MOJOK.COJika memang sejak awal Vinai dan Unai Emery sudah berbohong, maka ini mindgame yang mulus. Ketika Arsenal mendekati Nicolas Pepe.

Aktivitas transfer Arsenal menjelang pembukaan Liga Inggris musim 2019/2020 semakin “aneh” saja. Ada banyak ketidakcocokan antara pernyataan pihak klub, tawaran kepada pemain yang beredar di media, dana belanja yang kabarnya terbatas, dan pemain baru yang akhhirnya bisa diresmikan beberapa hari yang lalu.

Gagal lolos ke Liga Champions musim depan, kalah di final Liga Europa, dan mengakhiri musim di luar empat besar. Manajemen mengumumkan kalau dana belanja mereka tidak akan lebih dari 45 juta paun. Jika berhasil menjual beberapa pemain, dana belanja bisa jadi akan naik. Namun, tentunya tidak bakal tembus 100 juta paun.

Setelah pernyataan itu disambut isak tangis oleh Gooners sedunia, melahirkan candaan kalau Arsenal itu nggak lebih jago soal finansial dibanding Leicester City dan West Ham United. Namun, kenyataannya, klub penuh drama ini dihubungkan dengan nama-nama berbanderol mahal. Dan, nggak main-main pula ketika tawaran-tawaran yang dilayangkan itu nyata adanya.

Dari mana Arsenal dapat duit? Ngepet? Pelihara tuyul? Pakai dukun kayak yang dituduhkan ke PS Tira-Persikabo? Segala analisis beredar secara liar. Melepas beberapa pemain dengan gaji tinggi dianggap bisa membebaskan klub ini untuk bermanuver. Namun, tentu saja, kebijakan itu nggak bakal cukup menutupi besarnya libido klub untuk menaikkan level tim dengan membeli pemain.

Jika diurai dari awal, akan ketemu beberapa siasat dari manajemen, tepatnya Unai Emery si pelatih dan Vinai Venkatesham, yang menjabat sebagai “Direktur Pelaksana”.

Zaha dan Nicolas Pepe: mindgame Arsenal lewat Permainan narasi

Sejak awal, Emery dan Vinai (kemungkinan) berbohong kepada publik. Ini perkiraan yang paling mudah untuk dipikirkan. Sejak awal, dana belanja Arsenal lebih dari 45 juta paun. Ketika jendela transfer dibuka, nama yang paling awal dihubungkan dengan Arsenal adalah Wilfried Zaha. Ketika Crystal Palace belum buka harga, harga Zaha diperkirakan sudah mencapai 60 juta paun. Setelah kabar ketertarikan ini nyata, Palace buka harga di 100 juta paun.

Baca juga:  Manchester City dan 3 Kunci Menjuarai Liga Primer Inggris 2017/2018

Setelah Palace buka harga, bukannya mundur teratur, hingga saat ini, The Gunners masih melakukan pendekatan. Meski menggunakan strategi beli cicil pun, dana yang dibutuhkan pun masih belum cukup. Belum cukup karena Emery masih ingin mendatangkan 3 hingga 4 pemain lagi.

Arsenal masih mengejar Kieran Tierney, Everton Soares, dan yang sudah konkret baru saja: Nicolas Pepe. Apakah kamu nggak bingung dengan semrawutnya nama-nama yang diincar Arsenal? Nggak merrasa janggal?

Zaha, meskipun jika bisa ditawar, harganya nggak akan turun di bawah 50 juta paun. Everton, yang status kepemilikannya terbagi di beberapa bendera, punya harga pasar antara 35 hingga 40 juta paun. Tierney? Kita sudah tahu, Celtic minta 25 juta paun dengan mayoritas uang tunai dibayarkan di depan kalau manajemen mau membayar dengan cara dicicil.

Silakan dijumlah, berapa duit yang dibutuhkan Arsenal? Pertimbangkan juga gaji yang kudu disiapkan untuk rombongan pemain baru itu.

Untuk Nicolas Pepe saja, The Gunners SUDAH mengajukan tawaran sesuai permintaan Lille. Bersama Inter Milan, Liverpool, dan Napoli, klub ini mengaku siap membakar 80 juta euro, atau sekitar 75 juta paun untuk Nicolas Pepe. Bahkan, Arsenal mampu menawarkan paket pembayaran untuk agen si pemain, melebihi yang disanggupi Inter, Liverpool, dan Napoli.

Untuk situasi seperti ini, orang Jawa punya istilah yang cocok, yaitu ngising duit atau berak duit. Apa ya klub ini tinggal berak saja kalau butuh duit? Enak betul.

Dalam sebuah acara, Vinai bilang begini: “Kami tidak pernah bicara jumlah uang yang kami punya untuk belanja pemain karena itu tidak akan membantu menjelang penutupan jendela transfer. Membuka jumlah uang yang kami punya tidak akan membantu Raul (Sanllehi) dalam proses negosiasi.”

Baca juga:  Unai Emery, Usaha Memahami Logika Arsenal

Lalu, dari mana nominal 45 juta paun uang yang dimiliki Arsenal untuk belanja? Pada titik ini, semuanya seperti smokescreen, seperti asap pengecoh. Sebuah mindgame yang dibidani oleh Vinai dan Emery sejak awal. Mindgame adalah sebuah perilaku manipulatif, membuat lawan yang berusaha memprediksi sudah salah sejal awal “permainan jual-beli pemain” ini dimulai.

Benarkah Zaha prioritas utama seperti kata Emery? Jika dipikirkan ulang, Emery sendiri nggak pernah menyebut satu nama secara pasti, kecuali pemain itu sudah resmi seperti Dani Ceballos dan William Saliba. Semuanya hasil raba-raba para media.

Bagaimana dengan Nicolas Pepe yang harganya sama tingginya seperti Zaha? Bagaimana dengan Everton? Para winger dengan harga tinggi ini mau dibeli semua? Vinai dan Emery, dengan cerdik mempermainkan media. Kabar palsu yang beredar, saya rasa sukses membuat klub lain latah. Inter dan Liverpool misalnya, yang sebetulnya belum berani mengeluarkan tawaran resmi.

Napoli pun sama saja, yang memang sudah tertarik dengan Nicolas Pepe tapi belum pernah konkret karena mereka juga memikirkan Mauro Icardi. Tiba-tiba, ketiga klub itu bernai membuka harga tawaran. Apakah benar Arsenal mengejar Nicolas Pepe? Atau ini cara menggiring klub lain dan media menjauh dari incaran paling genuine?

Kalau semua kekacauan ini benar adanya, Vinai dan Emery betul-betul sudah membodohi pasar. Mindgame yang halus dari dua sosok baru di dalam manajemen The Gunners. Ya asal di akhir nanti, ketika akhirnya gagal beli pemain lagi, nggak lantas pakai alasan: “Sejak awal kami nggak punya duit. Nawar-nawar itu biar kelihatan keren aja.”

Sekuuut!