MOJOK.COSelesai sudah aksi 22 Mei. Selesai dengan tenang dan semuanya lega. Namun, tahukah kamu, siapa pemenang sesungguhnya dari ontran-ontran yang terjadi?

Tidak ada yang menang dari kerusuhan yang lahir dari aksi 22 Mei. Kubu Prabowo yang menolak hasil Pemilu 2019 karena banyak kecurangan dimintai pertanggungjawaban atas kericuhan yang terjadi. Narasi panas dan berbagai bentuk provokasi yang dibangun sebelum aksi 22 Mei dianggap menjadi salah satu bahan bakar terjadinya kericuhan.

Bukan hanya kubu Prabowo yang menjadi sasaran telunjuk. Semua politikus, yang berseteru selama lima tahun terakhir ini dianggap punya andil. Jatuhnya korban jiwa, luka-luka, kerugian fisik, kelelahan mental, semuanya berkelindan dan membelit para politikus. Warga, wong cilik yang dibenturkan, yang membersihkan “sampah-sampah” itu juga.

Semuanya terluka, baik fisik, baik hati. Tiada ada pemenang dari sebuah kericuhan yang membenturkan warga negara dan keamanan. Well, namun, setidaknya di aksi 22 Mei yang lalu, kita masih bisa mengingat bahwa ada pemenang dari segala ontran-ontran tidak sehat itu. Sebuah pengingat bahwa orang Indonesia itu tahan banting dan bernyali besar.

Berikut lima kenangan manis yang setidaknya perlu diceritakan berulang-ulang bahwa di tengah aksi 22 Mei ada rasa manis yang tersisa.

1. Majelis zikir membantu Brimob menenangkan massa di aksi 22 Mei.

Sentimen soal agama menjadi salah satu narasi besar yang digaungkan. Selain “melambari” perjuangan, sentiment agama menjadi bahan bakar hoaks yang diserap begitu mudah oleh banyak orang dan menjadi sarana provokasi pihak tertentu.

Salah satunya adalah ketika Amien Rais menyebut bahwa polisi yang menembaki “umat Islam” menggunakan peluru tajam itu punya “bau PKI”. Amien Rais dibuatkan video, di depan pintu sebuah masjid, sambil memegang selongsong peluru, dan dengan suara berat, meminta pertanggungjawaban polisi.

Ketika ditantang balik untuk menunjukkan bukti oleh Polri, Amien Rais buru-buru meralat ucapannya. “Insya Allah yang menembak bukan dari Polri,” kata beliau. Meski berusaha meralat, pernyataan pertama dari beliau sudah sukses menjadi salah satu provokasi dengan corak agama yang melekat ke aksi 22 Mei dan akan selalu diingat.

Hoaks kedua yang dilempar ke publik adalah ketika polisi dituduh menembaki masjid. Narasi ini dianggap sebagai usaha menarik warga yang sebetulnya netral, untuk ikut turun ke jalan, dan melakukan perlawanan. Untungnya, kabar bohong ini bisa diredam seiring waktu.

Baca juga:  Dua Kericuhan yang Melibatkan PDI-P Saat Pendaftaran di KPU

Situasi panas yang bertahan lama itu berhasil didinginkan ketika ratusan orang dari Majelis Zikir Assamawaat Al Maliki berdatangan di kawasan Slipi, Jakarta Barat untuk menenangkan massa yang berunjuk rasa. Jemaat Majelis Zikir Assamawaat Al Maliki membantu warga yang sudah masuk ke dalam gang untuk tak lagi keluar dan demo lagi. Ketika sampai di lokasi, jemaat Majelis Zikir Assamawaat Al Maliki menyalami para personel Brimob di kawasan itu.

Saya rasa inilah kemenangan terbesar dari aksi 22 Mei yang lalu. Ketika sentimen agama dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk “meyerang”, agama pula yang mendinginkan suasana. Kemenangan yang bukan hanya milik umat muslim saja, tapi kemenangan manusia pada umumnya. Bahwa manusia di tengah ontran-ontran, masih bisa menekan emosi dan memikirkan sesama. Bukankah itu esensi agama?

2. Polisi juga manusia yang bisa lelah dan kangen rumah.

Selama aksi 22 Mei, polisi ditekan oleh banyak “sisi”. Kalau melawan dengan keras, mereka yang akan diingat sejarah sebagai pihak yang salah. Kalau diam saja, keselamatan mereka yang terancam. Segala macam provokasi dilemparkan. Segala benda seperti batu hingga petasan dilontarkan ke arah mereka.

