MOJOK.COMesut Ozil dan Paul Pogba adalah dua budak mewah yang kakinya dirantai oleh industri sepak bola. Industri yang rakus dan tidak tahu malu itu.

Sepak bola dirayakan dunia dengan penuh suka cita. Sepak bola, diresapi dalam beragam makna. Mulai dari hobi, harga diri, identitas, sampai agama. Sepak bola, di banyak tempat, menancapkan akarnya begitu dalam. Kehidupan sebuah negara bisa berhenti sesaat ketika sepak bola dipentaskan di atas panggung termegah.

Namun segala bangunan bernama suka cita dan kebahagiaan itu dibangun di atas keprihatinan. Maafkan saya jika terlalu halus. Mungkin, kata yang paling tepat adalah “kesedihan”. Tangis bahagia di atas lapangan, di sudut-sudut tribun, dibangun di atas tangis kesedihan mereka yang disingkirkan atau dikorbankan untuk sebuah panggung gemerlap.

Segala kebahagiaan dari sepak bola kita sambut dan nikmati sampai tetes terakhir. Namun, di sisi lain, kita juga dengan mudah memalingkan muka dan bersikap tidak peduli dengan kenyataan yang ada. Salah satunya adalah tentang “perbudakan” atas nama impian sepak bola.

Perbudakan ini sebuah fakta di balik mahalnya mesin sepak bola. Namun, orang-orang berkuasa sampai fans di pelosok dunia, masih malu-malu untuk mengakuinya. Bahkan perbudakan ini seperti debu yang sengaja disapu, disembunyikan di bawah karpet mewah supaya tidak ada yang menyadarinya.

Mesut Ozil dan Paul Pogba adalah “korban perbudakan” itu. Memang, mereka bisa disebut sebagai “buruh bergaji tinggi”. Namun, besarnya gaji yang didapat tak sepadan dengan besarnya nominal yang menjadi rantai dan mengikat kaki mereka. Memaksa mereka untuk tunduk dan tidak bertindak macam-macam selain menendang bola. Imajinasi mereka diperas atas nama industri sepak bola.

Mesut Ozil dan Paul Pogba yang teralienasi

Perdebatan itu tak akan pernah berhenti sebelum kebenaran terkuak. Ketika Arsenal sangat membutuhkan pemain #10, dia disingkirkan dari tim. Namanya tidak didaftarkan ke dalam skuat. Namanya diposisikan sebagai musuh bersama. Sosok pemain, Mesut Ozil, yang bisa dibenci siapa saja.

Gaung narasi yang begitu kencang terdengar adalah Mesut Ozil diasingkan karena menolak pemotongan gaji. Padahal, dari mulutnya sendiri, dunia tahu bahwa dia tidak pernah menolak kebijakan itu. Dia hanya butuh kepastian ke mana honor yang merupakan haknya dialihkan. Sejak saat itu, Mesut Ozil menjadi musuh bersama.

Paul Pogba, tersingkir dengan cara yang berbeda. Sang Penghibur ini dianggap gagal memberikan sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya, yaitu menghibur di atas panggung impian Manchester United. Perlahan, kepercayaan dirinya digerogoti. Ketika semua daya hidupnya menjadi kering, Paul Pogba dijadikan headline oleh sang agen demi menjaga arus uang terus mengalir.

Beberapa jam sebelum artikel ini ditulis, Paul Pogba dikabarkan sudah tidak lagi punya masa depan bersama Manchester United. Sama seperti Mesut Ozil, dia dikabarkan akan hengkang di Januari 2021. Tidak ada yang lain selain sang agen, Mino Raiola yang mengabarkan pernyataan sikap itu ke media.

Pada titik ini, Mesut Ozil dan Paul Pogba punya satu kesamaan, yaitu suara mereka tidak pernah terdengar dan dipedulikan. Nasib mereka ditentukan oleh suara-suara asing yang seperti mencucuk hidung dan mengarahkan ke mana mereka harus melangkah. Mereka menjadi budak yang lux. Status, yang juga menjadikan mereka Public enemy.

Kasus Mesut Ozil memang sangat pelik. Platform media sosial Mesut Ozil menyediakan kekuatan suara yang tidak bisa diremehkan. Oleh sebab itu, ketika Ozil berbicara lewat Twitter, misalnya, kalimat per kalimatnya, tidak mungkin tidak menjadi pembicaraan dunia.

“Al-Quran dibakar. Masjid ditutup. Sekolah muslim dilarang. Pemuka agama dibunuh. Saudara-saudara kita dipaksa masuk kamp. Kaum muslim (di dunia) diam. Suara mereka tidak terdengar.”

Kalimat Mesut Ozil menghantam dunia. Menghantam Arsenal dan otoritas Liga Inggris. Tidak butuh waktu lama, nama Ozil menjadi barang haram di Cina. Akun Mesut Ozil di Weibo, Hupu, dan Baidu Tieba ditutup oleh otoritas Cina. Banyak yang tidak nyaman dengan kenyataan yang disuarakan pemain asal Jerman itu.

Termasuk Arsenal dan otoritas Liga Inggris. Berbisnis dengan sebuah negara dengan jumlah penduduknya mencapai 1,6 miliar orang dengan pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen per tahun terlalu seksi untuk dilukai oleh sebuah kalimat dari pesepak bola. Aset besar tak boleh ternoda. Uang besar tak boleh berhenti mengalir.

Mengapa otoritas Liga Inggris ikut terganggu dengan kalimat Ozil? Perlu kamu ketahui, semua tim yang ada di divisi tertinggi berbisnis dengan Cina. Mereka menikmati 564 juta paun keuntungan dari hak siar. Ketika urusan dalam negeri Cina diusik, keuangan banyak klub terganggu. “Nama baik” otoritas Liga Inggris dipertaruhkan.

