MOJOK.COHacker Turki sering bikin repot artis dan orang Indonesia. Kenapa ya? Nggak tau juga, sih. Nah, kalau mau kenalan, berikut beberapa di antaranya.

Tahun lalu, Instagram pribadi saya hampir kena retas. Orang Turki ini, tiba-tiba ngirim DM. Ngaku-ngaku dari orang IG, dia bilang Instagram saya bermasalah dan harus melakukan verifikasi. Link yang orang Turki ini kirim kelihatan aneh betul. Untungnya, saya orangnya curigaan sama orang lain. Sama Pak RT saja saya curigaan, apalagi orang yang nggak kenal.

Setelah tanya sana-sini dan browsing, saya memutuskan untuk maki-maki saja orang Turki itu. Dan ternyata, menggunakan bahasa Inggris yang jauh dari bener, beliau ngetawain saya. Sungguh hacker yang riang jenaka. Gagal berbuat jahat nggak untuk dibawa kesal. Hacker yang sangat Jogja: nrimo ing pandum, padahal saya udah takut kena serangan lanjutan.

Setelah baca-baca, ternyata hacker Turki ini terbilang “rajin”. Banyak banget pula jenisnya. Memang, hacker dari Rusia, China, dan Indonesia keren juga. Namun, saya pikir, tingkat kerajinannnya masih kalah dari hacker Turki. Ternyata, hacker Turki lebih mengilhami peribaha rajin pangkal pandai ketimbang orang Indonesia sendiri.

Usut punya usut, hacker Turki punya banyak jenis. Pertama, hacker Turki yang berideologi komunis, namana RedHack. Komunitas ini bikin anak susah anak Erdogan, Berat Albayrak, ketika disebut punya afiliasi bisnis tidak langsung dengan ISIS. Setelah dibongkar, tuduhan ini dikasihkan ke Wikileaks. Dan saat itu juga, berbagai tuduhan dan kritik dialamatkan juga ke Erdogan.

Baca juga:  5 Peristiwa Politik Paling Wadidaw Sepanjang Tahun 2020

Kedua, hacker yang pro-Pakistan, namanya Ayyildiz Tim. Hacker pro ini pernah meretas akun media sosial Amitabh Bachchan, aktor kawakan India. Ayyildiz Tim mengganti foto profil Twitter Amitabh Bachchan dan menggantinya dengan foto Imran Khan, Perdana Menteri Pakistan.

Ketiga, WMA Club, yang dulu pernah meretas media sosialnya Luna Maya. Selain Luna Maya, ada Ari Lasso, Tantowi Yahya, dan Chika Jessica juga kena sleding hacker Turki. Mereka nggak mengatasnamakan WMA Club, sih. Mungkin saja, mereka pernah ikut pelatihan macam prakerja atau jebolan dari WMA Club juga.

Jangan-jangan yang mau ngerjain IG saya juga dari WMA Club. Pada titik tertentu saya merasa kayak artis. Padahal followers IG nggak nyampai seribu orang.

Tahun 2019 yang lalu, beberapa barang yang masuk top 10 export Turki, antara lain kendaraan, besi, bahan bakar mineral, dan pakaian. Mungkin, pemerintah Turki perlu mempertimbangkan memasukkan hacker ke dalam produk export terbaik. Sudah rajin, militan lagi.

Tentu saja masih banyak hacker Turki yang tergabung dalam kelompok atau bekerja secara lone wolf. Pada titik tertentu, Kedubes Turki perlu merasa prihatin.

Jangan-jangan, saking banyaknya peretasan oleh orang Turki, berbagai macam pengumuman pakai bahasa Turki langsung dianggap hacker. Entar Saltbae promosi buka toko daging di Indonesia malah dianggap mau ngehack. Atau bisa jadi, niatnya mau promosi sinetron Elif season 4 yang menjawab kebenaran kabar perceraian Zeynep dan Selim, malah dianggap phishing.

BACA JUGA Dihack, Di Hack, atau Di-hack: Mana Penulisan yang Benar? Atau tulisan lainnya di rubrik POJOKAN.

Baca juga:  Sebuah Kota, Seorang Sastrawan, dan Iman di Dalamnya