MOJOK.COVan de Beek bisa belajar dari perjuangan Chef Juna. Pelajaran hidup dari juri MasterChef Indonesia untuk masa depan Manchester United.

Pemandangan yang bisa bikin iba terpampang ketika Donny van de Beek digantikan Scott McTominay di laga FA Cup antara Manchester United vs West Ham United. Pemain asal Belanda itu terlihat sedih dan murung. Dia tidak rela meninggalkan lapangan.

Mengingat menit bermainnya yang begitu terbatas, kesedihan van de Beek bisa dipahami. Datang sebagai salah satu gelandang muda potensial kelas dunia, van de Beek diprediksi bisa langsung menembus tim utama Manchester United. Sayang, adaptasinya di musim perdana penuh onak duri.

Nasib van de Beek adalah kombinasi pelatih dan para rekan yang belum bisa memaksimalkan kemampuannya. Banyak yang membandingkan mantan pemain Ajax itu dengan Bruno Fernandes. Padahal, kedua pemain ini berbeda jenis. Tidak bisa dibandingkan.

Akun Utd Arena menjelaskan perbedaannya dengan baik. Van de Beek adalah jenis gelandang yang menyerang ruang kosong di pertahanan lawan. Dia membutuhkan suplai umpan vertikal yang akurat. Sementara itu, Bruno adalah gelandang serang yang lebih nyaman mengumpan, bukan berlari menyerang ruang kosong.

Oleh sebab itu, ketika van de Beek harus bermain seperti Bruno, Manchester United tidak mendapatkan manfaat. Bahkan, beredar kabar kalau para pemain Manchester United masih belum bisa mempercayakan bola di wilayah lawan kepada van de Beek.

Nah, mumpung nama Chef Juna lagi trending, ada baiknya kita menyandingkan kata kunci van de Beek dan Chef Juna. Ada sebuah kisah perjuangan yang bisa dipetik van de Beek dari juri MasterChef Indonesia itu. Terutama kisah perjuangan Chef Juna ketika keluar dari sekolah pilot dan memutuskan menjadi koki profesional.

Pada 1993, Chef Juna drop out dari Trisakti. Waktu itu, dia kuliah jurusan perminyakan. Setelah melalui berbagai struggle di Indonesia, Chef Juna memutuskan menjual motor Harley miliknya dan pergi ke Amerika untuk sekolah pilot.

Perjuangannya untuk menjadi pilot, awalnya, berjalan baik. Hingga kemudian sekolah itu bangkrut dan Chef Juna kehilangan uangnya. Ditambah saat itu krisis moneter 1998, beban yang dia pikul semakin berat. Orang tua di Indonesia tidak bisa mengirimi uang selama beberapa waktu.

Seperti “ditolak” oleh nasib, Chef Juna memutuskan untuk menantang kemujurannya. Dia tidak mau pulang kandang ke Indonesia. Juri MasterChef Indonesia itu memutuskan bertahan di Amerika. Untuk menyambung hidup, Chef Juna sampai harus mengorek sampah untuk memungut puntung rokok dan duit recehan.

Duit recehan itu dikumpulkan untuk membeli burger paling murah. Yang penting perut kenyang sebagai modal menantang takdirnya sendiri. Untuk menyambung hidup, Chef Juna bekerja di sebuah restoran Jepang. Dia bekerja dengan rajin dan disiplin tinggi. Dia tak pernah berhenti belajar.

Chef Juna “naik pangkat” menjadi koki magang berkat kedisiplinan yang dia tunjukkan. Setelah itu, dia butuh waktu 4,5 tahun untuk diangkat menjadi sushi head chef. Dia yang otodidak, tidak memutus proses belajarnya. Memanfaatkan internet gratis di perpustakaan umum, Chef Juna tak berhenti belajar.

Perjuangan itu membuat Chef Juna sosok yang keras kepada diri sendiri. Juna berani menuntut orang lain memberikan yang terbaik karena dirinya sendiri selalu total untuk masakan. Ketekunan, keberanian, kepercayaan diri, tak berhenti belajar membangun Chef Juna menjadi koki profesional yang diakui dunia.

Nah, sudah terlihat polanya, kan. Van de Beek adalah salah satu gelandang muda dengan potensi luar biasa besar. Jika ada yang berkata lain, mungkin mereka tak benar-benar menonton sepak bola. Namun, seperti umumnya manusia, struggle tak akan pernah benar-benar lesap.

Manchester United dan Liga Inggris adalah lingkungan yang keras. Van de Beek harus beradaptasi dengan ide pelatih, rekan satu tim, dan dirinya sendiri. Terkadang, kita harus mau “menghancurkan diri sendiri” lalu membangunnya ulang demi melangkah maju.

Seorang pemain tidak boleh menunggu bahkan memaksa pelatih mengubah ide atau rekan satu tim untuk memahami dirinya. Karier pesepak bola itu sangat pendek. Jika van de Beek menghabiskan waktu untuk kecewa, yang namanya perkembangan tidak akan pernah terpicu.

Chef Juna, atas nama kerja keras dan dedikasinya untuk belajar, menjadi salah satu motor yang membuat MasterChef Indonesia bisa berlari kencang. Menjadi salah satu acara televisi favorit pemirsa, bersaing dengan sinetron dan reality show lainnya.

Kuncinya adalah tidak berhenti belajar dan tidak takut menantang diri sendiri. Seorang bijak pernah berkata, jika kamu lembek kepada diri sendiri, dunia akan menjadi tempat yang keras.

Van de Beek masih punya waktu untuk membangun ulang dirinya. Jika dia bisa menempuh jalur onak duri yang dulu diterjang Chef Juna, Manchester United akan mendapatkan satu pemain dengan kualitas tanpa batas. Masa depan jadi lebih menjanjikan. Dunia tidak lagi menjadi dunia yang keras, lagi kejam.

BACA JUGA Manchester United Membeli Kecerdasan Donny van de Beek dengan Harga Murah dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Arsenal dan Chelsea di Bursa Transfer: Tentang Usaha Mengejar Keseimbangan