MOJOK.COBenar kata Roy Keane, yang akan menjadi ancaman untuk Liverpool adalah Manchester United. Kini, mereka lebih bijak dan konsisten. Berbahaya!

Jalur Manchester United menuju peringkat kedua Liga Inggris terbuka lebar setelah mengalahkan Leeds United dengan skor 6-2. Jika memenangi satu laga simpanan itu, United akan melompat ke posisi dua dengan 29 poin. Cuma tertinggal dua poin saja dari Liverpool di puncak klasemen (31 poin).

“Lompatan” Manchester United tidak hanya terjadi di laga melawan Leeds United saja. Jika merunut waktu ke belakang, setelah kalah dari Arsenal di kandang sendiri, Manchester United belum terkalahkan lagi di Liga Inggris. Sementara itu, setelah menang di Old Trafford, Arsenal justru menjadi pecundang. Kini, mereka hanya berjarak empat poin saja dari zona degradasi.

Kualitas Manchester United tidak hanya terlihat di laga melawan Leeds. Kalau tidak salah mengingat, pemilihan pemain, yang menjadi salah satu kelemahan Ole Gunnar Solskjaer, sudah mulai berkurang. Mengapa hal ini ini penting? Karena pemilihan pemain yang tepat menentukan performa di lapangan.

Komposisi pemain yang pas membuat Manchester United bisa “bertahan” di tengah laga berat. Sebelum mengalahkan Leeds, Setan Merah berhasil mengalahkan lawan-lawan yang sedang berada dalam performa terbaiknya. Sebuah kemenangan yang nilainya sangat besar, tetapi rasanya tidak mendapatkan pemberitaan yang cukup luas.

Setelah kalah dari Arsenal, mereka mengalahkan Everton (peringkat 4, skor 3-1), Southampton (peringkat 6, skor 3-2), dan West Ham United (peringkat 10, skor 3-1). United berhasil menahan imbang Manchester City dengan skor 0-0 di sebuah laga yang berjalan begitu lambat.

Namun, hasil imbang 0-0 melawan City bukan catatan buruk. Hasil imbang ini berhasil menjadi gambaran kualitas United di tengah laga berat untuk tidak berakhir sebagai pihak yang kalah. Oya, mereka juga sempat menang dari Sheffield United dengan skor 3-2. United berhasil mempertahankan keunggulan dengan susah payah.

Sekali lagi, meski susah payah, hal itu tidak menjadi masalah. Saya rasa, kekuatan untuk tidak kalah dan berhasil mempertahankan keunggulan harus dimiliki semua tim, khususnya untuk Liga Inggris musim ini. Sebuah musim penuh kejutan, di mana tim langganan papan tengah menjadi sangat kuat dan sulit dikalahkan.

Manchester United berhasil mengalahkan Everton, misalnya. Tim langganan papan tengah, yang kini duduk di peringkat empat. Setelah kalah dari United, Everton mengalahkan Chelsea, Leicester City, dan Arsenal. Bisa kamu bayangkan sendiri betapa Everton, musim ini, menjadi sangat merepotkan.

Kemampuan untuk bertahan di laga berat ini dimulai dari komposisi yang dipakai Ole Gunnar. Misalnya ketika melawan Leeds United, ketika Ole Gunnar menggunakan Daniel James di sisi lapangan. Pemilihan Daniel James ini sangat menarik untuk dianalisis lebih jauh.

Singkat kata, Daniel James tidak banyak “dilibatkan” dalam sistem, terutama dalam proses bertahan dan transisi di antaranya. Namun, ketika bola sudah di depan dan berada di kaki Daniel James, United menjadi sangat berbahaya. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah keberadaan ruang dan kebebasan untuk menekan.

Terlihat sangat sederhana? Jangan salah, ketika pelatih bisa “membaca” atau membayangkan bagaimana pertandingan akan berjalan, artinya sebuah tim punya peluang menang lebih besar. Dan, jangan salah, ini bukan kemampuan sepele. Ketika Ole memakai Daniel James untuk mengeksploitasi ruang di depan, United sudah satu langkah menuju kemenangan.

Manchester United menjadi sangat berbahaya ketika lawan tidak disiplin. Everton dan Southampton sudah merasakannya dan Manchester City hampir menjadi korban. Leeds United dan Marcelo Bielsa, dengan sepak bola terbuka, menjadi buruan yang nikmat dan juicy bagi Ole dan kawanan Setan Merah.

Bisa dibilang, malam di Old Trafford, dengan Leeds sebagai “tumbal”, adalah pesta bagi Manchester United. Para Setan berpesta ruang.

Selain pemilihan Daniel James, instruksi Ole untuk dua pemainnya juga spot on. Pertama, dan mungkin yang tidak banyak dicatat orang adalah betapa bagusnya Anthony Martial. Saya yakin, pundit dan jurnalis akan fokus kepada Scott McTominay dan Bruno Fernandes yang mencetak masing-masing dua gol. Namun, peran Martial sangat krusial.

Memang, kerja yang Martial lakukan bukan pekerjaan yang akan dicatat statistik. Namun, kamu harus tahu, yang tidak dicatat statistik, terkadang perannya jauh lebih besar. Sebagai secondant Marcus Rashford, Martial lebih banyak memegang bola. Dan di sini, dia menunjukkan kedewasaannya.

Karena ruang yang tersedia sangat luas, Manchester United membutuhkan pemain yang bisa menahan bola sekaligus mengolahnya (membawa ke depan). Martial mendapat tugas ini. Dia sangat jeli melihat ruang yang paling pas untuk dituju. Kerja yang dia lakukan memastikan continuity serangan United terjaga.

Hasil karya Martial adalah dua asis, untuk McTominay dan Victor Lindelof, dan satu pre-asis untuk Bruno Fernandes. Pemain asal Prancis itu menjadi “sumur kreativitas” Manchester United di sepertiga akhir. Bisa dibilang, pertahanan Leeds terpecah antara mengawasi pergerakan tanpa bola Daniel James yang berbahaya karena akselerasi dan kemampuan menahan bola Martial.

Pada akhirnya, Manchester United layak menyandang status “the best of the rest” seperti kata Roy Keane. Legenda United itu menegaskan bahwa Liverpool tetap menjadi ancaman terbesar dan favorit juara. Namun, saat ini, yang bisa mendekati adalah United. Konsistensi yang membuat mereka menjadi yang terbaik di antara semuanya… kecuali Liverpool… untuk sementara waktu….

BACA JUGA Sosok Ole Gunnar Solskjaer dengan Siluet Sir Alex Ferguson di Belakangnya dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Mikel Arteta dan Dua Batu Sumbat di Esofagus Arsenal