Berhadapan dengan ribuan orang dalam durasi panjang, kelelahan melanda. Ketika mendapatkan kesempatan beristirahat, kamera wartawan berhasil mengabadikan sebuah momen yang sungguh manusiawi dari sosok-sosok yang dianggap pilih tanding dan terlatih itu.

Para polisi bergeletakan di jalan, merebahkan badan, meluruskan punggung, memejamkan mata barang sekejap. Mereka saling beradu punggung supaya punya tempat bersandar ketika memejamkan mata. Ada salah satu polisi yang memanfaatkan waktu mengaso untuk video call dengan anaknya. Pilih tanding milik prajurit, tapi kangen adalah milik semua manusia.

Masih bisa merasa kangen adalah anugerah. Karena ada seseorang di rumah yang menunggu kepulangan para polisi dan peserta aksi 22 Mei tentu saja. Ketika massa aksi 22 Mei akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri, kelegaan itu terekam dengan jelas.

Para polisi bernyanyi “terima kasih” untuk para peserta aksi 22 Mei yang sudah “meramaikan” Jakarta selama beberapa hari ini. Terima kasih, karena mau membubarkan diri dengan tertib dan pada akhirnya, mereka bisa pulang untuk memeluk anak, istri, dan keluarga secara langsung dan luka fisik dan batin.

Itulah kemenangan terbesar, ketika manusia mau mengalah, mundur dari gelanggang. Mundur tak selalu kalah, karena pada akhirnya memberikan kebahagiaan untuk sesama. Semua agama punya pesan yang sama, bukan?

Baca juga:  Begini Kalau Nomor Urut Capres Prabowo 1, Jokowi 2, dan Sebaliknya

3,4, dan 5: Pemenang dari aksi 22 Mei adalah para pemberani: bakul kopi, penjaja sepatu, dan pengusaha WC umum.

Masih ingat peristiwa bom Thamrin tahun 2016? Ada enam ledakan, termasuk tembak-tembakan antara polisi dan teroris. Ketika Jalan Thamrin menjadi lengang karena ditutup dan warga disarankan menjauh, beberapa orang pemberani tetap menembus daerah berbahaya itu.

Mereka adalah penjaja sate dan bakul kopi. Seperti tak takut dengan ledakan bom selanjutnya, mereka tetap berdagang. Dan hebatnya, ada yang membeli. Sudah seperti adegan shooting film Warkop DKI zaman dulu ketika warga yang disarankan menjauh, malah berjejer di trotoar untuk menonton.

Kericuhan aksi 22 Mei pun sama saja. Bakul kopi terekam kamera hape sedang bermanuver menembus barisan Baracuda dan tameng polisi. Kopi memang pilihan bijak ketika suasana sedang tegang. Ditemani sebatang kretek, bisa jadi teman berbuka puasa yang ciamik. Bakul kopi tahu betul dan ia wirausaha yang sungguh pemberani.

Kali ini penjaja sate digantikan oleh penjaja sepatu. David Lipson, koresponden ABC Australia menggungah sebuah foto yang menggelitik. Dengan latar belakang para peserta aksi 22 Mei, ada seorang bapak yang menggelar lapak jualan sepatu.

Si penjual seperti tak peduli dengan peserta demo yang lalu-lalang. Ia mematok harga Rp100 ribu untuk satu pasang sepatu KW. “Mister! Only 100 thousand,” kata si penjaja sepatu. Mungkin, si penjaja sepatu ini lebih takut pulang nggak bawa duit dan dilabrak istri ketimbang dengan para peserta aksi 22 Mei.

Selain bakul kopi dan penjaja sepatu, pemenang dari ontran-ontran aksi 22 Mei adalah pengusaha WC umum. Beberapa hari yang lalu, koordinator aksi 22 Mei minta tolong disediakan WC umum supaya peserta aksi bisa pipis, boker, atau wudu untuk salat.

Ada yang merespons permintaan itu dengan membuka “lapak WC umum”. Tahukah kamu, dalam satu hari, ia memetik keuntungan sebanyak tiga juta rupiah! Kalau demo sudah digelar sejak 20 Mei, maka si pengsaha WC umum sudah mengumpulkan sembilan juta rupiah! Amplop Lebaran aman, Bos!

Inilah pemenang sebenarnya. Mereka yang berani “menantang” nasib dan bertahan hidup. Dibawa santai saja, yang penting dapur ngebul.



Loading...



No more articles