MOJOK.COMas Ronaldo. Kalem, nggak usah ngegas. Ingat, Mas Ronaldo sudah yang terbaik, kok. Di hati keluarga dan handai tolan. Biarin Messi bahagia sama Ballon d’Or.

Sudahlah, Mas. Sudahlah….

Saya panggil “Mas” nggak papa, kan? Secara umur kita nggak terlalu jauh ini. Yang ngebedain cuma Mas Ronaldo kaya raya. Saya? Sudah kaum rebahan, berada di bawah garis kesejahteraan pula. Lha mau gimana, UMK Jogja begitu amat. Udah habis itu buat bayar cicilan, BPJS, nabung di Credit Union, dan biaya ngopi.

Sudahlah, Mas. Sudahlah….

Secara pundi-pundi, Mas Ronaldo sudah nggak perlu khawatir. Ketika pensiun nanti, anak Mas Ronaldo yang ibunya belum ketahuan yang mana itu nggak perlu ikut pusing bayar uang pangkal sama uang gedung universitas swasta yang naudzubillah muahal banget itu. Kalau ternyata besok pusing mikir uang kuliah, saya sarankan daftar LPDP, Mas. Lumayan menumbuhkan hasrat nasionalisma.

Ya maaf ya Mas Ronaldo kalau saya bawa-bawa ibunya anak panjenengan. Maklum, sudah reflek budaya ketimuran sini. Kalau belum pacaran ditanyain kapan nggak jomblo, lalu kapan kawin, kapan punya anak, kapan mati. Ketika sudah inisiatif “inden” dengan kelon sebelum kawin, eh malah dihajar sama banyak orang.

Mending kalau ketahuan siapa bapaknya dan mau tanggung jawab, Mas Ronaldo. Lha banyak yang bapaknya nggak ketahuan dan perempuan lagi-lagi jadi korbannya. Untung Mas Ronaldo nggak pernah begitu, kan? Nggak pernah terlibat kasus pelecehan seksual apalagi memerkosa, kan? Saya yakin aman, wis.

Nah, gini, Mas Ronaldo. Mbok ya sudahlah. Gelar Ballon d’Or sudah jadi milik Lionel Messi. Mas Messi sudah dapat enam, panjenengan sudah lima. Lha cuma selisih satu ini. Nggak perlu sampai ngamuk. Besok beli di Barkas aja, Mas. Yang di Jalan Gejayan itu. Kalau nggak nemu, ya bikin sendiri, disepuh emas di Kota Gede. Saya kenal yang bisa nyepuh emas, kok.

Baca juga:  Manchester United Bukan Tim yang Tepat untuk Jadon Sancho

Saya penjenengan memang kurang bijak. Apalagi panjenengan nggak datang di acara penganugerahan Ballon d’Or karena kesel sama Mas Messi. Pakai alasan acara itu berbarengan dengan penganugerahan pemain terbaik Serie A. Lha tahun lalu dua acara itu juga barengan dan Mas Ronaldo datang ke Ballon d’Or.

Coba dengerin kata Luka Modric, Mas. “Olahraga dan sepak bola bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang rasa hormat kepada rekan dan para rival.” Diakui saja, Mas. Ketika Real Madrid menjadi juara Liga Champions tiga kali berturut-turut, dari kaca mata teknis, Luka Modric adalah pemain terbaiknya. Bersanding dengan Toni Kroos.

Tapi apa yang terjadi? Mas Ronaldo yang menang Ballon d’Or. Ya ini sama saja ketika Mas Messi menang padahal Xavi dan Iniesta adalah dua maestro yang keberadaannya lebih penting. Sama saja, kan. Kenapa harus marah? Bukankah sepak bola juga soal siapa yang bersolek paling menor? Kalau nggak begitu, Virgil van Dijk sudah menang jauh dari Mas Messi, kok. Dunia mengakui.

Mas Ronaldo nggak perlu mengerahkan kekuatan ratapan keluarga segala. Ingat, ini dunia sepak bola profesional. Bukan sinetron Indosiar di mana satu tokoh, dibantu keluarganya, ngeroyok tokoh lain yang terlihat baik. Hasilnya, yang ngeroyok itu jadi terlihat makin jelek. Ingat, sepak bola itu bersolek. Ini soal citra.

Mas Ronaldo, tolong Mbak Katia dan Mbak Elma diingatkan. Jejak digital itu kejam, lho.

Gimana kalau ada netizen Indonesia melaporkan Mbak Katia pakai UU ITE, yang isinya banyak pasal karet itu, karena dianggap melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan karena gagal memahami ucapan satire van Dijk. Nanti kita juga yang repot bikin tagar #BebaskanKatia dan #PortugalMemanggil.

Baca juga:  Higuain yang Menolak Pulang ke Italia Bisa Menjadi Berkah untuk Juventus dan Federico Bernardeschi

Gini, lho, Mas Ronaldo. Saya itu sebetulnya kagum pol sama panjenengan. Karier Mas kan soal evolusi menjadi pemain yang lebih sangar.

Saya ingat betul debut Mas Ronaldo bersama Manchester United ketika melawan Bolton. Dengan rambut iwil alay, beberapa helai diwarna stabilo, Mas Ronaldo meliuk-liuk dan menghasilkan tendangan penalti.

Saya juga masih ingat perkenalan Mas Ronaldo ketika bergabung ke Real Madrid. Saat itu, Mas pakai nomor punggung 9 karena yang 7 masih dipakai Pakdhe Raul Gonzalez. Seingat saya, itu perkenalan paling meriah sepanjang sejarah. Lha wong perkenangan Neymar dengan PSG saja cuma 50 orang kayaknya. Semuanya penonton bayaran yang bisanya ngisi Dahsyat itu.

Seiring waktu, ketika masih tersesat di Jalan Setan, Mas Ronaldo berubah jadi inside forward yang tajamnya bukan main. Lalu, di tahun-tahun terakhir bersama Madrid, Mas bersalin muka jadi poacher paling efisien memanfaatkan peluang. Atas evolusi dan semua piala seiring proses itu, Mas Ronaldo sudah sahih sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Saya juga yakin, sih, ucapan, “Ini baru dimulai” itu sungguh dari hati. Bersama Juventus, mungkin Mas Ronaldo akan berevolusi lagi. Mungkin jadi gelandang pengangkut air terbaik di dunia. Lho, apa salahnya? Itu pekerjaan yang halal dan mulia. Menyediakan air bagi mereka yang kehausan.

Gitu ya, Mas Ronaldo. Nggak perlu marah. Kalem. Dirimu sudah menjadi yang terbaik, kok. Setidaknya di hati Mbak Katia dan Mbak Elma. Ingat, harta yang paling berharga, adalah Ballon d’Or, eh salah, keluarga.

Salam.

BACA JUGA Tidak Ada Cinta dari Ronaldo Untuk Messi, Pemenang Ballon D’or atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.