MOJOK.COVirus Corona sukses membuka sisi kelam sepak bola. Mulai dari laga-laga Juventus yang ditunda, hitamnya manajemen PS Sleman, dan kita semua yang abai dengan sesama.

Kantor berita Italia, ANSA, merilis sebuah kabar yang sebetulnya sudah diperkirakan akan terjadi. Pemerintah Italia akan melarang semua aktivitas olahraga (kompetisi) selama satu bulan karena virus corona. Kabar ini muncul tidak lama setelah otoritas Serie A memutuskan untuk menunda laga Coppa Italia antara Juventus vs AC Milan.

Masih dikabarkan oleh ANSA, di Italia, sudah terjadi 27 kasus kematian karena virus corona dalam rentang 24 jam. Di Italia sendiri kasus virus corona sudah mencapai 2.263 kasus positif. Dalam satu hari saja meningkat hingga 428 kasus yang positif. Demi mengurangi risiko tertular karena pengumpulan massa dalam jumlah besar, aktivitas olahraga akan dibekukan sementara.

Italia sendiri menjadi seperti episentrum virus corona di Eropa. Sebuah kenyataan yang membuat hampir semua badan liga mengambil langkah aman. Salvador Illa, Menteri Kesehatan Spanyol, misalnya, meminta semua klub Italia bermain dengan kondisi tanpa penonton selama outbreak  virus corona di Eropa belum mereda.

Permintaan ini berkaitan dengan laga susulan antara Valencia vs Atalanta, Barcelona vs Napoli, Sevilla vs Roma, dan Getafe vs Inter di ajang Liga Champions dan Liga Europa. Apalagi beberapa hari sebelumnya, Juventus meliburkan latihan setelah kelas U23 mereka bermain melawan sebuah klub Serie C di mana ketiga pemainnya positif virus corona.

Kisruh di sekitar Juventus

Virus corona, pada titik tertentu, berhasil menguak sisi kelam sepak bola itu sendiri. Terutama ketika berkaitan dengan uang dalam jumlah besar yang beredar di antara pertandingan. Presiden Inter, Steven Zhang ngamuk setelah otoritas Serie A tidak konsisten terkait laga Juventus vs Inter. Amukan itu ditujukan untuk Paolo Dal Pino, petinggi Serie A.

Steven Zhang mengkritik keras sikap Dal Pino yang sebelumnya enggan memutuskan pembatalan laga Juventus vs Inter karena alasan kesehatan. Paling tidak, laga tersebut harusnya berjalan tanpa penonton. Namun, Dal Pino sempat memutuskan bahwa laga tersebut hanya boleh ditonton oleh fans Juventus atau masyarakat sekitar stadion saja.

Masalahnya adalah keputusan itu tidak tegas diputuskan. Dal Pino memutuskan stadion hanya dibuka untuk suporter Juventus. Pagi harinya, stadion diputuskan tertutup. Malam harinya, kembali ke keputusan awal. Ujungnya, laga tersebut diputuskan ditunda. Menyusul kemudian Juventus vs AC Milan di Coppa Italia yang juga batal.

Ketika kesehatan dan keamanan publik yang menjadi taruhan, sepak bola tidak ada harganya. Apakah uang dalam jumlah besar dari tiket dan hak siar televisi masih punya makna ketika satu saja fans meninggal karena menonton pertandingan secara langsung?

Baca juga:  Logika Program Kartu Prakerja: Kalau Bisa Bayar, Kenapa Harus Gratis?

Sepak bola adalah makhluk raksasa. Dia punya magnet luar biasa. Namun, sebesar apapun sepak bola, dia harus bertekuk lutut di hadapan kemanusiaan. Tidak bisa ditawar. Nyawa manusia tidak bisa diberi price tag, apalagi hanya gugur untuk sepak bola. Sepak bola yang mengesampingkan kemanusiaan dan akal sehat adalah sepak bola yang terasing.

Saya tidak tahu sentimen apa yang dimiliki Dal Pino kepada Juventus dan para rival. Untuk masalah ini, saya berdiri di belakang Presiden Inter, Steven Zhang, untuk mengatai Dal Pino seorang badut dan tidak punya malu karena tidak memikirkan kesehatan orang banyak.

Virus corona akan membunuh ribuan orang. Tetapi, ratusan ribu lagi bisa tumbang bukan karena COVID-19, tetapi keserakahan manusia.

PS Sleman dan keterasingan yang lain

Virus ini sukses membuka sisi gelap manusia. Menunjukkan siapa saja yang serakah dengan menimbun masker, mereka yang mempolitisasi krisis, mereka yang abai dengan kesehatan publik, dan mereka yang memanfaatkan krisis untuk kepetingan pribadi.

