• 202
    Shares

MOJOK.COSandiaga Uno memperkenalkan Ibu Lis dan Ananda Salsabila Umar ketika debat cawapres melawan Kiai Ma’ruf Amin. Siapakah mereka? Sungguh misteri.

Ketika debat capres babak kedua antara Jokowi vs Prabowo selesai, publik sudah tiada sabar menantikan debat ketiga yang digawangi oleh Kiai Ma’ruf Amin dan Pak Sandiaga Uno. Dua cawapres ini diprediksi keras bakal “memproduksi” meme dan bahan guyonan di medsos. Maklum, keduanya sungguh “ikonik”.

Namun, apa yang terjadi? Begitulah kalau terlalu tinggi memasang ekspektasi. Jatuhnya sakit betul, Bos. Kiai Ma’ruf justru bisa menjelaskan berbagai kebijakan yang sudah dan akan dikerjakan. Sungguh kejutan, meski memang masih ada beberapa “bolong-bolong”, tapi ya okelah. Konon, kebiasaan debat di pesantren bikin Kiai Ma’ruf cukup ahli beradu argumen.

Sementara itu, Sandiaga Uno bermain aman. Kalau di sepak bola, ibarat Parma ketemu Barcelona. Bermain aman, bertahan, dan tidak mengincar serangan balik. Pokoknya nggak kebobolan saja bikin kalimat nyeleneh yang bakal disambut suka cita oleh awak Mojok yang sudah siap sedia dengan template infografis untuk bikin meme lucu yang terukur. Hehehehehehehehehehetertohehehehehehe…

Saking amannya, saya sendiri jadi sulit membedakan. Ini debat, atau Pak RT sedang pidato di malam tirakatan 17an, nggak bakal ada yang mendengarkan, semuanya sudah nggak sabar nonton dangdutan. Sampai-sampai yang datang malam tirakatan membatin, “Duh, lama bet pidatonya. Cepetan dangdutan, napa? Mau nyawer nih. Keburu nyonya rumah datang, kan!”

Kiai Ma’ruf Amin sebenarnya bisa diserang ketika bicara tenaga asing. Beliau menunjukkan data yang sayangnya tidak mencantumkan sumber. Kalau skipsian, Kiai Ma’ruf pasti sudah dibantai dosen pembimbing. Jadi beliau mengklaim bahwa tenaga kerja asing di Indonesia merupakan yang paling kecil jumlahnya ketimbang negara lain.

Sayangnya, Pak Sandiaga tidak menyerbu klaim tersebut. Namun memilih berusaha kalem saja seperti kimcil yang salting ketika deketan sama gebetannya. “Kuncinya adalah pembenahan. Jangan saling menyalahkan,” kata Sandiaga. Huft. Debat rasa ceramah ya begini. Debat cawapres jadi terasa sangat membosankan. Untung ketolong sama iklan Dulcolax.

Nah, sedikit letupan terasa ketika Pak Sandiaga menggunakan dua jurus andalannya. Jurus pertama adalah menggunakan pancingan “Di bawah Prabowo-Sandi” untuk membuka retorika. Untuk tidak menggunakan pancingan “Di bawah Lindungan Ka’bah”, nanti dikira ini acara nobar film garapan Hanny Saputra (2011). Sebuah film adaptasi dari novel karya Hamka berjudul sama yang terbit pada 1938.

Jurus ini seperti menyerang alam bawah sadar. Memberi petunjuk kepada otak kita, bahwa di bawah Prabowo dan Sandiaga, semuanya akan menjadi serba baik. Pintar juga jurus ini. Selevel dengan taktik iklan Mastin yang mengulang-ulang kata “good” tiga kali.

Nah, jurus kedua dari Pak Sandiaga adalah memperkenalkan warga yang ia temui ketika blusukan. Konon, Pak Sandi sudah mengunjungi 1.500 tempat dalam waktu tujuh bulan saja. Dua warga yang ia kenalkan adalah Bu Lis dan Ananda Salsabila Umar. Siapakah mereka? Tim sukses? Warga biasa? mengapa kisah mereka dianggkat ketika debat cawapres yang begitu datar itu? Mojok Institute mencoba membedahnya.

Baca juga:  Abdul Somad Lebih Didengar Umat Daripada Habib Rizieq untuk Pilpres 2019 Versi Survei LSI

Siapakah Bu Lies?

Jadi, ketika debat, Pak Sandi mengkritik mekanisme BPJS Kesehatan kekinian yang malah menyusahkan masyarakat. Untuk menambah greget serangannya–yang mana sebetulnya nggak sukses-sukses amat–Pak Sandi mengungkapkan perjumpaannya dengan seorang ibu bernama Lis di Sragen, Jawa Tengah.

“Ibu Lis di Sragen, Jawa Tengah, tidak bisa lagi berobat karena pembiayaannya disetop oleh BPJS. Sebabnya, BPJS tak lagi memasukkan pengobatannya dalam daftar yang dibiayai pemerintah,” kata Pak Sandi seperti dilansir oleh Solopos.

Yang namanya netizen, kalau nggak ribut dan bikin meme, rasanya belum pas. Maka, medsos langsung ramai. Mereka menerka-nerka siapa sebenarnya Ibu Lis? Akun Twitter berinisial @VctrKmng mengunggah sebuah foto dengan wording: “Ibu Lis”

Kalau kalian anak 90an dan doyan nonton bokep, pasti tahu identitas foto yang diunggah akun komedi tersebut. Nah, beda @VctrKmng, beda pula akun berinisial @mrchristwobowo. Ini kenapa pada suka disingkat-singkat sih pas bikin nama, bikin rbt ps nls ulng. Smh.

