MOJOK – Pekan ke-12 Liga 1, Persija Jakarta baru bermain sembilan kali lantaran tiga pertandingan melawan Perseru, Persib, dan Persebaya ditunda. Supaya semua enak, inilah 2 solusi yang bisa diterapkan demi Macan Kemayoran dan kita semua.

Memasuki pekan ke-12 Liga 1, rata-rata semua tim sudah bermain 11 dan 12 kali. Pengecualian ada pada Persib Bandung yang baru bermain 10 kali karena penundaan pertandingan. Nah, selain Persib, ada satu tim yang bahkan baru bermain 9 kali. Ia adalah Persija Jakarta, di mana 3 pertandingannya sudah ditunda karena berbagai alasan.

Betul, 3 pertandingan Persija resmi ditunda karena berbagai alasan yang coba dipaksakan untuk dipahami. Tiga pertandingan yang ditunda, antara lain Macan Kemayoran melawan Perseru Serui, Persib Bandung, dan Persebaya Surabaya.

Ketika dijadwalkan bertandang ke Stadion Marora tanggal 6 Mei 2018, manajemen Macan Kemayoran mengajukan surat kepada PT LIB. Intinya, Persija memohon pertandingan melawan Perseru untuk ditunda. Alasannya, pada tanggal 8 dan 15 Mei 2018, Persija harus berlaga di Piala AFC menghadapi Home United di Singapura. Penundaan yang tiada berfaedah karena tim ibukota ini kalah dengan skor 3-2.

Lalu, laga melawan Persib ditunda karena alasan tidak mendapatkan izin dari kepolisian. Alasannya, pihak kepolisian tidak memberi izin menggelar pertandingan karena laga Persija vs Persib bertepatan dengan Hari Buruh. Ya kalau ini masih masuk akal karena pengerahan dan berkumpulnya masa dalam jumlah besar selalu diwaspadai oleh pihak keamanan.

Sementara itu, ketika seharusnya dijadwalkan melawan Persebaya di Stadion Sultan Agung, panitia pelaksana pertandingan dari pihak Persija membatalkan pertandingan setelah terjadi bentrok antar-suporter yang tidak jelas di sekitar stadion. Lewat Polda DIY, pembatalan tersebut diumumkan.

Baca juga:  Seperti Kata Bambang Pamungkas, Pemain Timnas Memang Serdadu

Bahkan, mengutip dari emosijiwaku.com, sebelum laga resmi dibatalkan, pihak panpel Persija sudah tidak berada di tempat. Situasi ini bisa sangat berbahaya karena akan melahirkan kecurigaan bahwa penundaan memang “tidak bisa dihindarkan” karena skuat Persija kehilangan empat pemain inti karena berbagai alasan. Salah satunya karena dua pemain tengah seleksi timnas U-23.

Nah, melihat berbagai alasan di atas, Mojok Institute punya 2 solusi mudah untuk Persija, operator liga, dan semua klub di Liga 1 yang sungguh ajaib ini.

1. Status Persija sebagai tim tandang.

Salah satu masalah bagi Macan Kemayoran ketika harus menggelar pertandingan adalah karena tidak punya stadion. Pun, Pemerintah Daerah DKI sejauh ini nampaknya hanya menjadikan janji stadion baru untuk Persija sebagai “janji politik”. Jadi, daripada berharap terlalu banyak kepada “dunia politik”, mari kita bergerak terlebih dahulu. Kerja, kerja, kerja.

Oleh sebab itu, daripada sulit mencari tempat main bola, alangkah baiknya apabila Persija selalu berstatus sebagai tim tandang saja. Dengan begitu, masalah stadion beres dengan sekejap. Lantas, bagaimana dengan dana operasional?

Untuk gaji pemain dan staf tentu masih menjadi tanggungan manajemen Persija. Toh, klub ibukota ini masih mudah dapat sponsor. Untuk biaya perjalanan sendiri ditanggung dua pihak, yaitu klub tuan rumah dan negara.

Kok enak betul? Ya sudah lah, anggap saja sedekah. Kalau untuk orang Muslim, anggap saja sebagai zakat mal. Bagi orang Kristen dan Katolik, anggap saja ini persepuluhan. Bagi pemeluk Budha, Hindu, dan Konghucu, anggap saja sebagai wujud nyata sikap welas asih. Namaste

Nah, bagi negara, inilah saat yang tepat untuk menerapkan Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang bunyinya, “…dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Sungguh mulia betul, bukan? Negara ini pasti masuk surga.

Baca juga:  PR Edy Rahmayadi: Liga 3 yang Kacau dan Kekerasan Terhadap Jurnalis

Kenapa harus susah-susah memerhatikan Persija? Ya ini semua demi jalannya roda kompetisi yang sudah sangat ajaib sejak musim lalu (dan musim-musim sebelumnya). Dengan begitu, semua senang, bukan? Alhamdulilah.

2. Persija boleh pakai pemain asing sepuasnya dan bermain kapan saja.

Saat ini, ada sebuah regulasi pembatasan pemain asing di Liga 1. Nah, untuk Persija sendiri, sebaiknya dibuatkan aturan khusus yang menyebutkan bahwa klub ini boleh pakai pemain asing sesuka hati. Mau 23 komposisi itu pemain asing semua juga boleh, asal kuat membayar gaji.

Kenapa harus begitu? Ya karena supaya pemain-pemainnya tidak terganggu oleh jadwal persiapan tim nasional. Dengan begitu, skuat Macan Kemayoran akan selalu utuh. Selain semua pemain asing, tim ini juga boleh bermain kapan saja mereka mau. Tujuannya, supaya selalu punya waktu persiapan sepanjang mungkin demi laga internasional.

Namun, setidaknya, 1 minggu sebelum melawan tim lokal, manajemen Persija memberi kabar. Kan kasihan seperti Persebaya yang sudah keluar ongkos besar untuk perjalanan dari Surabaya ke mBantul hanya untuk menemukan kenyataan bahwa pertandingan batal. Semua senang, semua bahagia.

Nah, itulah 2 solusi yang paling mudah untuk dilakukan. Dua saja cukup, tak perlu banyak-banyak karena yang penting bisa segera diterapkan dan dimaklumi bersama. Tulisan ini sendiri tidak bermaksud apa-apa. Hanya demi merayakan lucunya Liga Indonesia dan pengingat bahwa sepak bola kita masih jauh dari “baik-baik saja”. Silakan direnungkan secara prasmanan dan bahagia.