MOJOK.COPengalaman kena OTT sama polisi itu memang betul-betul nggak menyenangkan. Bikin malu. Untungnya, saya kena OTT bukan karena korupsi uang rakyat.

Kata “saya” di judul tulisan ini bukan merujuk kepada saya sendiri. Tulisan ini adalah hasil wawancara orang yang pernah kena OTT polisi yang direkayasa sedemikian rupa demi. Demi kelancaran cerita, peristiwa OTT memalukan ini saya tuliskan menggunakan sudut pandang orang pertama.

***

Awalnya sih saya nyobain jamur tahi sapi dulu. temen saya, namanya Ari, punya kakak namanya Bram. Nah, Bram ini kuliah di sebuah kampus, belajarnya soal pertanian. Ketika “praktik”, Bram kenal dengan beberapa pemuda kampung, posisinya di selatan kota. Dari para pemuda ini, Bram dibekali sekantung kresek jamur tahi sapi.

Sebagai penganut paham “bolos adalah perlawanan”, dengan semangat penuh saya datang ke rumah Ari untuk mencoba jamur tahi sapi. Ari ini bukan teman sekolah. Namun, kami sehati dan sejiwa menghayati bahwa bolos paling paripurna diwujudkan dengan tidak ngapa-ngapain. Main PS, ke warnet, atau sewa VCD bokep pakai KTP orang tua itu level bolos newbie menurut kami.

Bram menganggap kami belum siap mental untuk ngicipin jamur tahi sapi. Maka, saya dan Ari dapat tugas jadi “pengawas”. Bram dan teman-temannya bereksperimen. Ada yang menambahkan jamur tahi sapi ke mie instan, ada pula yang memotongnya kecil-kecil lalu dibuat omelet, ada juga yang diblender dicampurkan ke sambal. Untuk jenis perbuatan sesat, harus saya katakan mereka cukup kreatif.

Efeknya, seperti kamu sudah ketahui, adalah memasuki “dunia antara”. Antara goblok dan lucu sekaligus. Salah satu teman Bram, namanya Dimas, menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil yang merengek minta jajan. Teman Bram yang lain, namanya Tengik–-sumpah ini bukan saya ngatain dia, tapi namanya memang itu–-tiba-tiba diam mematung.

“Ngik, koe ngopo je?” tanya Bram. Terjemahannya: Ngik, kamu kenapa?

“Aku adalah batu,” jawab Tengik sambil memejamkan mata kuat-kuat.

Tawa kami meledak. Kecuali Dimas, yang masih sibuk menangis sesenggukan.

Melihat kegoblokan sebagai akibat dari jamur tahi sapi, saya mengurungkan niat untuk mencoba. Sementara itu, Ari memberanikan diri untuk mencoba, meski sudah dilarang oleh Bram. Beberapa saat setelah mencoba mie instan dengan topping jamur tahu sapi, dari posisi diam sambil merokok, tiba-tiba Ari lari ke pojokan rumah.

“Heh, Ri, meh ning endi?” Mau ke mana?

“Dolanan nekeran,” jawab Ari datar. Setelah menjawab, Ari jongkok di sudut rumah. Kedua tangannya dipertemukan seperti ketika hendak nylentik kelereng. Demi keamanan, Bram dan saya menyeret Ari masuk rumah. Saat itulah, saya melihat ada tetangga yang memergoki kami bertingkah goblok. Raut mukanya penuh curiga.

Baca juga:  Teror Pocong Masa PKL yang Kalah oleh Loudspeaker

Bram nggak jadi nyoba jamur tahu sapi itu. Dia malah sibuk sendiri menjaga kedua temannya yang gobloknya sudah lepas kendali. Tengik tiba-tiba koprol. Katanya dia sekarang jadi batu yang menggelinding. Saya ingat betul, kaki kanan Tengik menyenggol vas di samping televisi sampai pecah. Sedetik kemudian, dia menginjak pecahan vas itu. Darah keluar dari kakinya.

“Ini darah perjuangan, Kawan-kawan,” katanya. Saya dan Bram saling berpandangan lalu tertawa ngakak sedetik kemudian.

Eksperimen goblok itu berbuah sebuah rencana yang kelak jadi bencana. Sore harinya, ketika semua sudah “waras”, kami sepakat untuk tidak lagi mabuk pakai jamur tahu sapi. Bram punya usul brilian. “Nyobain pocong seru kayaknya.” Pocong adalah kata ganti untuk cimeng yang sudah dilinting menyerupai pocong yang hendak dikuburkan. Dulu, beli cimeng nggak sesulit sekarang.