Nah, akun bernama ribet ini mengunggah sebuah foto dengan wording: “Oh yeah this is ibu Lis.” Ahh, mas. Ini mah yang tahu cuma Young Lex, yang konon komuknya bonyok dihajar fans “ibu” tersebut. Yang nyatanya cuma pranks saja. Asemik.

Semuanya jelas salah, sodara-sodara. Yang dimaksud oleh Pak Sandi adalah Ibu Lis di Sragen. Beliau adalah penderita kanker payudara yang pengobatannya tidak ditanggung oleh negara. Ibu Lis tengah berjuang untuk mendapatkan keadilan. Sebentar, itu bukan ucapan saya, tapi tulisan Pak Sandi sendiri. Beliau pernah menggungah di Twitter.

Sudah jelas, bukan? Tiada rahasia di antara kita?

Siapa sebetulnya Ananda Salsabila yang disebut Sandiaga ada di Sampang, Madura?

Nah, misteri kedua adalah nama Ananda Salsabila Umar yang seperti ucapan Pak Sandi ada di Sampang, Madura. Mojok Institute bekerja cepat. Kami mengirimkan tim kecil, yang saya ketuai sendiri, untuk segera meluncur ke Madura untuk menguak kebenaran ini.

Menggunakan penerbangan terakhir, tim yang beranggotakan empat orang itu langsung terbang ke Surabaya, tepatnya mendarat di Sidoarjo–Surabaya ga duwe bandara, rek. Begitu mendarat, kami langsung menyewa Avanza, mobil sejuta rentalan, untuk melesat ke Madura. Setelah mendapat mobil sewaan, tidak lupa kami ke Indomaret untuk membeli celana dalam.

Baca juga:  Perkara Nama ala Shakespeare Bagi Hanan Attaki, Sandiaga Uno, dan Ahmad Dhani

Maklum, Agus Mulyadi punya ritual selalu beli celana dalam di Indomaret begitu sampai di kota tujuan. Entah apa tujuannya, tapi yang pasti ia selalu membuang cawetnya yang lama ke atap Indomaret. Mungkin untuk tolak bala atau demi kelancaran rezeki. Siapa tahu setelah tulisan ini tayang, job mengisi acara di kampus-kampus di Surabaya terus berdatangan.

Perjalanan dari Sidoarjo, menembus Surabaya, lalu menyeberangi Jembatan Suramadu bukan perjalana yang pendek. Tapi kami sudah siap mental demi menguak kebenaran. Meniti jalur mobil travel dari Surabaya ke Sampang, kami meluncur dengan cepat.

Rute yang dilalui adalah lewat Jl. Panglima Sudirman, Jl. Kedung Cowek, Jl. Tol Suramadu, Jl. H. Moh. Noer, dan Jl. Raya Suramadu. Ketika sampai di pertigaan yang jika belok ke kanan menuju Jl. Raya Galis, kami teringat dengan salah satu kuliner pusaka di Madura, yaitu Bebek Sinjay. Lantaran perjalanan yang lancar, sebelum siang, kami sudah sampai di Madura. Mengisi perut, menguatkan jiwa tentu tak mengapa.

Oleh sebab itu, kami memutuskan belok kiri menuju Jl. Raya Burneh menuju Bangkala. Sampai di perbatasan Jl. Pemuda Kaffah dan Jl. Raya Ketengan, perut kami makin bergoncang. Mulut mulai memproduksi liur, mata mulai tidak fokus. Ini artinya kami sudah sampai di warung Bebek Sinjai.

Untung saja hari belum siang, masih habis pagi. Antrean di loket pemesanan, sekaligus pembayaran warung Bebek Sinjay belum panjang. Kami berempat hanya butuh mengantre 15 menit sebelum akhirnya bisa memesan salah satu kuliner dewa itu. Kalau sudah masuk jam makan siang, antrean bisa mengular. Kamu baru bisa memesan setelah mengantre sekitar satu jam.

Yang dominan adalah gurih, lalu disusul sedikit rasa manis. Rasa yang menggugah itu terasa sampai ke tulang-tulang bebek yang kami klamuti saking enaknya. Daginya empuk dan tidak berbau, bukti sudah ditangani secara profesional. Kremesan yang menjadi teman sangat cocok dengan nuansa gurih dan nasi pulen. Jangan lupa balurkan sambal mangga ke tubuh bebek yang seksi itu. Maka, rasa asam dan pedas yang bersahabat menemani gurihnya Bebek Sinjay.

Kurang puas, kami juga memesan menu pendamping. Satu piring penuh berisi ati dan ampela, serta sambal mangga porsi ketiga. Luar biasa.

Untuk melegakan tenggorokan yang lelah dihajar panasnya Madura dan “surgawinya” Bebek Sinjay, kami mengguyurnya dengan es kelapa muda. Sudah, komplet. Seperti mengetuk pintu surga, semua terasa pas dan luhur.

Setelah puas menyantap Bebek Sinjay, kami naik ke mobil lalu menuju Surabaya (baca: Sidoarjo), lalu terbang ke Jogja. Pulang.