• 86
    Shares

MOJOK.COSpoiler alert! Setelah Avengers Infinity War, Venom, yang dibintangi Tom Hardy menjadi salah satu film yang ditunggu. Turunkan sedikit ekspektasi sebelum masuk studio.

Setelah Avengers Infinity War (jilid 1) usai, mata ini jelalatan mencari jadwal film Marvel lainnya. Tahun ini, meski bukan (murni) produksi Marvel, moviegoers, apalagi fans berat film superhero, pasti menantikan kehadiran Venom (Ruben Fleischer). Trailer yang dirilis secara berkala memberi dua gambaran di benak calon penonton.

Pertama, kengerian sosok Venom, tokoh fiksi musuh berat Spider-Man, disajikan dengan sangap apik lewat trailer. Suara yang berat, chaos ala simbiot, dan gigi-gigi tajam, dan kekuatan “jaring” yang luar biasa. Kedua, tak lain dan tidak bukan, Tom Hardy sendiri yang memerankan Eddie Brock, seorang jurnalis yang menjadi inang sosok Venom.

Seperti yang kamu ketahui, Venom adalah salah satu musuh terberat Spider-Man. Menyusul kesuksesan Spider-Man: Homecoming (Jon Watts, 2017), karakter dari “dunia Peter Parker” menjadi dinantikan. Apalagi ketika Spider-Man ikut perang Avengers Infinity War dan sukses besar memikat hati penonton lewat polah dan dialognya.

Lewat pengantar seperti itu, maka maklum apabila ekspektasi penonton menjadi terbangun. Rasa penasaran melihat bagaimana Sony Pictures membangun karakter antagonis yang kejam dan haus darah ini juga memuncak.

Spider-Man, meski sudah masuk ke MCU (Marvel Cinematic Universe), masih punya peluang muncul di variasi alur Venom. Oleh sebab itu, kesuksesan Sony membangun citra Venom ini menjadi sangat penting. Harapan menyaksikan Spider-Man vs Venom yang kejam di masa depan menjadi tontonan yang akan sangat dinantikan.

Baca juga:  Tribunnews Adalah Pahlawan yang Dibutuhkan tapi Tak Diinginkan

Namun sayang, harapan itu nampaknya mulai menipis setelah menonton Venom. Ruben Fleischer dan Sony bersepakat bahwa film ini punya rating PG-13. Jadi, adegan kekerasan yang dibangun tidak segahar Deadpool (Tim Miller, 2016) atau Logan (James Mangold, 2017). Adegan kekerasan selesai sampai batas film action.

Untuk Venom versi Ruben Ruben Fleischer, Eddie Brock punya sebuah acara TV. Singkat kata, pihak televisi memecat Eddie setelah tidak patuh dengan instruksi ketika meliput kecelakaan pesawat luar angkasa. Bukannya patuh dengan daftar pertanyaan konvensional, Eddie justru melakukan “investigasi”.

Setelah dipecat, Eddie Brock banting stir menjadi jurnalis investigasi. Mungkin ke depan Eddie Brock sebaiknya melamar ke Tirto saja. Karena kalau soal investigasi, Tirto memang jagonya (nb: bukan pesan sponsor).

Setelah terpapar simbiot, harapan menyaksikan kengerian Venom di dalam tubuh Tom Hardy tidak sepenuhnya terkabul. Pada titik tertentu, Venom justru menjadi pelawak. Dialog-dialog receh antara Tom Hardy dengan simbiot di dalam tubuhnya justru berceceran.

Bukannya gimana sih. Tapi bayangin kamu menantikan Grandong di Misteri Gunung Merapi ngamuk ketika melawan Sembara, tapi malah lempar plesetan sebelum gelut. Mengubah citra sosok yang ngamukan menjadi lebih friendly itu bukan perkara mudah. Tidak selalu buruk, tapi kalau gagal, film yang dibuat menjadi sulit terkenang.

Rating PG-13 memang sangat berpengaruh. Ruben Fleischer dan Sony menjadi tidak bisa menerobos batas-batas chaos. Kekerasan yang disajikan sebatas trik kamera (yang memang oke) dan aksi stunt saja. Pada titik inilah, sosok Venom yang sudah kadung terbentuk di benak menjadi lamat-lamat saja.

Baca juga:  Sony Xperia Z5 Compact: Tak Bisa Lepas dari Hape Sony Sejak 2003

Meski narasi ini terdengar negatif, garapan Ruben Fleischer tidak sepenuhnya sajian yang buruk. Sebagai film superhero (meski mendaku sebagai anti-hero), Venom tetap menyenangkan untuk ditonton di akhir pekan, ketika kamu orang tua yang baik – yang menonton film sesuai patokan usia – bisa membawa anak-anak menonton bersama.

Fun, adalah kata yang akan kamu temukan ketika menonton Venom. Kamu juga tidak perlu berpikir keras untuk mengikuti alur acara. Jadi aman untuk kamu-kamu yang agak sulit mengejar alur film-film seperti Fight Club atau seri Batman The Dark Night. Untuk sekadar film aksi, Ruben Fleischer sukses. Untuk menghadirkan Venom, ia (sedikit) gagal.

Ruben Fleischer kudu berterima kasih kepada Tom Hardy. Sosoknya yang komplet sebagai “pemeran” berhasil memadukan Venom Gaya Baru dengan pesona dan citra diri seorang Tom Hardy.