fbpx

MOJOK.COSembada Apparel melukis sebuah simbol dan harapan di dada PSS Sleman lewat sebuah jersey yang elegan. Sebuah kolaborasi indah dua entitas sepak bola Sleman.

Suatu sore yang lembab, saya berkendara melewati sisi timur Stadion Maguwoharjo, kandang PSS Sleman. Pandangan saya sempat tertuju ke sebuah tembok di kiri jalan. Ada sebuah mural di sana. Dibaca: “If you give us 90 minutes, we’ll give you life time.”

Hubungan suporter dan klub memang dua arah. Tidak pernah dan tidak boleh berlangsung hanya satu arah.

PSS Sleman berutang besar kepada Sleman fans. Begitu juga sebaliknya. Hubungan antara dua entitas ini memang unik. Di Indonesia, tidak banyak fans sebuah klub yang begitu aktif dan kreatif.

Bukan hanya berupa koreo atau giant flag di dalam tribun. Sleman fans menjadi sebuah kultur. Mereka mendukung dengan cara yang luar biasa modern. Sleman fans tidak hanya mengekspresikan dukungan semata di dalam stadion atau riuh rendah media sosial.

Sleman fans membangun sebuah tradisi

Sleman fans menjadi bangunan suporter yang kreatif, melek literasi, dan paham betul potensi massa untuk ekonomi klub. Sleman fans yang tergabung dalam kepengurusan situsweb Sleman Football mengadakan kelas menulis. Berbagi ilmu soal menulis berita, feature, dan analisis. Kultur berbagi informasi membantu fans menyebarkan kabar baik, bukan kebencian saja.

Sleman Football digawangi Aand Andrean dan Ardinata Azmi. Di belakang mereka berdiri barisan para kontributor profesional, dari penulis, desainer, hingga fotografer. Intinya, Sleman Football dikerjakan dengan dedikasi, semangat literasi, dan melek bisnis.

Sleman Football pernah mengadakan sebuah workshop Sleman Football School. Selain untuk keperluan kaderisasi, “sekolah” ini ditujukan sebagai alat capacity building para suporter muda. Nantinya, tak hanya pergi ke stadion untuk menikmati pertandingan (dan koreo kreatif BCS), namun juga bisa belajar dan mengaplikasikan ilmu yang didapat.

Curva Sud Shop (CSS), menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang penting bagi PSS Sleman. Toko merchandise ini lahir dari keprihatikan akan ketiadaan toko resmi PSS Sleman. CSS lahir dalam bentuk sebatas etalase kaca di depan ruko, hingga kini mampu menyewa ruko secara pribadi.

Baca juga:  Klasemen Liga 1: Bali United dan Pelajaran dari Pulau Dewata

Uang hasil dodolan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Salah satunya dengan yang disebut “royalti klub”, yaitu sejumlah dana yang disetor untuk klub. Nilainya tak main-main. Gambarannya, di jersey PSS, terpampang nama CSS. Bisa membayangkan berapa “nilai” yang dikeluarkan untuk bisa memasukkan nama merek ke dalam jersey pemain, kan?

Yang paling fenomenal adalah ketika CSS menjadi “sponsor kebugaran tim”. Berawal dari pemikiran bahwa klub profesional harus punya tenaga fisioterapis profesional, CSS menyumbang alat-alat kebugaran yang mendukung kerja Sigit Pramudya, fisioterapis PSS. Belum istimewa, namun Sigit menyebutnya sudah sangat cukup untuk ukuran klub profesional di Indonesia.

Mencintai PSS Sleman, berarti menikmati perkembangan Brigata Curva Sud (BCS). Wadah suporter yang solid dan militan. BCS membiayai koreografi mereka dengan cara “patungan”. Cara sederhananya adalah menambahkan 1000 rupiah ke dalam tiket khusus untuk BCS (tribun kuning).

Sesuai slogan “no ticket, no game”, BCS bisa mandiri menghidupi koreo mereka, sekaligus mengajak semua suporter untuk tidak membeli tiket dari calo. Jadi, suporter diajak berkontribusi langsung untuk kesehatan keuangan klub.

Sembada Apparel dan PSS Sleman terbang bersama

Ajakan no ticket no game menjadi sebuah langkah orisinal suporter Indonesia. Sebuah bentuk kesadaran betapa pentingnya tiket bagi ekonomi klub. Orisinalitas inilah yang terlihat dari proses kreatif Sembada Apparel “melukis sebuah simbol” ke dalam dada PSS Sleman.

Tahukah kamu, Sembada Apparel sudah menjadi sponsor jersey PSS Sleman sejak 2012. Mereka dibangun oleh sekumpulan Sleman fans yang jatuh cinta dengan dunia jersey. Bahan yang digunakan, detailing, hingga karakteristik desain menjadi kekuatan utama. Pada musim 2015/2016 yang lalu, jersey PSS karya Sembada Apparel menjadi jersey terbaik versi Goal Indonesia.

Sembada Apparel menjadi sebuah monumen yang menjelaskan kemandirian dalam unit usaha. Menjadi penegasan bahwa PSS Sleman mengarah ke konsep mandiri.

Untuk musim 2020/2021, Sembada Apparel siap merilis jersey baru di pertandingan PSS Sleman vs Tira-Kabo. Konsep yang diusung adalah tricolor; hijau, putih, dan hitam. Tiga warna ini merupakan identitas warna Kabupaten Sleman beserta dunia sepak bola yang hidup di dalamnya.

 

Desain dengan konsep tricolor ini merupakan karya Panji Muhammad dan Faizal Yhermawan. Sedikit berbeda dengan desain-desain sebelumnya yang semarak seperti malam perayaan, jersey baru ini terlihat lebih kalem. Namun, aura elegan terpencar dari kedalaman warna hijau yang mendominasi.

Baca juga:  Terima Kasih KPAI, Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis Akhirnya Berhenti

Ada sebuah corak unik yang terbentang di bagian pundak. Sembada Apparel terlihat sedang “melukis sebuah simbol”. Desain kepakan sayap elang dengan aksen garis berwarna abu-abu bermakna kecepatan. Sebuah dorongan energi yang menjelaskan bahwa klub ini siap berkembang lebih cepat.

Kepakan elang di pundak juga sebuah harapan. PSS Sleman dan Sleman fans lahir dan saling mengiringi. Jika PSS adalah sayap sebalah kiri, Sleman fans menjadi sayap kanan yang mengimbangi. Keduanya harus terbang tinggi, bersama-sama.

Sembada Apparel membaca tradisi itu dengan baik. Menerjemahkannya menjadi sebuah simbol. Sebuah penegasan bahwa Kabupaten Sleman adalah kabupaten sepak bola. Di sini, sepak bola bukan sebatas hiburan, melainkan tradisi yang dirawat.

Ketika PSS Sleman terus berbenah menjadi klub profesional, jersey tricolor Sembada Apparel juga sebuah gambaran niat. Beberapa tahun setelah berdiri, Sembada Apparel menemui banyak kendala. Mulai dari lambatnya produksi dan penjualan yang tersendat. Mereka sedang berbenah. Seperti ekosistem sepak bola Sleman itu sendiri.

Jersey tricolor ini juga bisa dibaca sebagai “sebuah kado”. Sebuah bentuk penghargaan kepada PSS Sleman yang berhasil merusak prediksi untuk mengakhir musim di papan tengah. Sebagai tim promosi, sebagai sebuah tim yang masih dipandang sebelah mata, PSS Sleman menjalani Liga 1 dengan keyakinan tinggi.

Hingga pekan ke-33, mereka duduk di peringkat sembilan. Sangat baik untuk tim promosi yang diremehkan. Bahkan, mereka sempat menjadi sebuah tim yang sulit dikalahkan ketika bermain tandang. Tagline Never Lose Faith Never Lose Hope yang dibawa Sembada Apparel merupakan terjemahan paling murni tentang perjuangan Elang Jawa musim ini dan di masa mendatang.

Selamat PSS Sleman, selamat Sembada Apparel, selamat Sleman fans. Merayakan sepak bola memang jauh lebih nikmat ketika dirayakan bersama-sama. Berkembang bersama. Terbang tinggi bersama. Menjadi abadi bersama-sama.

BACA JUGA Karya Kreatif BCS dan Sleman Football Untuk PSS Sleman atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles