MOJOK.COPak Anies Baswedan katanya “absen” di aksi 22 Mei karena curhat kepada air. Ya nggak papa, dong. Kita semua selalu butuh curhat dan sambat, kok.

Saya sering heran. Terutama ketika banyak orang yang sibuk menyerang dua tokoh favorit saya. Mereka adalah Amien Rais dan Anies Baswedan. Kebetulan, keduanya punya nama berawalan “A”, menandakan orang yang berpikir ke depan. Kamu tahu, terkadang orang dibenci bukan karena bermasalah, tapi karena berpikir lebih maju ketimbang zamannya.

Saya heran, karena banyak yang tidak bisa memahami cara berpikir Ki Amien dan Anies Baswedan, lalu marah-marah. Ini lho, selalu. Nggak mau berusaha untuk tabayyun dulu. Padahal keduanya sudah mencontohkan bahwa tabayyun itu indah dan perlu. Lihat bagaimana Ki Amien tak pernah gegabah mengeluarkan pernyataan dan Pak Anies yang selalu tenang dan santun.

Orang-orang yang berpikir lebih maju dari zamannya memang sulit dipahami. Kita nggak mau tuh susah payah untuk berusaha mengikutinya. Seperti misalnya ketika menyalahkan Pak Anies Baswedan yang “absen” di paruh awal aksi 22 Mei yang lalu. Beliau ini sedang kunjungan kerja ke Jepang. Orang kerja kok masih saja dirundung.

Bukankah dengan bekerja, bekerja, dan bekerja itu sudah mengikuti anjuran Pak Jokowi. Ini menjadi bukti bahwa Pak Anies adalah Gubernur DKI yang paham betul dengan pekerjaannya. Bukan jadi gubernur karena lawannya blunder dan kalah oleh “kekuatan massa”. Bukan, dong.

Pak Anies Baswedan pun sudah mengikuti SOP ketika mengeluarkan pernyataan setelah ontran-ontran aksi 22 Mei pecah. Sebagai Gubernur DKI yang patuh SOP, Pak Anies dengan tegas bilang kalau para pendemo jangan rusuh. Kalau rusuh, para pendemo akan berhadapan dengan “kami”. Itu kata Pak Anies.

Pernyataan itu diudarakan setelah kerusuhan pecah. Terlambat? Ya nggak, dong. Ini namanya langkah strategis. Sebuah usaha untuk meredam aksi 22 Mei menjadi kerusuhan yang berkelanjutan. Sudah seperti pendidikan dasar sembilan tahun. Kamu tahu kebiasaan di film aksi India, bukan? Pak Polisi India itu selalu datang terlambat, tapi dimaafkan. Tak perlu saya jelaskan lebih lanjut, kamu pasti paham kalau Pak Anies itu punya inspirasi yang jelas. Memangnya cuma drama Korea saja yang bisa menginspirasi.

Omong-omong soal kata “kami” yang diutarakan oleh Pak Anies Baswedan setelah kerusuhan aksi 22 Mei reda, bagaimana cara kamu memahaminya?

Baca juga:  Adamas Belva Mundur dari Staf Khusus dan Harus Diapresiasi

Apakah kata tersebut merujuk kepada Pak Anies, jajarannya, dan pihak keamanan? Cuma sebatas itu? Kalau berpikir cuma sebatas itu, artinya kamu memang nggak bisa memahami makna tersirat dari pernyataan mantan menteri pemerintahan Jokowi itu.

Seperti yang saya bilang, Pak Anies Baswedan itu berpikir lebih maju ketimbang zamannya. Ketika aksi 22 Mei sedang panas-panasnya, beliau berkunjung ke pintu air. Apakah beliau sekadar meninjau ketinggian air saja sebagai usaha pencegahan banjir? Oh, kamu salah besar.

Ketika sorotan media sedang gencar-gencarnya karena aksi 22 Mei yang rusuh, Pak Anies memanfaatkannya untuk menebar sebuah “pesan tersembunyi”. Biar kamu semua paham dan nggak marah-marah, Pak Anies ini cuma ingin dipahami. Dipahami bahwa cinta beliau itu dipisahkan secara paksa. Berpisah ketika cinta-cintanya itu berat, Burhan!

Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno itu seperti buka puasa dengan paduan kurma, air putih, dan teh hangat. Sudah cocok, nikmat pula. Kamu ingat perjuangan mereka untuk mengalahkan Ahok yang populer itu? Berat, Bos! Mereka seperti berjuang sendirian. Bagaimana dengan massa 212 kamu bertanya? Loh, mereka kan memperjuangkan agama, bukan jabatan Gubernur DKI. Ini perlu dipahami betul.

Sejak Pak Sandiaga Uno “pergi ketika sayang-sayangnya” untuk mendampingi Pak Prabowo di Pemilu 2019, Pak Anies berjuang sendirian. Solo karier, “jomblo”, dewekan, piyambakan, untuk mengurusi Jakarta yang katanya “panas dan berat” itu.

Kamu pun harusnya tahu kalau Pak Anies dan Pak Sandi itu punya chemistry yang paripurna. Sama-sama masih muda. Visioner. Santun. Coba lihat Pak Sandi dengan Pak Prabowo. Ya masih terlihat kompak sih. Namun, Pak Prabowo sering keteteran mengimbangi kemudaan Pak Sandi. Lawakan Pak Sandi dengan memakai seikat petai di kepala, ATM setipis kertas, dan lain-lain, tidak bisa disambut oleh Pak Prabowo secara jenaka. Lha dipikir melucu itu gampang.

Ketika beban hidup makin berat, manusia butuh orang lain atau “media” untuk curhat. Sebagai politikus yang perlu menjaga citra diri, tidak mungkin Pak Anies curhat begitu saja ke siapa saja. Kalau bikin lagu dan curhat secara terbuka kepada warga, nanti dikira mau mengambil lahan Pak SBY. Kalau mau marah-marah di Youtube, nanti dikira Youtubers. Itu lahan Pak Jokowi dan Jan Ethes. Inilah wujud betapa Pak Anies itu santun dan sangat pengertian.

Baca juga:  Jokowi itu dari Marvel dan Prabowo dari DC, Ini Alasannya

Maka, satu-satunya media untuk curhat adalah kepada “benda favoritnya”, yaitu air! Ya betul, Pak Anies itu sangat suka dengan air. Ahh, siapa sih yang nggak suka dengan air. Lha wong 80 persen tubuh kita tersusun dari air. Buka puasa, yang kali pertama dicari adalah air.

Betapa Pak Anies Baswedan mencintai air

Masih ingat dengan pernyataan Pak Anies soal banjir? Bahwa banjir itu bisa diatasi dengan memasukkan air ke dalam tanah. Ini sungguh brilian! Ketika banyak pemimpin ingin mengatasi banjir dengan normalisasi sungai, mengatasi pendangkalan sungai, mencegah warga membuang sampah ke sungai, reboisasi di hulu, dan lain-lain, Pak Anies Baswedan menawarkan solusi cemerlang!

Masukkan air ke dalam tanah–dan voila!–banjir akan hilang. Ini bentuk pengertian tertinggi Pak Anies kepada air. Jadi, ketika aksi 22 Mei memanas, Pak Anies malah meninjau pintu air, itu adalah bentuk usaha menjaga diri supaya tidak terjadi mental breakdown.

“Hai air, pekerjaan yang begitu berat ini ana kerjakan sendirian. Semenjak Akhi Sandi pergi ketika sayang-sayangnya, ana cuma sendirian. Nggak ada yang mau memahami ana. Udah lama banget sejak Akhi Sandi pergi, itu partai nggak buruan damai dan milih satu nama buat dampingin ana di DKI. Pas rusuh begini aja, ana disuruh ini itu, disarankan macam-macam. Nggak ada yang memahami ana. Sedih akutu.”

Itulah dialog imajiner Pak Anies dengan air keruh di pintu air. Kecintaan Pak Anies juga terlihat ketika beliau membantu pasukan oranye membersihkan sisa-sisa ontran-ontran aksi 22 Mei. Tertangkap kamera, beliau menyirami jalan pakai selang mobil pemadam kebakaran lalu sibuk menyikat jalan supaya bersih.

Saat itu, saya bisa membayangkan betapa bahagianya Pak Anies Baswedan. Bersama air, merasakan kesejukannya, saya doakan semoga hati beliau yang patah bisa sedikit disegarkan. Dan sekali lagi, kalau ada rusuh seperti aksi 22 Mei lagi, jangan marah ketika Pak Anies pergi ke Bundaran HI dan memandang air mancur itu dengan tatapan syahdu.

Itu tatapan orang kangen. Politik milik elite, tapi kangen milik semua orang. I feel you, Pak Anies.