Jawa.

Lantas, apakah dengan demikian pesugihan termasuk dihukumi mubah atau dibolehkan di dalam tata hukum Islam di Jawa? Tentu saja tidak. Tapi saya tidak akan menggeretnya ke dalam pasal perhukuman. Babak terpenting dari tajuk ini bagi saya tidak berbilik di sana.

Pesugihan memang berunsur pergaulan antara manusia dan makhluk-makhluk selainnya, terutama makhluk lelembut. Hanya saja, lampah berbasis nalar kabandan (kapitalistik) ini ternyata telah menyerongi kodrat kekhalifahan manusia Jawa. Manusia tidak ditugaskan untuk menjadi hamba sesama, akan tetapi, menjadi khalifah pengelok dunia (hamemayu hayuning bawana). Ia tetap mengabdi kepada Pangeran-nya. Selain itu, sebagai khalifah, manusia diwajibkan untuk memenuhi hajat-hajatnya bangsa selainnya (karyenak tyasing sesama).

Bagian tugas manusia sebagai pemenuh kebutuhan-kebutuhan sesama ini, terutama bagi bangsa di dua jagad: atas-bawah, masih dapat dijumpai sampai hari ini. Misalnya di dalam upacara membangun rumah. Biasanya orang Jawa akan menggelar upacara slametan.

Lebih khusus lagi, ada upacara penanaman tulang kepala dan bebalungan kerbau, kambing, ayam, atau ikan di bagian tengah serta sudut-sudut rumah. Sedangkan dedagingnya dimasak lalu dibagikan kepada para tetangga dari bangsa manusia. Maksud dari upacara itu bukan untuk meminta perlindungan pada bangsa halus, melainkan agar mereka juga dapat merasakan kenikmatan sedekah santapan yang terlebih dahulu telah diolesi dedunga (doa-doa) dan kalimat-kalimat suci (zikir).

Jika para manusia yang hadir di acara slametan itu telah lebih dulu menikmati daging-daging, para binatang di bawah tanah dan makhluk-makhluk halus juga mendapatkan hal sama: tulang-belulang dan sisa-sisa makanan, yang dalam lidah Jawa biasa disebut guwakan. Jadi, pesugihan menunjukkan pergeseran tatanan kekhalifahan manusia atau keraiban kiblat. Seharusnya para lelembut itu yang meminta bantuan kepada manusia, bukan sebaliknya. Sebab manusia adalah khalifah dunia.

Pesugihan, dalam penetraan lainnya, melambangkan nalar panggege-mangsan atau pemercepatan keterjadian sesuatu bukan pada waktunya. Dalam alam lisan kemodernan, ini disebut proses instan. Hasrat ingin cepat jadi, segera kaya, lekas berderajat tanpa mengikuti alur atau kedatangan waktu tertepat dan terharusnya. Aja nggege mangsa atau jangan memaksa waktu yang belum waktunya, kata para sesepuh Jawa.

Daulat hasrat ini akhirnya menelikung kewajiban untuk menjalani hidup dengan kesetiaan pada alurnya. Mirip dengan pelarian generasi bunga di belahan dunia trans-atlantik pada 1960an yang berkilah untuk cepat fana, menyaksikan keindahan, merasakan kedamaian, dan mereguk kenikmatan “alam lain” dengan bantuan LSD serta sepenunggalnya.

Alam Kasunyatan

Hidup bersetia pada alur atau kekersaan untuk berjatuh-bangkit merupakan jalan kekhalifahan. Mengalami kehidupan di dunia jin atau kedekatan dengan alam lelembut, dalam tata pawedhan Islam Jawa yang menjadi kemul keseluruhan kebudayaan Jawa hari ini, justru ditilik sebagai semuning semu atau kesemuan yang semu.

Semu yang hakiki bukan itu dan bukan di situ. Suluk atau perjalanan batin seorang Jawa, yang kelak akan menentukan seluruh jatah-nasib kedunia-akhiratannya (baca: kekaya-miskinannya), justru ada di alam kasunyatan. Tata pawedhan negeri walanda menyebutnya: dunia empirik, meskipun empirisme Jawa tidak sedangkal empirisme landa itu.

Alam kasunyatan merupakan pelafalan para wali Jawa atas alam syahadah. Ilmu kasunyatan, yang kerap disebut ilmu tertinggi mengenai hakikat kenyataan, biasa juga dieja dengan kata: sasahidan.

Babak ini, di Jawa, dipandegani oleh Sunan Kajenar atau Syekh Siti Jenar. Setelah beliau wafat, Sunan Geseng ditunjuk untuk menggantikannya selepas diwisuda oleh Sunan Kalijaga. Dalam terang kejangkepan ini, pengalaman batin atau mistis yang sebenarnya itu bukan terjadi di alam mimpi, bukan berbentuk pertemuan-pertemuan gaib, bukan berupa kesaling-sapaan dengan bangsa lelembut, bukan mewujud dalam anugerah pusaka atau mustika.