Ari dan Bram anak seorang kaya. Bapaknya tinggal dan bekerja di Kalimantan, sementara ibunya sudah almarhum. Jadi, tidak mungkin ada orang yang bertamu. Rumah mereka ada di sebuah perumahan yang waktu itu masih baru dan belum banyak dihuni. Jadi, satu dan lain belum terlalu kenal.

Sore itu, saya kira Bram akan beli dua atau tiga gulung pocong saja. Ternyata, beberapa hari kemudian, dia mengeluarkan sebuah paket berukuran cukup besar. Dibungkus koran dan jika dicium kuat-kuat, aromanya sangat khas.

Ketika koran dibuka, satu balok besar cimeng diletakkan di depan kami. Agak sedikit lengket seingat saya. Dimas melemparkan balok ganja itu ke arah kaca dan ia menempel. Kami tertawa-tawa puas dan tidak sabar untuk mencoba.

Kami bersepakat untuk menikmati produk itu sehari kemudian. Bram dan Ari sibuk menyiapkan kertas untuk melinting, beli filter banyak-banyak, tembakau kering satu plastik besar, dan mi instan. Kami akan memperlakukan produk itu seperti jamur tahi sapi. Bereksperimen menggunakan beberapa menu masakan.

Dimas yang paling pandai melinting. Sementara itu Tengik dan Bram sibuk di dapur. Katanya mereka mau bikin omelet terbesar di dunia. Campuran telur ayam setengah lusin, potongan daun bawang, sosis, kobis, dan tentu saja cimeng yang diremuk.

Saya dan Ari? Sibuk main PS di lantai dua. Siang itu berlalu seperti siang-siang sebelumnya. Dimas sudah selesai membuat banyak lintingan dan sudah sibuk membakar dua lintingan sekaligus.

Baca juga:  Selain Meredakan Kecemasan, Efek Ganja Juga Baik Untuk Kesuburan Pria

Bram tiduran di sofa sambil nonton teve, dan Tengik masih bingung cari cara untuk membalik omelet buatannya. Tiba-tiba, ada suara ketika di pintu.

Dimas buru-buru mematikan pocong buatannya, lalu menyembunyikan tumpukan lintingan ke dalam kotak bekas biskuit. Dari arah dapur, Tengik berteriak, “Tamu, ndesss!”

Saya dan Ari sedang turun ke lantai 1. Yang saya ingat, kami lapar dan mau bikin mi instan. Bram bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu. Ketukan terdengar lagi dan kali ini terasa memburu. Lalu semakin keras ketika Bram malah diam mematung. “Perasaanku nggak enak,” kata Bram.

Benar saja, ketika pintu dibuka, saya melihat ada seorang polisi yang mendorong pintu keras-keras. Bram terjengkang. Dimas, Ari, dan saya diam mematung. Matek, batin saya. Tengik? Masih asyik misuhmisuh mencari spatula untuk membalik omeletnya.

Ketika OTT itu terjadi, sebagai anak SMA pikiran-pikiran dikeluarkan dari sekolah, sulit cari sekolah baru, atau nggak naik kelas malah nggak terlintas sama sekali. Yang saya bayangkan adalah di penjara mau makan apa? Apa ya mi instan setiap hari? Narapidana masak bersama-sama? Sangat random dan jujur saja, bayangan itu sangat mencekam.

Borgol polisi memaksa tangan kami tertahan di belakang punggung. Satu per satu, kami digelandang keluar dari rumah. Di depan gerbang saya melihat tetangga Ari yang tempo hari memergoki kami bertingkah goblok.

Kami dilaporkan? Kayaknya sih begitu. Tapi, beberapa bulan kemudian kami tahu kalau bandar dari Bram sudah tertangkap. Jadi, mungkin setelan muka dan ekspresi tetangga Ari itu yang seperti itu. Nggak jelas antara curiga dan penasaran.

Ketika akan dibawa ke kantor polisi, saya menyaksikan pemandangan yang ganjil itu. Sebuah mobil polisi dengan kursi kayu di atasnya. “Bakul kursi (penjual kursi),” saya membatin. Bukannya saya belum pernah melihat mobil jenis itu. Namun, kenyataan saya akan naik di atasnya sebagai pelaku OTT malah bikin perut saya geli. Absurd sekali.

Seturut jalan menuju kantor polisi, rasa lucu naik mobil “bakul kursi” masih ada. Hingga pada saatnya ketika sudah masuk sel, kelucuan-kelucuan tadi lenyap. Penjara nggak enak blas!

BACA JUGA Kultur Lodse, Warung Ijo Kukut Meninggalkan Kegilaan atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles