4   +   6   =  

MOJOK.COBersama anak-anak muda di Buenos Aires dan Naples, kita berbagi sebuah kepercayaan bahwa Diego Maradona, tuhan sepak bola, telah tiada. Dieu est mort.

Anak-anak muda di Buenos Aires dan Naples menagis tersedu. Seakan-akan mereka ditinggal mati bapak sendiri. Seakan-akan mereka adalah saksi hidup kegemilangan salah satu seniman terbaik di lapangan hijau. Mereka tidak pernah menyaksikan Diego Maradona menari, tetapi menangisinya sepenuh hati.

Mereka hanya bisa menyaksikan aksi Diego Maradona lewat rekaman pertandingan, lewat ratusan menit video pendek di YouTube. Mereka hanya bisa merekam keindahan Maradona lewat parikan-parikan panjang di sebuah biografi atau catatan kaki di sebuah buku.

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Penggalan Kitab Yohanes bab 20 ayat 29 itu menggambarkan dengan sempurna duka cita yang dirasakan anak-anak muda di Buenos Aires dan Naples. Mereka tidak pernah menjadi saksi Maradona menggiring bola berbalut lumpur. Namun, mereka percaya bahwa dia adalah tuhan, dewa yang layak untuk disembah.

Duka cita yang dirasakan anak-anak muda di sudut Buenos Aires dan Naples adalah duka cita dunia. Banyak dari kita yang tidak pernah melihat proses “kenabian” Maradona, tetapi dengan penuh keyakinan menyematkan label “legenda” kepadanya. Terkadang, cinta memang tidak butuh pembuktian. Cinta hanya butuh kepercayaan.

Tepat pukul 03.00 dini hari, saya terbangun dari tidur yang sangat nyenyak. Tidak ada mimpi di tidur saya ini. Seperti yang dilakukan pecandu gawai yang baik pada umumnya, saya tidak mencoba untuk tidur lagi, tetapi mengecek hape untuk membaca beberapa pesan.

Dan di sana… saya menemukan sebuah kabar meninggalnya Diego Maradona di usia 60 tahun karena sakit jantung. Tidak ada rasa kaget yang berlebihan. Namun, beberapa detik setelah membaca kabar itu, terlintas sebuah frasa di dalam kepala: seniman sepakbola.

Aneh. Kata yang muncul di dalam kepala adalah “seniman”, bukan tuhan apalagi dewa. Saya tidak begitu percaya dengan yang namanya kebetulan. Yang saya percayai adalah sebuah pertanda. Lantaran Diego Maradona hanya serupa seniman di dalam kepala saya, maka dia hanya sebatas manusia.

Jonathan Wilson, jurnalis termasyhur sepak bola itu berkata bahwa di sepanjang karier Maradona, hanya ada empat musim yang bisa dikatakan luar biasa. Mungkin, Jonathan sedang merujuk ke masa-masa indah Maradona bersama Napoli, di mana dia memenangi dua Scudetto dan satu UEFA Cup.

Namun, terkadang, “kenabian” seseorang memang hanya ditentukan dalam jangka waktu yang pendek. Seseorang menjadi “nabi” bukan karena laku seumur hidup, tetapi ditentukan dari potongan-potongan segmen yang membuatnya menjadi manusia luhur.

Yesus Kristus mulai mewartakan kabar gembira selepas usia 30 tahun. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dengan ditandai turunnya Al-Quran di usia 40 tahun. Segmen-segmen hidup yang terbilang pendek dari dua insan unggulan ini menentukan status mereka sebagai “yang terpilih”.

Begitu juga dengan Diego Maradona….

Mohon maaf sebelumnya, saya tidak sedang menyandingkan Diego Maradona dengan Yesus atau Nabi Muhammad SAW. Hal ini perlu saya tegaskan biar kamu semua yang cekak pikiran tidak menghakimi saya sedang melakukan penistaan agama.

