MOJOK.CO Mojok Institute merumuskan 5 pertanyaan konyol yang semestinya menjadi soal CPNS ala milenial zaman ‘now’.

Seleksi Kompetensi Dasar soal CPNS menjadi topik paling sengit sekaligus mendebarkan bagi para pejuangnya. Gimana nggak, peserta diberi waktu untuk menjawab banyak soal yang mencakup wawasan kebangsaan, pengetahuan umum, hingga kepribadian. Penetapan passing grade pun menambah warna pro dan kontra tersendiri. Soalnya, banyak yang lantas nggak lulus karena nilainya ada di bawah passing grade, lalu menangis sedih, padahal ada yang lebih sedih, yaitu orang-orang yang bahkan nggak lulus administrasi kayak saya.

Mendengar keluh kesah teman-teman yang mengerjakan soal CPNS, Mojok Institute memunculkan sebuah pemikiran yang aneh, seperti biasanya: kenapa, sih, soal CPNS yang dianggap sulit ini nggak sekalian aja dibuat ‘beneran sulit’ dengan menggunakan…

…pertanyaan konyol???

Ya, ya, ya, Pemirsa. Mojok institute telah meramu setidaknya 5 pertanyaan konyol yang dirasa cukup mampu menjadi alternatif soal CPNS yang lebih dekat dengan kehidupan kita semua. Beberapa di antaranya memang merupakan perwujudan kehidupan saat ini, atau implikasi dari komentar-komentar di Instagram yang seringnya berisi pertanyaan konyol yang—herannya—terus dilestarikan.

Pemberian pertanyaan konyol kepada peserta CPNS ini memiliki tujuan tersendiri, salah satunya adalah mendapatkan PNS yang milenial, terutama dari segi kepribadian.

Ya, benar: memangnya cuma capres dan cawapres aja yang bisa milenial???!!!

1. “Bagaimana balasanmu saat di-chat WhatsApp oleh teman berisi ‘P’ berkali-kali?”

Pilihan jawaban:

a. Balas “Ada apa?” dengan sopan dan khidmat.

b. Balas “Y” dengan sedikit kesal.

c. Meneleponnya, karena kamu merasa temanmu sedang butuh teman bicara dan malas mengetik pesan.

d. Uninstall WhatsApp

e. Aku? Balas? Nggak level lah, yaw!

2. “Andi adalah seorang yang rajin bermalas-malasan. Menurut Anda, apakah Andi termasuk orang yang rajin atau orang yang malas?”

Pilihan jawaban:

a. Andi adalah orang yang rajin karena dia menunjukkan sikap konsistensi.

b. Andi adalah orang yang malas karena kata ‘rajin’ menunjukkan sifat positif, sedangkan kata ‘malas’ adalah negatif. Dalam ilmu matematika, positif bertemu negatif akan menghasilkan negativitas.

c. Andi adalah orang yang tidak terlalu rajin atau malas, tapi ia jelas orang terkenal karena bisa masuk ke soal CPNS.

d. Andi adalah saya.

e. Itu urusan Andi. Ada baiknya kita tidak terlalu ikut campur urusan orang.

3. “Apakah benar Siti Badriah kalau jadi cewek baik-baik akan berubah nama menjadi Siti Goodriah?”

Pilihan jawaban:

a. Saya pernah melihat komentar ini menjadi top comment di akun gosip.

b. Saya pernah melihat komentar ini dan, kalau ada tombol like, saya akan menekannya.

c. Siti Badriah sudah menjadi cewek baik-baik, bahkan kalau namanya Siti Even Worseriah.

d. Siti Badriah sudah menjadi cewek baik-baik, dan rasanya tidak lucu menjadikan nama seseorang sebagai lelucon.

e. Ya, boleh juga. Nilainya 3/10.

4. “Apa pandangan Anda mengenai wortel yang dinilai baik untuk mata karena tidak ada kelinci yang memakai kacamata?”

Pilihan jawaban:

a. Pada dasarnya saya merasa semua makanan memang baik untuk mata selama ia tidak ditusukkan ke mata.

b. Saya tidak percaya karena karakter neneknya Bobo di Majalah Bobo saja memakai kacamata.

c. Pandangan saya lurus ke depan.

d. Saya percaya karena saya memang orangnya gampang percaya sama orang lain, walaupun ujung-ujungnya cuma dimainin, dan ini bukan curhat.

e. Saya percaya, tapi saya rasa analogi di atas adalah analogi yang kekanak-kanakkan.

5. “Perumusan teks proklamasi diadakan di rumah Laksamana Maeda. Menurut buku ‘Sekitar Proklamasi’ yang ditulis Bung Hatta, pertemuan diadakan di hari ke-8 bulan Ramadan. Apa menu makan sahur yang disantap para pejuang kala itu?”

Pilihan jawaban:

a. Roti, telur, dan ikan sarden—tanpa nasi.

b. Nasi goreng, dimasakin sama asisten Laksamana Maeda, karena merupakan makanan praktis yang bisa disantap banyak orang sekaligus.

c. Nggak sahur, karena terlalu asyik merumuskan proklamasi.

d. Nggak sahur karena ketiduran—seperti kita semua.

e. Mi instan, dimakan mentah biar kriuk-kriuk dan simpel.

Pertanyaan terakhir memang bukan pure pertanyaan konyol yang jawabannya asal-asalan. Ia benar-benar terjadi—santap sahur sembari merumuskan teks proklamasi. Ini menunjukkan satu lagi nasihat penting untuk kesehatan kita: meski ada tugas mendekati deadline, urusan perut tidak boleh dilupakan.

Jadi, sudah sarapan pagi ini, kan, mylov?

Loading...



No more articles