• 11
    Shares

MOJOK.CO – Pilkada serentak Rabu 27 Juni 2018 ditetapkan sebagai hari libur nasional. Nuansa piknik dimanfaatkan dengan munculnya beragam diskon, yang tidak kreatif.

Merayakan pesta demokrasi itu banyak caranya. Yang paling penting adalah kamu yang punya hak suara untuk bergegas menuju TPS. Untuk apa? Selain nyoblos, misi mencoblos adalah pamer via media sosial. Nunjukin jari kelingking yang belepotan tinta, sebagai bukti sudah menggunakan hak pilihnya. Mesem dikit, nunjukin jari kena tinta, lalu cekrek, unggah. Ndeso.

Cara kedua untuk merayakan pesta demokrasi Pilkada serentak adalah dengan liburan. Kebetulan, beberapa hari yang lalu pemerintah menetapkan Rabu 27 Juni 2018 sebagai hari libur nasional. Sayangnya, Pilkada serentak tahun ini kurang peka.

Mbok ya besok-besok lagi kalau mau Pilkada ditentukan hari Kamis saja. Jadi, setelah nyoblos, bisa mudik lagi (kalau Pilkada digelar setelah libur Lebaran) karena long weekend. Pemerintah memang tidak peka dengan kebutuhan vakansi para PNS. Kalau pekerja kreatif macam redaktur Mojok sih ya enggak butuh libur. Kami pekerja yang tangguh.

Cara ketiga? Dengan belanja! Libur Pilkada serentak dimanfaatkan banyak tempat perbelanjaan, rumah makan, dan tempat ngopi dengan memasang diskon variatif untuk menarik konsumen. Habis nyoblos, ngopi, sambil ngrasani orang. Sungguh libur yang berfaedah.

Untuk menikmati diskon Pilkada serentak, kamu tinggal menunjukkan jari berlumuran tinta kepada kasir atau pramusaji. Salah satu gerai minum kopi yang menawarkan diskon, misalnya, adalah Coffee Toffee. Kamu yang sudah menggunakan hak pilih bisa “menukarkan” bukti jari bertinta dengan segelas long black. Promo ini hanya berlaku di Jakarta, Depok, Bogor, Surabaya, dan Malang.

Selain gerai minum kopi, beberapa tempat hiburan juga menyediakan promo diskon Pilkada serentak. Misalnya, setelah mencoblos, Anda tinggal menunjukkan jari yang dicelup tinta. Bukti itu sudah cukup untuk bisa menikmati wahana di Snow Bay dengan biaya 69 ribu per orang.

Selain Snow Bay, Atlantis juga menawarkan diskon Pilkada serentak bagi Anda yang berKTP Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Diskon yang diberikan antara lain potongan harga tiket normal 175 ribu menjadi 85 ribu saja.

Baca juga:  Tinta di Pilkada Serentak Tahan Lama Bagai Lip Tint Korea

Nah, ini bisa menjadi masalah bagi pemilih yang sudah didata untuk menerima KTP-E sejak lama sekali tapi belum jadi-jadi juga dan mungkin sudah dianggap imigran gelap. Piknik ke wahana? Lha mau nyoblos saja belum bisa karena KTP-E yang tiada kunjung jadi.

Nah, itulah tiga cara menikmati libur pesta demokrasi. Namun, taukah kamu kalau cara-cara itu sungguh tidak kreatif. Maksudnya, semua libur (terutama yang libur panjang) di Indonesia pasti membuat banyak gerai makanan, minuman, mall, tempat piknik seiya sekata untuk menawarkan diskon besar-besaran.

Lha itu Ramayana di Jalan Margomulyo Yogyakarta Kawasan Maliobro ada diskon sepanjang hari sepanjang tahun. Sampai-sampai kalau ada promo, para pegawainya disuruh kampanye naik motor bebek membawa poster yang dipasang di punggung. Kalau enggak salah, ada juga yang sampai membawa bendera waktu kampanye. Ini kalau Ramayana lolos presidential threshold dan punya koalisi paten pasti bakal mencalonkan wakilnya sebagai presiden atau wakil presiden.

Oleh sebab itu, Mojok Institute memahami betul keresahan kurangnya kreativitas di negara tercinta ini. Untuk urusan “diskon” di Pilkada serentak, Mojok Institute mengajukan beberapa alternatif. Simak dengan teliti ya.

1. Beasiswa LPDP bagi pencoblos atau keluarganya.

Beberapa hari yang lalu sempat ramai tagar #ShitLPDPAwardeesSay. Intinya, banyak pemenang beasiswa LPDP dan berkuliah di luar negeri yang justru berubah menjadi manusia-manusia menyebalkan. Mereka sering membandingkan kenyamanan negara lain dengan “kenyamanan” di negeri sendiri. Berbagai kalimat sindiran pun bermunculan. Misalnya:

@profatitties: “Dulu gue pas di manchester punya tray khusus buat bikin teh. Tiap pagi nyeduh english breakfast sambil chill” #ShitLPDPAwardeesSay

@yanimbrung: “Disini tuh tertib banget, apa-apa ngantri, bersiiiih banget kotanya.” #ShitLPDPAwardeesSay

@efanferd: “Masa baru segini aja kedinginan. Dulu gw 18°c cuma kaosan.” #ShitLPDPAwardeesSay

@dimas_satyo: Pulang-pulang kosakata campuran “which is”, “basically”, “lebih prefer” #ShitLPDPAwardeesSay

Sebenarnya, inti semua ini adalah niat untuk pamer saja. Mereka merasa bangga bisa menyandang status “Part-time student, fulltime traveler”. Inilah, Inilah. Pemerintah Indonesia perlu peka dan peduli. Banyak orang yang ingin pamer status serupa karena mereka yang nyinyirin tagar #ShitLPDPAwardeesSay sebenarnya juga ingin kuliah di luar negeri. Mereka-mereka ini bukan kurang kaya, masih kuat untuk bayar kuliah di luar negeri. Sayangnya, mereka hanya kurang pintar saja, alias guoblok.

Baca juga:  Jangan Terlalu Baper Kalau Pak Bupati Korupsi

Bagi mereka yang sudah nyoblos di Pilkada serentak dan berusia matang, pemerintah bisa menyalurkan ke kampus-kampus di luar negeri. Atau jika sudah terlalu tua, silakan ajukan salah satu anggota keluarganya. Jadi, untuk 10 atau 20 tahun ke depan, makin banyak orang suka pamer di Indonesia. Indah betul.

2. Tiket pulang dan pergi ke Rusia untuk nonton Piala Dunia 2018.

Mumpung Pilkada serentak ini berbarengan dengan hajatan Piala Dunia 2018, pemerintah bisa menyediakan “diskon” bagi para pencoblos. Diskon bisa berupa tiket pulang dan pergi atau tiket masuk ke stadion beserta akomodasinya. Tentu, harus dilakukan seleksi ketat karena jumlah penerima “diskon” ini akan membludak.

Bagaimana seleksi yang ideal untuk diskon ini? Ha silakan pemerintah pikirkan sendiri. Masak apa-apa harus Mojok yang memikirkan. Kami sudah suntuk dengan real time trefik kunjungan yang hanya puluhan ribu per detik ini.

3. Subsidi bibit pohon dan ikan air tawar.

Mencoblos ketika Pilkada serentak bisa menjadi pekerjaan yang berat, terutama bagi mereka yang jauh dari tempat asal dan mereka yang malas karena merasa suara mereka hanya dibutuhkan ketika coblosan untuk kemudian dilupakan ketika si calon sudah berkuasa.

Oleh sebab itu, sebagai bentuk iming-iming supaya mereka-mereka ini mau mudik dan tidak malan mencoblos, pemerintah sebaiknya menyediakan bibit pohon dan bibit ikan air tawar. Bibit pohon yang cocok untuk investasi ada banyak. Mulai dari pohon jati, sengon, hingga pohon cabai. Ikan air tawar? Bisa pilih antara lele, nila, atau arapaima.

Jadi, pulang dari bilik coblosan, kamu akan berubah menjadi manusia baru yang tercerahkan. Dari pengangguran menjadi seorang peternak. Calon peternak ikan lele yang sukses.

Itulah tiga alternatif dari tim Mojok Institute. Saya tutup tulisan ini dengan pantun. Heeem…tapi enggak jadi. Takut enggak lucu dan digruduk followers Mojok yang galak-galak betul.

  • 11
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles