Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menjadi Bijaksana Seperti Ika Natassa

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
5 November 2019
A A
Menjadi Bijaksana Seperti Ika Natassa MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Halo, Mbak Ika Natassa. Jangan pernah lelah ngebanding kehidupan dan kebahagiaan orang, ya. Saya tahu Mbak cuma terlalu bijak buat netizen.

Dear, Mbak Ika Natassa….

Saya ingin mengirim energi semangat buat Mbak Ika Natassa yang “s”-nya ada dua. Semangat terus, Mbak. Jangan pedulikan netizen kakehan cangkem yang cuma bisa nyinyir. Ha mbok yakin, mereka itu nggak punya level kebijaksanaan seperti panjenengan.

Saya kok nggak menemukan sesuatu yang aneh dari twit panjenengan yang sedang diserang banyak orang. Padahal Mbak cuma menulis begini:

pernah gak ketemu org2 yg pernah bersentuhan dgnmu di masa lalu: tukang parkir sekolah, kakak2 warung, tukang fotokopi, hidupmu sekarang udh beda dgn saat dulu kau ‘kenal’ mereka, sementara mereka masih menjalani hidup yg sama setelah belasan thn.

sungguh pengingat utk bersyukur.

Seharusnya, sih, aman saja. Lha wong orang ngasih nasihat kok malah dianggap membanding-bandingkan nasib seseorang. Apalagi katanya Mbak Ika Natassa dituduh meledek kehidupan orang lain yang pas-pasan dan serbakekurangan. Padahal kan Mbak Ika Natassa sedang mengajari kita tentang makna bersyukur. Kamu tahu, salah satu cara paling mudah untuk ngajari bocah tentang informasi baru adalah dengan perbandingan? Nah, Mbak Ika, dengan sangat cerdik memasukan perbandingan supaya mudah dipahami otak cetek kita.

Perbandingan yang dipakai Mbak Ika pun sangat jelas, dari orang-orang proletariat: tukang parkir, kakak-kakak warung, dan tukang fotokopi. Bisa jadi penjelasan Mbak Ika jadi kepyur ketika menggunakan perbandingan yang tidak sebanding. Untuk menemukan pola pikir seperti ini, kamu perlu banyak belajar. Kalau bisa profesinya interdisipliner sekalian. Jadi pegawai bank sekaligus penulis, misalnya. Kamu yang daftar CPNS aja nggak lulus nggak bakal relate dengan tingginya kebijaksanaan Mbak Ika.

Ada yang nyinyir kalau siapa tahu tukang warung, kakak parkir, dan tukang fotokopi itu jauh lebih bahagia daripada kehidupan Mbak Ika Natassa. Plis deh, Mbak Ika itu salah satu penulis paling laris di Indonesia. Best seller. Novel-novelnya yang judulnya sulit dibaca itu sudah dibikinkan film. Apakah tukang warung dan kakak parkir itu udah nulis buku dan difilmkan?

Tidak ada yang meragukan kualitas buku Divortiare, Twivortiare, Critical Eleven, dan The Architecture of Love. Empat judul ini kalau dijejerkan sudah bisa menandingi Tetralogi Buru karya Pak Pram. Kebahagiaan mana yang kamu dustakan dari terbitnya buku-buku luar biasa tersebut.

Lalu ada yang nyinyir: “Stop mengukur kaki kita dengan sepatu orang lain!”

Lho, Mbak Ika Natassa nggak pernah menyarankan kita minjem sepatu orang buat ngukur kaki kita sendiri, kok. Apalagi nyuruh kamu ghosob sepatu temen. Mbak Ika cuma ngajarin kita ini cara bersyukur. Nggak kurang, nggak lebih. Orang ngasih nasihat kehidupan kok malah dinyinyirin.

Lagian kok ya mau-maunya kakak parkir dan tukang warung itu menjalani kehidupan yang sama selama bertahun-tahun. Orang kok nggak berkembang. Nah, hal-hal kayak gini itu nggak kelihatan dari twit-nya Mbak Ika Natassa. Perlu kebijaksanaan untuk menemukan yang tersirat dari tersurat. Kalau kata Slank: “Lo harus grak!” Gitu aja kok nggak paham.

Jadi klir sudah, ya. Mbak Ika Natassa itu cuma ngebandingin kehidupan orang lain sebagai alat ukur kebahagiaan kita sendiri. Memang susah menjadi orang bijaksana seperti Mbak Ika Natassa. Ngetwit bagus-bagus dikira sedang merendahkan profesi atau kehidupan orang lain.

Iklan

Saya dukung Mbak Ika Natassa jadi duta kakak parkir dan tukang warung. Siapa tahu kehidupan mereka menjadi terangkat dan lebih bahagia seperti Mbak Ika Natassa.

BACA JUGA Orang Kaya yang Ketakutan dengan Hartanya Sendiri atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2019 oleh

Tags: Bahagiahidup bahagiaika natassatukang parkirtwitter
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

parkir jogja dan bali.MOJOK.CO
Ragam

Eksperimen Menghitung Penghasilan Tukang Parkir Kafe Estetik di Jogja: 2 Kali Gaji Karyawan Kafe Itu Sendiri

17 Oktober 2025
Ki Ageng Suryomentaram: Saat Hidup Tenang Itu Lebih Penting daripada Jadi Hebat
Video

Ki Ageng Suryomentaram: Saat Hidup Tenang Itu Lebih Penting daripada Jadi Hebat

22 Juli 2025
Nikmatnya Jadi Tukang Parkir di Jogja, Dapat Cuan Besar (Pixabay)
Pojokan

Iseng Jadi Tukang Parkir di Jogja Saat Pertandingan PSIM Jogja, Kerja Enteng Cuma Beberapa Jam Dapat Cuan lebih dari UMR Buat Jajan dan Beli Rokok Enak

14 Juli 2025
tukang parkir ilehal di jogja.MOJOK.CO
Ragam

Eksperimen Seminggu Jadi Tukang Parkir Ilegal di Jogja, Penghasilannya Bisa Kebeli Apa Aja?

13 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.