Jika kamu berbisnis dengan Cina, aturan yang berlaku hanya satu, yaitu aturan Cina. Simon Chadwick, profesor Sports Enterprise di Universitas Salford, Inggris, sekaligus pakar bisnis dan sepak bola Cina menegaskan soal aturan tunggal itu.

“Jika kamu berbisnis dengan Cina, Cina yang menentukan aturan, bukan kamu. Soal Arsenal, pilihan mereka adalah berpihak ke Cina meskipun akan melahirkan amarah fans di seluruh dunia, atau berpihak ke Ozil, yang mana akan menjadi akhir bisnis mereka dengan Cina,” tegas Profesor Chadwick.

“Mereka juga bisa mengeluarkan pernyataan yang menegaskan posisi mereka netral meskipun tidak akan membuat semua orang senang. Kecuali jika mereka sepenuhnya mendukung posisi pemerintah Cina, nama baik mereka akan benar-benar rusak,” tambahnya.

Merujuk ke teori Profesor Chadwick, Arsenal memang “memosisikan dirinya tidak punya posisi”. Mereka netral. Mesut Ozil kesal, begitu juga pemerintah Cina. Namun memang, dari sisi bisnis, hanya itu yang bisa dilakukan Arsenal. Kalau berpihak ke Ozil, mereka akan digencet oleh 19 klub beserta otoritas Liga Inggris.

Oleh sebab itu, sampai titik ini, saya selalu percaya bukan Arsenal saja yang menekan Mikel Arteta untuk tidak memainkan Mesut Ozil. Ada kekuatan yang lebih besar ikut menekan, yaitu otoritas Liga Inggris. Suara murni dari hati tidak ada harganya di depan lumbung uang.

Pogba dan keceriaan yang tidak lagi dibutuhkan

Matteo Bonetti, jurnalis ESPN mengungkap sebuah fakta menarik. Matteo membandingkan catatan statistik Paul Pogba bersama Juventus dan Manchester United.

Dari 124 laga bersama Juventus, Pogba membuat 28 gol dan 28 asis. Bersama United, catatan statistiknya tidak beda jauh. Dari 119 laga, dia membuat 26 gol dan 27 asis. Namun, kisah di baliknya sangat berbeda. Paul Pogba mungkin sudah mengambil jalan yang salah berkat Mino Raiola.

Bersama Juventus, dia tidak diperlakukan sebagai pesepak bola yang harus menjadi pembeda. Para pemain senior di sana melindungi Pogba dari ekspektasi yang tidak perlu. Mulai dari Andrea Pirlo hingga Claudio Marchisio. Pogba tak selalu bermain baik. Namun, dia tidak dipaksa untuk ikut menanggung “dosa”.

Sosoknya yang ceria dan dinamis membuatnya mudah disukai oleh para rekan di Juventus. Namun, bersama United, keceriaan Pogba adalah sebuah perkara. Tidak ada pesepak bola yang bisa konsisten main bagus selama satu musim. Bersama Juve dia dilindungi. Bersama United, seakan-akan, Pogba adalah penyebab “dosa asal” umat manusia. Terima kasih untuk banderol 105 juta euro yang bersemayam di pundaknya.

United dan rekan-rekannya tidak bisa melindungi Pogba dari ekspektasi yang tak perlu. Pogba tidak pernah meminta dirinya dihargai 105 juta euro. Pasar yang lahir di sepak bola industri yang menjadi penyebab. Oleh sebab itu, pertama-tama, dia adalah korban. Menjadi salah satu budak lux seperti Mesut Ozil.

Bersama United, narasinya bukan soal kualitas, bukan pula kebahagiaan, tetapi Pogba menjadi mesin uang komersial. Bersama timnas Prancis, di tengah lingkungan yang melindungi, Pogba menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya adalah salah satu yang terbaik. Padahal, ekspektasinya sama besar, yaitu menjadi juara dunia.

Kini, ketika Paul Pogba tidak bermain baik selama satu tahun, Mino Raiola mengail di air keruh. Bahkan kita sudah bisa menemukan kabar bahwa Mino akan mengirim Pogba kembali ke Juventus dengan dana 50 juta euro. Model transfernya adalah peminjaman di Januari 2021 dan pembelian permanen di akhir peminjaman.

Apa yang akan terjadi kepada Paul Pogba di Juventus? Apakah dengan kembali, semuanya akan berubah? Padahal, di dalam skuat Juventus saja perubahan itu sudah terjadi. Tidak ada jaminan dia akan sesukses dulu. Namun, yang paling penting adalah aliran uang tetap terjaga mengikuti hengkangnya Pogba. Menyedihkan.

Mesut Ozil dan Paul Pogba hanya dua nama yang menyeruak. Saya yakin, masih banyak pesepak bola di luar sana yang teralienasikan. Menjadi semacam tumbal untuk memuaskan kerakusan sepak bola industri. Ada yang diam saja. Ada pula yang menikmati status sebagai budak karena mereka dibayar mahal.

Terkadang, sepak bola tidak peduli soal makna hidup dan mati atau impian yang patah. Sepak bola seperti monster rakus, yang menelan semua rasa manusia, masuk ke dalam lambungnya yang megah.

Sepak bola seperti monster rakus, yang dari mulutnya menetes nektar kematian bernama kenikmatan dan kita mencecap nektar itu sampai tandas.

BACA JUGA Paul Pogba Tidak Perlu Menjadi Pahlawan Jika Manchester United Tak Bisa Melindungi Pemainnya dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Arsenal dan Timnas Inggris Tersesat dalam Upaya Mengejar Keseimbangan? Fans Menuntut Perubahan