Sebetulnya, sepak bola yang terasing sebetulnya sudah ada sejak lama. Jauh sebelum virus corona menjadi masalah global. Misalnya ketika manajemen sebuah klub tidak transparan soal keuangan. Atau manajemen klub yang abai dengan suara suporternya sendiri seperti yang meresahkan Brigata Curva Sud (BCS) dan segenap Sleman Fans pada umumnya.

PS Sleman berpotensi “diabaikan” suporter terbaiknya ketika “tidak profesional”. Tentu kamu sudah tahu biang masalahnya. Jadi saya tidak perlu menjelaskan lagi. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa nilai keberadaan suporter itu sangat besar. Mereka tidak hanya menyumbang gairah, tetapi juga menjadi “sapi perah” demi keuangan klub.

Namun, mereka adalah “sapi” yang luar biasa baik. Ketika sadar dirinya menjadi objek eksploitasi klub, mereka tetap mendukung. Meski dukungan itu hanya terwujud di dalam sisi terjauh hatinya. Meskipun disakiti dan dikecewakan oleh kebijakan-kebijakan klub yang tidak masuk akal.

Kata “boikot” sempat menjadi narasi utama Sleman Fans menanggapi kerja manajemen PS Sleman. Sampai tulisan ini tayang, saya belum menemukan sikap nyata PS Sleman menanggapi delapan tuntutan logis dari BCS tempo hari. Apakah PS Sleman sudah punya rencana untuk menanggapi? Kenapa lama sekali? Suporter tidak punya harga absolut?

Otoritas Serie A sadar betul makna keberadaan suporter. Bahkan ketika harus bermain tanpa suporter, pertandingan sempat direncanakan tetap bergulir. Ditayangkan secara langsung lewat televisi artinya pertandingan itu tetep menyasar suporter; mereka yang membayar sejumlah uang untuk berlangganan televisi berbayar atau layanan streaming.

Laga Juventus, Inter, dan AC Milan jelas laga-laga mahal yang sempat diusahakan untuk sepak mula. Laga-laga yang akan menambah pemasukan untuk klub, tentu saja. Namun, Steven Zhang sudah benar ketika mempertanyakan keseriusan Liga ketika kesehatan publik tidak diutamakan.

Baca juga:  Persib Bandung vs Persipura: Benturan Dua Tren Buruk

Sementara itu, di Sleman, “kesehatan publik” dalam wujud yang berbeda tidak juga terwujud. PS Sleman mungkin hanya satu dari sekian banyak klub yang bertindak sama ketika keamanan keuangan individu di belakang manajemen akan terganggu.

Virus corona sudah masuk ke Indonesia. Salah satu kemungkinan terburuk adalah tidak hanya dua orang saja yang positif. Bisa jadi, tanpa tindak lanjut yang ideal, virus corona hinggap di lebih banyak orang, termasuk suporter sepak bola.

Liga 1 musim 2020 baru saja sepak mula. Persija Jakarta akan menjamu Persebaya Surabaya. Sejauh yang saya tahu, jarak Depok dan DKI Jakarta tidak terlalu jauh. Masih jauh lebih dekat dibandingkan jarak kamu dan gebetanmu itu.

Jangan abai

Apakah langkah pengamanan sudah dilakukan untuk mengurangi risiko virus corona? Laga besar seperti ini tidak mungkin tidak dihadiri oleh ribuan suporter. Saya berdoa panpel dan semua yang terlibat dalam pengaturan jadwal Liga 1 sudah memperhitungkan semua langkah.

Pada akhirnya, bukan hanya suporter yang selalu menjadi “korban”. Pemain yang berlaga juga rentan. Terutama ketika manajeman semakin abai dengan kepentingan yang lebih besar, yaitu sepak bola itu sendiri. Termasuk kamu yang aktif di media sosial.

Jangan abai adalah saran saya. Jangan seperti Jurgen Klopp yang bilang, “Saya adalah pelatih sepak bola. Saya tidak seharusnya ditanya hal-hal seperti ini. Saya bukan politikus atau doctor. Lihat, saya ini pakai topi baseball,” ketika ditanya responsnya soal virus corona.

Pada titik tertentu, pernyataan itu tidak salah. Namun, kita tahu Klopp adalah sosok yang menjadi rujukan banyak orang. Dia bisa bilang, “Jaga kesehatan. Rajin cuci tangan dan minum vitamin,” alih-alih, “Saya tidak seharusnya ditanya hal-hal seperti ini.” Kalah lagi memang berat untuk pikiran, sih.

Sekali lagi, kesehatan publik jangan diabaikan. Semua punya porsi untuk berkontribusi. Saling mengingatkan itu sudah baik sekali. Jangan abai. Suporter bukan “orang lain” di sebuah klub. Ketika klub menjauhkan dan menilai suporter sebagai konsumen saja, saat itu pula, sepak bola sudah menjadi barang yang asing.

BACA JUGA Virus Corona: Kronologi, Jumlah Korban dan Pasien Sembuh, Perkembangan Terkini atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.