MOJOK.COKekalahan Juventus, tabrakan Ronaldo cuma dianggap gimmick Liga Champions saja. Tidak berbeda dengan drama Fiki Naki dan Dayana.

Kemarin (17/2), Oura, mantan atlet Evos, ngobrol dengan RRQ Xinnn di podcast. Salah satu pertanyaan menarik yang muncul adalah nominal market value seorang Xinnn apabila ada tim lain yang hendak membelinya. Keduanya bersepakat di kisaran harga Rp2 miliar untuk memboyong salah satu atlet Mobile Legends Indonesia itu.

Xinnn bertanya kepada Oura bagaimana cara menghitung harga seorang atlet profesional Mobile Legends. Oura menjelaskan bahwa ada tiga unsur yang menjadi pertimbangan, yaitu kemampuan, prestasi, dan eksposure di media sosial. Dua unsur pertama itu yang paling menentukan.

Tiga unsur tersebut membuat harga atlet melambung tinggi. Bukan hanya di babagan Mobile Legends, tetapi di semua cabang olahraga, salah satunya sepak bola. Kemampuan, prestasi, dan nama besar pendulang eksposure media sosial, yang mengiringi nama-nama seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Keduanya dituntut untuk selalu memberi hasil konkret. Dari sana, lahir yang namanya ekspektasi. Seorang Ronaldo harus selalu sempurna. Tidak boleh membuat kesalahan, apalagi kekonyolan. Oleh sebab itu, ketika dirinya bertabrakan dengan Alex Sandro, dunia tertawa lepas.

Lucunya, tabrakan Ronaldo dan Alex Sandro seperti mewakili performa Juventus di leg pertama babak 16 besar Liga Champions ketika kalah dari FC Porto dengan skor 2-1. Posisi pemain saling menumpuk, tidak ada kesesuaian gerak, kehilangan cara untuk membuat gol, hingga “diselamatkan” oleh gol sporadis Chiesa di babak kedua.

Celakanya, hingga pertandingan melawan Porto, Ronaldo sudah 347 menit tidak membuat gol. Dan catatan itu, seperti langsung dianggap melukai potensi Juventus untuk terus melaju, terutama di Liga Champions. Demi mengusir stigma “badut Eropa” yang tersemat di emblem Juventus.

Pada titik tertentu, ini semua terasa tidak adil. Pesepak bola akan selalu punya periode buruk. Seperti saya dan kamu. Selalu ada tabungan kesalahan yang celakanya justru keluar di saat paling penting dalam kehidupan. Pada akhirnya, mereka tidak bersalah sepenuhnya, tapi menanggung semuanya.

Semua ini terlihat seperti gimmick saja. Sepak bola adalah olahraga tim. Ronaldo memang bermain buruk, tapi bagaimana dengan Alex Sandro sendiri, yang menerima ban kapten dari Chiellini? Bermain baik? Omong kosong. Bagaimana dengan Bentancur yang membuat blunder? Semuanya punya porsi untuk menjadi korban gimmick.

Sayangnya, kita semua mencintai gimmick. Kita semua merayakan, salah satunya, drama gimmick Fiki Naki dan Dayana. Dimulai dari Ome TV, berlanjut dengan proyek endorse kado valentine, berakhir dengan ujaran kebencian yang menjadi buah gimmick keduanya.

Di dalam drama tersebut, seolah-olah, Fiki Naki mengirim kado valentine untuk Dayana. Padahal, kenyataannya, manajemen Fiki Naki mengirim sejumlah uang kepada manajemen Dayana untuk membeli kado dan membungkusnya sesuai keinginan klien.

Berbagai masalah terjadi. Salah satunya bungkus kado yang tidak sesuai kriteria klien dan manajemen Fiki Naki. Manajemen Dayana tidak mampu memenuhi syarat gimmick. Setelah video unboxing kado itu sempat diunggah, kini sudah dihapus dari Instagram Dayana.

Masalah tidak berhenti sampai di sana. Manajemen Dayana mengaku cuma mendapatkan bayaran 50 persen dari kesepakatan karena dianggap tidak bekerja dengan baik. Manajemen Fiki Naki bersikeras kalau bayaran itu sudah wajar. Suasana semakin panas.

Dayana ditinggal banyak followers. Tidak sampai di sana, Dayana mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari fans Fiki Naki. Bahkan, di sebuah video, Dayang mengaku tidak mau datang ke Indonesia karena ujaran kebencian yang sudah dia terima gara-gara gimmick kado valentine dengan Fiki Naki.

Gimmick, yang bertujuan untuk “menipu”, tidak akan pernah berakhir baik. Dayana dan Fiki Naki mendapatkan sorotan negatif karenanya. Sementara itu, Juventus seperti kehilangan sisi lo spirito Juve ketika Alex Sandro mengenakan ban kapten.

Di mata saya, ban kapten di lengan Alex Sandro seperti gimmick semata. Ban kapten diberikan kepada pemain Juventus yang paling lama mengabdi. Padahal, kapten harus bisa menjadi core, menjadi hyper yang menggendong tim. Paling tidak dari sisi mental.

Dampaknya terlalu negatif ketika memaksakan pemain yang tidak dalam performa terbaik untuk menanggung ekspektasi. Ketika Chiellini cedera, saya sudah berharap ban kapten melingkar di lengan Ronaldo. Setidaknya, Ronaldo tahu bagaimana caranya meladeni ekspektasi Liga Champions. Meskipun dia tidak punya sejarah menyenangkan ketika bermain di kandang Porto.

Saya memahami kalau setiap klub punya tradisi masing-masing perihal kapten. Namun, di momen-momen krusial, terkadang tradisi bisa menjadi penghambat. Ingat, desperate time call for desperate measures.

Juventus bakal jadi ledekan untuk kesekian kali jika gagal di Liga Champions. Padahal, Ronaldo dibujuk untuk datang ke Juventus dengan tujuan berburu piala Liga Champions. Kalau gagal lagi, Juventus sendiri juga hanya akan dianggap sebagai gimmick saja di kompetisi antar-klub termahal di dunia ini.

Oleh sebab itu, kekalahan Juventus, tabrakan Ronaldo dan Alex Sandro, cuma dianggap gimmick Liga Champions saja. Tidak berbeda dengan drama murahan Fiki Naki dan Dayana. Orang mencibirnya, tetapi diam-diam, orang yang sama menjelajahi media sosial untuk mencari tahu kelanjutan drama gimmick itu.

Dunia akan terasa tidak adil untuk Ronaldo, Juventus, Fiki Naki, dan Dayana. Namun, dunia yang sama tetap akan mencintai gimmick yang mereka produksi. Ujungnya adalah ekspektasi tidak perlu yang melukai siapa saja yang terlibat di dalam drama ini.

BACA JUGA Selamat Ulang Tahun Juventus, Pemilik Yayasan Serie A dan Kisah Senapan Mesin dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.