MOJOK.COAurel, KD, Atta Halilintar, Anang, dan Ashanty biasa aja soal sungkeman. Eh, netizen terhormat yang malah sibuk mengoreksi.

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi dan Pak Prabowo setelah sukses menjadi saksi pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Hebat. Dua orang hebat ini nggak kena kritik dari warga Indonesia. Bisa begitu ya? Sungguh seluruh rakyat Indonesia mencintai keduanya. Love you both, deh.

Memang, keduanya adalah sosok yang pilih tanding. Semuanya bisa memaklumi begitu ya. Termasuk para penegak hukum….

Ketika rakyat biasa menggelar resepsi, petugas keamanan muncul dari sudut yang tak terduga untuk membubarkan. Namun, untung saja, pernikahan Atta dan Aurel, yang juga “rakyat biasa”, aman dari sentuhan pembubaran.

Coba bayangkan kalau Satpol PP tiba-tiba datang. Duh, bisa-bisa Pak Jokowi dan Pak Prabowo kena hukuman. Gimana jadinya kalau pernikahan Atta disatroni Satpol PP dan dia disuruh buka bandana.

Lagian, kenapa, sih Atta suka pakai bandana? Mau nutupin mata ketiga di tengah dahi? Ada peta menuju Atlantis di jidat Atta? Ada jawaban akan keangkeran segitiga bermuda? Sungguh sebuah misteri.

Yah, terlepas dari semua kontroversi dan hal-hal misteri di jidat Atta Halilintar, sekali lagi, saya mengucapkan selamat. Nah, hal kedua yang ingin saya curahkan lewat tulisan ini adalah sebuah keprihatinan. Bukan, bukan kepada Pak Jokowi yang mau jadi saksi pernikahan, tapi keprihatinan kepada netizen yang terhormat.

Pasalnya, netizen ini sudah kebangetan, deh, ketika menyikapi Aurel Hermansyah yang nggak sungkem ke Bu Krisdayanti (KD). Banyak SJW budaya Jawa yang tiba-tiba muncul lalu berceramah. Bahkan beberapa mengecam karena Aurel udah kurang ajar. Sungkeman kok ke Ashanty, ibu sambung, bukan ke KD, ibu kandung.

“Menurut budaya Jawa….”

“Kalau di Jawa tuh harusnya….”

“Nggak bener tuh Aurel. Katanya budaya Jawa, tapi kok….”

Ada yang menyerang Aurel, tentu saja ada yang membela. Akun Twitter @Araghutama mengemukakan komentarnya. Komentar yang pedes banget, tapi kok ya ada benarnya. Beli bilang begini:

“Gw kalo jadi Aurel: Jowa Jawa ke mana aja nih filosofi jawa saat gw diusir dr rumah&tinggal di ruko? Mana nih filosofi jawa saat cowok asing main ke rumah tidur sama mak gw? Ga ada. Filosofi jawa muncul saat hari istimewa gw&gw kudu ini dan itu for the sake “Javanesse Wisdom”.”

Memikirkan “luka batin” Aurel

Banyak dari kita yang melihat Aurel sebagai anaknya Anang, orang kaya, seniman, pengusaha. Menikah dengan Atta, juga orang kaya. Dengan status itu, Aurel dipandang sebagai sosok yang hidupnya kayak dibungkus bubble wrap, nggak pernah lecet kena “luka batin” apalagi kekurangan dalam hal ekonomi.

Namun, apakah kita pernah duduk barang sebentar dan memikirkan masa kanak Aurel yang penuh kejadian menyebalkan? Dia melihat ibu kandungnya selingkuh. Orang asing masuk ke rumahnya ketika bapaknya sedang pergi. Terusir ke sebuah ruko sebagai rumah tinggal. Yang sudah dilewati Aurel tak semudah lontaran air liur netizen terhormat yang menyembur ketika nyinyir.

Pada titik ini, saya bisa maklum kalau Aurel hanya ingin sungkem ke Ashanty dan Anang saja. Status Ashanty sebagai ibu sambung bukan penghalang. Tetapi kasih dan perhatian yang tercurah yang (mungkin) lebih membekas di sanubari Aurel.

Itu kalau dari sisi gejolak hati Aurel. Bagaimana dengan sisi Jawa yang konon dipermasalahkan netizen terhormat?

Sungkeman, dalam adat Jawa, setidaknya punya tiga makna. Pertama, wujud rasa hormat kepada orang tua. Kedua, wujud kerendahan hati dan penegasan bahwa meski sudah diikat janji pernikahan, anak dan orang tua tak akan terpisah. Ketiga, wujud ungkapan terima kasih kepada orang tua sekaligus menghaturkan izin, meminta restu untuk membangun rumah tangganya sendiri.

Dari tiga makna di atas, tidak ada penegasan kata “kandung” di sana. Yang ada adalah wujud bakti, ikatan, dan restu dari orang tua kepada anak. Jadi, apakah salah jika Aurel memilih sungkem kepada Ashanty alih-alih KD? Ya enggak, dong.

Satu hal lagi yang netizen terhormat perlu memahami. Ketika Aurel dan Atta duduk di pelaminan, Ashanty mengajak KD untuk mendampingi pasangan pengantin. Namun, KD menolak dengan halus dan memilih mingle dengan tamu yang datang. Kamu bisa menemukan penjelasan akan kejadian ini di banyak media.

Mungkin KD merasa Ashanty lebih pantas mendampingi Aural dan Atta. Mulai dari siraman, sungkeman, hingga di pelaminan. Sikap KD, terlepas dari segala kontroversi yang terjadi, patut mendapat apresiasi. Sebagai ibu kandung, dia mengedepankan kebahagiaan dan perasaan anak. Inilah budaya Jawa itu. Andhap asor dan tepa selira.

Lagian, sudah sejak lama Anang mengajarkan kedua anaknya dari KD untuk tidak membenci KD dan Bapak Raul Lemos. Ketika Lebaran pun, Aurel dan Azriel berkunjung ke KD untuk sungkeman. Netizen sudah lupa?

Pada akhirnya, Anang sebagai ayah dan Atta sebagai suami tidak pernah mempermasalahkan kepada siapa Aurel sungkem. Padahal, keduanya bisa mencegah Aurel sungkem ke Ashanty. KD dan Ashanty sendiri juga biasa saja. Netizen yang malah panik dan bawa-bawa Javanese wisdom.

Padahal Javanese wisdom bukan soal sungkeman saja, tapi nrimo ing pandum dan UMR rendah. Ehh….

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Tafsir Sampul Jokowi dan Hidung Pinokio di Majalah Tempo Menurut Para Visual Artist