Pengalaman batin yang sebenarnya ada di dalam keikhlasan untuk menjalani hidup dengan penuh-seluruh liuk-likunya. Direndahkan, dicaci, mengelola marah saat menghadapi anak-istri, bermurah-hati pada tetangga, ringan hati, riang-gembira bila mendapatkan nikmat, tertawa bila menyaksikan kejenakaan, dan kesediaan untuk menerima nasib apa saja.

Keharta-bendaan, dengan demikian, hanya akan dapat diperjuangkan di alam kasunyatan itu. Kekhalifahan manusia tersematkan di sana. Bukan di dalam pemujaan pada bangsa dari jagad bawah: jin, hantu, siluman, dan saudara sepersusuan mereka.

Pesugihan Modern

Nalar pesugihan tidak hanya tertatah di alam kabudayan, melainkan juga di dalam tata peradaban manusia modern. Manusia hari ini sedang hidup di dalam nalar itu, yaitu dalam selimut sistem penuntut penumpukan modal dalam jumlah berlimpah. Cara dan usahanya, halal atau haram atau syubhat alias tidak jelas status kehalalannya, tentu tidak penting direken.

Onghokham, dalam seminar ilmiah tentang tuyul pada 24-25 Oktober 1985 di Semarang, menandaskan bahwa makhluk halus pemercepat penumpukan modal pada dasarnya memantulkan kenyataan tentang dampak kesenjangan sosial-ekonomi akibat akumulasi modal dan kekayaan. Makhluk-makhluk yang dipuja untuk diharapkan bantuan kapitalnya, lanjut sejarawan itu, berkelindan dengan terbitnya kapitalisme di tanah Jawa.

Nalar penumpukan modal ini adalah dasar peradaban manusia. Logika pesugihan atau hasrat penumpukan modal, ada di sana. Hari ini, banyak orang yang ingin cepat memiliki bisnis berskala besar bisa mendatangi situs pesugihan modern: bank.

Dengan kesepakatan tertentu, mereka akan mengutang dan membayarnya berikut marjin atau bunganya yang cukup tinggi. Ada pula yang mengharapkan pinjaman untuk tujuan berziarah ke tempat-tempat suci. Di waktu-waktu tertentu, biasanya setiap awal bulan, “siluman pesugihan” akan datang menagih atau langsung memotong gaji si pengutang lewat rekeningnya. Jika utang dan bunganya tidak bisa dibayar di tempo yang telah ditentukan, “siluman” itu akan mengamuk. Ia bisa secara manasuka datang merenggut aset-aset usaha si pengutang.

Di luar itu, orang-orang berlomba-lomba untuk mendatangi siluman-siluman pesugihan politik. Mereka menjatahkan sesajen berupa kardus-kardus uang untuk biaya pemerolehan jabatan politik. Bila kelak jabatan politik itu telah dipegang, mereka akan mencari “korban-korban” untuk dipersembahkan atau mengganti sesajen yang telah dilahap habis oleh siluman-siluman politik sejak mula.

Kali ini, para pemegang jabatan politik itulah siluman-silumannya. Akhirnya, situs-situs pesugihan di era kapitalisme modal tidak hanya bertempat di gunung-gunung, gua-gua, kuburan-kuburan, akan tetapi juga di tempat-tempat bermarwah, gedung-gedung mewah, dan kantor-kantor megah.

Siasat para wali

Dalam hubungannya dengan tata kabendan (sistem kapitalistik) yang memungkinkan amal pesugihan terkerjakan, para wali telah menubuatkan siasat, yaitu sedekah yang diragakan di dalam upacara-upacara suci sejak manusia masih di dalam kandungan. Mulai dari usia empat bulan si janin (mapati), tujuh bulan (mitoni), hari ketika dilahirkan, sepasar atau pertemuan hari pasar kelahiran atau saat tali pusarnya kukut, selapan, tedak siten atau masa ketika si bayi telah mulai akan berjalan, dan selapanan atau wetonan atau tiap 35 hari sekali.

Bagi orang Jawa, semua waktu-waktu itu ada sedekahnya dengan panduan-panduan khusus. Selamat dari marabahaya juga ada sedekah slametan-nya. Bahkan hewan ternak yang melahirkan pun ada sedekahnya. Semua sedekah-sedekah itu dibagi-bagikan ke para tetangga.

Hari ini, bahkan saya pernah menemukan sebuah keluarga yang bersedekah karena anak-anaknya baru bisa naik sepeda. Saya percaya bahwa dari sanalah kekhalifahan dapat diamalkan lagi. Kekhalifahan dalam khazanah Islam Jawa, tentu berbeda dengan kekhilafahan. Semoga kita semua dapat menjadi khalifah yang amanah bagi bebrayan ageng ini. Wallahu a’lam.

BACA JUGA Tergoda Pesugihan Genderuwo yang Meminta Tumbal Manusia dan tulisan-tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Baca juga:  Semoga Kamu Nggak Kaget dengan Fakta Pemboikotan Starbucks Ini