MOJOK.CODensus 88 memang piawai menyamar jadi akamsi yang rajin mabar Mobile Legends dan main voli. Tapi jangan salah, aksi polisi menyamar nggak kalah jago dari datasemen anti-teror itu.

Kemarin Mojok sudah mengulas cara Densus 88 menyamar ketika mengintai teroris. Salah satunya yang terjadi di Semper Barat, Jakarta Utara. Warga dibuat gempar ketika mendapati salah satu warganya ternyata anggota Densus 88. Semakin heboh ketika anggota Densus 88 itu kerjanya mabar Mobile Legends bareng akamsi!

Anggota Densus 88 yang bernama Iron (nggak tahu ya apakah ini nama aslinya, kayaknya sih enggak. Biasanya polisi yang menyamar kan nggak mungkin pakai nama asli) ini anaknya sangat ramah. Bahkan sering ikut voli sama anak-anak kampung. Benar-benar men sana in corpore Mobile Legends. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa Mobile Legends yang kuat.

Densus 88 memang total banget ketika nyamar. Mereka nggak main-main ketika ngintai teroris. Desa Suradita, Cisauk, Tangerang pada 2016 silam. Di saat yang lain cuma modal main Mobile Legends, main voli, jadi pemancing, sampai jadi tukang permak jeans, intelijen Densus 88 di Cisauk ini menyamar jadi warga yang membangun pos ronda di dekat rumah terduga teroris.

Bisa kamu bayangkan, kesulitan cari spot yang enak buat mengintai, Densus 88 bikin pos ronda sekalian buat scouting! Yang bikin geli adalah ketika warga nggak curiga ada pendatang tiba-tiba bikin pos ronda. Ini Pak RT setempat pragmatis banget. Lumayan, kas kampung aman dari program bikin pos ronda.

Namun, bukan hanya Densus 88 yang jago menyamar. Polisi pun juga sama jagonya. Polisi menyamar juga niat betul, bahkan sangat detail.

Juli 2019 yang lalu, salah satu anggota Polsek Medan Timur menyamar menjadi ibu-ibu naik motor matik, lengkap dengan daster, jilbab, dan masker. Detail penyamaran sangat diperhatikan. Misalnya dengan tidak pakai helm. Ibu-ibu berjilbab, pakai daster, naik matik, nggak pakai helm. Penasaran nih, anggota polsek yang lagi nyamar itu kalau sein kiri malah belok kanan nggak ya. Biar menjiwai gitu lho.

Baca juga:  Sikap AKBP M Yusuf yang Tendang Ibu-Ibu, Apakah Mengayomi Masyarakat?

Nggak cuma hidup kamu yang kelar kalau ketemu “mamak jadi-jadian” begini, tapi petualangan para begal juga. Anggota polsek yang sejatinya laki-laki itu berhasil membekuk begal. Nggak cuma satu, tapi tiga sekaligus! Kalau ini ibu-ibu berdaster naik motor matik beneran, nggak cuma tiga yang ketangkap, bisa jadi malah sepasukan begal kegulung semua.

Selain menjiwai bahayanya peran ibu-ibu berdaster naik matik nggak pakai helm, pernah kejadian juga polisi menyamar menjadi emak-emak lagi belanja ke pasar pakai sarung motif kain bali.

Kejadiannya 2016 yang lalu, di Palembang. Polisi laki-laki itu menyamar jadi emak-emak untuk mengintai pencopet yang banyak beredar di pasar-pasar! Ketika copet beraksi, si bapak polisi yang jadi emak-emak ini langsung menerjang. Dibantu satu orang, dia membekuk si copet. Ketika si copet berusaha memberontak, warga membantu bawain tali buat ngiket copet ke pohon!

Kerja sama yang bagus antara polisi menyamar dengan warga!

Aksi polisi menyamar memang harus memperhatikan detail. Salah satunya pada Juni 2019 ketika seorang anggota polisi menyamar jadi patung polisi! Aksi yang dilakukan di Bawah Layang Waru, Sidoarjo ini sukses besar.

Selama tiga hari ketika ada “patung polisi”, para pengendara tertib berkendara. Namun, ketika tahu (mengira) kalau itu “cuma patung”, pengendara roda dua kembali melakukan pelanggaran. Ketika pengendara itu melakukan pelanggaran, “patung polisi” itu tiba-tiba bergerak dan bikin kaget pengendara. Untung nggak ada pengendara yang kagetan. Sudah dapat tilang, perlu ke rumah sakit lagi.

Baca juga:  Vonis Mati Aman Abdurrahman dan Ajakan Gerakan Cuek di Media Sosial yang Bukan Satire

Coba kamu bayangkan, selama tiga hari polisi menyamar menjadi patung. Dari pagi sampai malam. Gimana kalau si polisi ini pengin kencing? Gimana kalau tiba-tiba ada anjing lewat dan mengencingi “patung” untuk menandai wilayah kekuasaannya? Ahh, pertanyaan-pertanyaan yang sebaiknya saya simpan sendiri.

Kisah polisi menyamar sebetulnya juga dekat dengan kehidupan saya sendiri. Bapak saya, ketika masih aktif sebagai polisi reserse, pernah menyamar menjadi penjudi sabung ayam di sebuah daerah di Jawa Tengah.

Dia datang ke tempat sabung ayam mengenakan pakaian lusuh ala bapak-bapak suka judi recehan yang sudah tiga hari nggak pulang. Dia pakai kemeja yang dua kancing atas sengaja dilepas. Pakai minyak wangi yang kalau kecium malah bikin pingin bersin. Pakai celana kain yang udah hampir luntur warnanya. Tidak lupa, bapak saya bawa duit yang sengaja dibikin lecek.

Ketika tengah mengamati dan mengumpulkan bukti, tiba-tiba grebekan terjadi. Padahal, bapak saya merasa belum laporan. Ternyata, hari itu, ada juga polisi menyamar menjadi penjudi di tempat yang sama. Alhasil, bapak saya ikut kegaruk, diangku mobil “bakul kursi” khas polisi. Lantaran sengaja tidak membawa tanda pengenal, bapak saya pasrah digelandang ke polsek.

Bapak saya diciduk bersama dua teman lamanya–penjudi orisinal, sudah menekuni judi sabung ayam sejak lama–yang tidak tahu kalau bapak saya polisi. Tentu saja sesampainya di polsek, bapak saya bisa selamat nggak masuk sel. Dua teman bapak saya takut setengah mati. Salah satunya sampai ngompol ketika akan dilepas esok paginya.

Sudah malu masuk sel, ketahuan ngompol. Malunya dobel.

BACA JUGA Cara Densus 88 Menyamar Vs Cara Teroris Menyamar atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles