• 16
    Shares

MOJOK.COWaspadai alergi obat. Alergi ini rentan terpicu karena kamu lengah dan tidak waspada karena sakit. Temui dokter ketika alergi semakin parah.

Saya sebal betul ketika mau ikut acara Malam Keakraban atau menginap bersama-sama ketika kuliah dulu. Salah satu pernyataan yang dilontarkan oleh panitia adalah, “Siapa yang punya alergi makanan?”

Tentu saja saya harus mengacungkan jari lalu menjawab, “Saya. Saya alergi udang.” Begitu saya menjawab begitu, teman-teman akan melirik saya dengan tatapan kecewa. Saya paham begitu kok kalau udang itu enak. Udang, diolah untuk pelengkap nasi goreng, sup, semur, digoreng tepung lalu dicocol sambal, dimasak garang asem, hingga dibakar itu oke semua.

Toh saya pernah mencobanya. Lho, bukankah saya punya alergi udang? Ya betul, saya alergi kalau makan hewan air itu. Tapi, lidah dan hidung saya terkadang lebih berkuasa ketimbang akal sehat. Maka jadilah, bentol-bentol, gatal, panas menyengat di leher itu muncul beriringan. Kalau tidak segera ditangani, deman dan badan lemas akan datang belakangan.

Nah, selain alergi makanan, satu lagi alergi yang tidak boleh kamu remehkan adalah alergi obat. Ini jauh lebih menyebalkan karena alergi obat bakal datang ketika lengah dan lemah. Orang akan jauh lebih mengingat alergi makanan ketimbang alergi obat. Kenapa bisa begitu?

Saya mau cerita saja. Beberapa malam yang lalu, saya terbangun dengan gigi ngilu. Obat yang saya beli teringgal di kantor. Ketika mengaduk-aduk kotak obat di rumah, saya menemukan mefinal. Membaca keterangan lewat mesin pencari, saya menemukan kalau mefinal bisa meredakan nyeri, salah satunya karena sakit gigi.

Tanpa pikir panjang, saya tenggak obat berwarna merah jambu itu. Beberapa menit kemudian sakit gigi betul-betul hilang dan saya bisa makan dengan lahap. Tengah malam makan? Iya-iya, bisa bikin gemuk. Namun, tahukah kamu, makan tengah malam adalah “obat tidur” yang ampuh. Lebih sehat ketimbang obat tidur kimiawi yang kamu beli di apotek.

Baca juga:  Emang Benar Ya Orang Gila Tak Bisa Sakit?

Beberapa jam kemudian, saya terbangun lagi dengan gatal dan panas terasa di leher. Saya kira leher saya dicipok oleh serangga. Ternyata, muncul bentolan yang cukup besar di sana. Panik, saya raba seluruh leher dan wajah. Ternyata bentol, ruam, dan rasa yang panas itu juga terasa di wajah, terutama di sekitar mata. Alergi obat! Sontak saya berteriak di dalam hati.

Sampai pagi saya tidak bisa tidur lagi. Setelah saya baca keterangan di bungkus obat, ternyata mefinal mengandung yang namanya asam mefenamat. Nah, selain alergi udang, saya juga alergo obat yang mengandung asam mefenamat. Bahkan, jika makan atau minum sesuatu yang terlalu asam, leher saya langsung gatal-gatal, meskipun tidak separah kalau mengonsumsi asam mefenamat.

Gatal, ruam, panas, dan badan lemas itu bertahan hingga dua hari kemudian. Obat berupa salep dan pereda alergi saya minum secara rutin. Satu hal yang saya ingat betul, adalah penting bagi kamu semua untuk mengingat–mencatat kalau perlu–perihal alergi obat. Ketika sakit dan panik, kita cenderung lengah dan tidak waspada. Demi cepat sembuh, asal ada obat, bakal langsung kamu tenggak tanpa membaca peringatan dan efek sampingnya.

Nah, sebetulnya, alergi obat itu apa, sih? Alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap suatu obat. Muncul karena sistem kekebalan tubuh menganggap zat tertentu dalam obat sebagai substansi yang membahayakan tubuh. Kondisi ini berbeda dengan efek samping obat yang biasanya tercantum pada kemasan, maupun keracunan obat akibat kelebihan dosis.

Baca juga:  Suara Ketawa Misterius Saat Lembur Stock Opname di Apotek

Reaksi alergi obat muncul secara bertahap seiring sistem kekebalan tubuh yang membangun antibodi. Pada tahap penggunaan pertama, sistem kekebalan tubuh akan menilai obat sebagai substansi berbahaya. Pada penggunaan berikutnya, antibodi mendeteksi dan menyerang substansi obat. Proses inilah yang bisa memicu gejala alergi.

Sebagian besar alergi obat memiliki gejala yang ringan dan reda dalam beberapa hari setelah penggunaan obat dihentikan. Gejala alergi obat antara lain, ruam, gatal, hidung beringus, batuk-batuk, demam, sesak napas, mata berair, dan pembengkakan. Celakanya, gejala yang muncul di saya adalah gatal dan pembengkakan. Muka sudah seperti dijotos beberapa orang, membengkak!

Penanganan alergi ini adalah dengan berhenti mengonsumsi obat yang menyebabkan alergi. Konsumsi antihistamin mungkin disarankan untuk menghambat reaksi sistem imun yang diaktifkan oleh tubuh saat terjadi reaksi alergi. Sementara itu, kortikosteroid dapat digunakan untuk mengatasi peradangan akibat reaksi alergi yang lebih serius.

Bagi yang pernah alergi berat, dokter biasanya akan meresepkan suntikan epinefrin. Bagi penderita dengan riwayat alergi yang berat, sediakan selalu epipen, yaitu epinefrin dalam bentuk suntikan sekali pakai. Kalau sudah parah, sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit agar bisa mendapatkan bantuan pernapasan dan penstabilan tekanan darah.

Nah, untuk tahu kamu alergi apa, jangan coba-coba berbagai obat ya. Selalu konsultasikan dengan dokter.

Percaya saya, alergi obat itu menyebalkan sekali. Kamu jadi malas keluar rumah, tidak bisa bekerja karena lemas. Sebuah perasaan yang sama persis ketika tanggal tua menjelang. Menipisnya uang di dompet dan ATM itu ampuh mengurangi semangat untuk ngapa-ngapain. Orang menyebutnya sebagai “alergi tanggal tua”.

  • 16
    Shares


Loading...



No more articles