Diego Maradona menjadi tuhan atau dewa berkat potongan-potongan segmen kehidupan yang membuat banyak orang menahan napas.

Jonathan Wilson menyebut Maradona hanya bermain sangat bagus selama empat musim sepanjang kariernya. Maradona, seperti kita kebanyakan, jatuh ke dalam dosa. Injeksi kimia dan kokain mewarnai kehidupannya sejak kanak hingga menaklukkan dunia.

Lain Jonathan, lain saya. Di mata saya, “fragmen kenabian” Maradona ditentukan oleh 44 langkah yang memisahkan dirinya di lapangan tengah dengan gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton OBE di Piala Dunia 1986.

Adalah 44 langkah, 12 sentuhan, dan 10,8 detik yang dibutuhkan Diego Maradona untuk melaju melewati lima pemain Inggris sebelum menjadikan Shilton sebagai pecundang. Aksi 10,8 detik itu yang, bagi saya, menegaskan statusnya sebagai dewa. Bukan gol tangan tuhan yang Maradona sendiri mengklaimnya ada “bantuan” dari Tuhan biar gol itu terjadi.

Adalah 44 langkah dan 12 sentuhan itu yang merangkum semua “unsur kenabian” di dalam diri Diego Maradona. Sebuah gambaran seniman yang penuh percaya diri, berlimpah kekuatan, sangat kreatif, memberi kebahagiaan bagi umat, dan menjadi inspirasi bagi generasi baru.

Tahukah kamu, gambaran seniman yang penuh percaya diri, berlimpah kekuatan, sangat kreatif, memberi kebahagiaan bagi umat, dan menjadi inspirasi bagi generasi baru adalah makna yang terkandung dalam sebuah “angka malaikat” dengan bilangan 0333 atau 333. Persis seperti pukul di mana saya terbangun dari tidur yang begitu nyenyak. Kebetulan?

Angka malaikat 333 juga menggambarkan persona yang sedang menggenapi the new path. Dia punya daya yang besar untuk selalu menatap ke depan (to keep your eyes on the goal and move forward).

Begitulah Diego Maradona ketika melewati 44 langkah untuk menjadi penggenapan akan nubuat angka malaikat 333. Melewati lima pemain, dia menatap ke depan, matanya bukan hanya terarah ke gawang, tetapi kepada hadiah tertinggi di babagan sepak bola: juara Piala Dunia.

Dan the new path itu terbuka. Sebuah jalur baru yang menuntun Argentina sampai ke puncak dunia untuk kemudian menundukkan Jerman Barat. Ketika trofi Jules Rimet itu diangkat Maradona tinggi-tinggi, maka tergenapilah “sabda semesta” bahwa dia menjadi “nabi” bagi dunia sepak bola.

Sebagai “nabi”, Diego Maradona penuh dengan kekurangan. Selain tenggelam dalam kokain, Maradona juga sangat dimanja di usia muda. Kedewaannya di sepak bola sejak usia muda membantunya bolos sekolah, tidak mendapat hukuman ketika melanggar aturan, dan lain sebagainya. Dan dia menikmatinya.

Namun, bukankah hal-hal manusiawi itu yang membuat semua nabi lebih mudah dicintai? Banyak dari kita berdoa dengan memosisikan para nabi seperti junjungan sekaligus teman terdekat. Dengan begitu, kita merasa lebih dekat, sebagai usaha memahami, untuk kemudian mencintai.

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Bersama anak-anak muda di Buenos Aires dan Naples, kita berbagi tangis. Berbagi sebuah kepercayaan bahwa tuhan sepak bola telah tiada. Dieu est mort.

BACA JUGA 7 Fakta Menarik Tentang Napoli yang Tidak Banyak Diketahui Orang dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Laju AC Milan dan Everton, Perkembangan Arsenal: Ketika Keagungan Proses Dipandang Sebelah Mata