MOJOK.CODua tahun yang lalu Benteng Surajaya berduka. Dinding dan rumput Surajaya merekam senyum Choirul Huda yang merekah lebar, tak lekang oleh waktu.

Saya percaya, terkadang, kedekatan antara pesepak bola dengan suporter teramat sangat dekat. Bahkan lebih dekat ketimbang darah daging sendiri. Seorang suporter bisa tertawa lebih lepas ketika pemain terkasihnya mencetak gol. Seorang suporter bisa menangis lebih dalam ketika pemain pujaannya dipanggil Tuhan, melebihi hubungan kakak dan adik.

Fanatisme dalam arti yang positif membuat kehilangan menjadi sangat terasa. Pilu yang terasa bahkan bertahan lebih lama ketimbang ditinggal rabi mantan kekasih. Ada satu ruang kosong yang tidak mungkin diisi kembali.

Dan sore itu, Benteng Surajaya mengibarkan bendera setengah tiang. LA Mania menangis bersama. Bernyanyi bersama. Berkabung bersama-sama. Lagu Sampai Jumpa dari Endang Soekamti membahana, lalu ditimpa oleh koor LA Mania. Lagu dengan iringan biola itu menyadi himne, serupa elegi, melepas si pemilik senyum manis, Cak Choirul Huda.

Hey!
sampai jumpa di lain hari
untuk kita bertemu lagi
kurelakan dirimu pergi
meskipun
ku tak siap untuk merindu
ku tak siap tanpa dirimu

ku harap terbaik untukmu

Choirul Huda adalah wujud dari frasa Benteng Surajaya itu sendiri. Sebuah stadion yang sangat sulit ditaklukkan lawan. Persela Lamongan selalu punya tenaga berlebih untuk berlari lebih kencang dan bergerak lebih cepat ketika bermain di Surajaya. Persela adalah satu-satunya klub dari kabupaten yang belum pernah degradasi lagi setelah promosi pada 2004.

Laskar Joko Tingkir dikawal oleh dua sosok yang kini sudah menghadap Tuhan. Mereka adalah Miroslav Janu dan Choirul Huda. Miro Janu, dengan tim pencari bakat yang sangat bagus, membawa Persela Lamongan duduk di peringkat empat Indonesia Super League pada 2012. Salah satu modalnya adalah sulit kalah di kandang.

Baca juga:  Cintaku Terhalang Persija

Heroiknya Laskar Joko Tingkir di Benteng Surajaya diawasi secara langsung oleh Choirul Huda, penjaga gawang dengan rentangan tangan di atas rata-rata kiper Indonesia. Beliau adalah kapten, menyuntikkan kepercayaan diri secara paripurna dari bawah mistar. Teriakan-teriakannya menenangkan rekan di atas lapangan. Senyumnya yang merekah memberikan rasa aman.

Senyum Choirul Huda seperti hendak berbicara bahwa, “Semua akan baik-baik saja. Mari bermain untuk LA Mania. Mari bersenang-senang dan menikmati pertandingan.” Sebuah senyum yang membuat Persela Lamongan bisa menghadapi semua laga dengan hati yang teguh, lagi ringan.

Senyum Choirul Huda merekah lebar di tahun 2012. Huda mengingat lagi pertandingan heroik ketika Persela Lamongan mengalahkan tuan rumah Persisam Samarinda dengan skor 1-0. Ismail Suhendra, lewat tulisannya di Fandom menggambarkan pertandingan super itu secara sederhana:

“Pencetak gol tidak lain adalah Gustavo Lopes, tapi yang masih ingat pertandingan itu pasti menunjuk Choirul Huda sebagai man of the match. Persela unggul cepat pada menit ke-7. Namun, pada menit-menit berikutnya seharusnya pertandingan itu adalah milik Persisam. Gempuran-gempuran Pesut Etam membabi buta. Tapi penampilan moncer kiper kelahiran 2 Juni 1980 membuat lini depan Persisam frustasi waktu itu.”

“Selain penyelamatannya, yang paling dikenang dari pertandingan itu adalah senyuman yang nyaris tertawa dari Huda. Setelah melakukan double save dari tendangan bebas Gonzales yang disambar Eka Ramdani, Huda tersenyum sumringah. Yang teringat pasti tertawa melihatnya. Huda Edan Tenan!”

“Saya meringis waktu itu selain karena pembawaan saya, ya biar melepas ketegangan saja. Waktu itu kita sedang underpressure banget loh,” kata Choirul Huda kala itu.”

Baca juga:  Jika VAR Digunakan di Indonesia, Mungkin Tidak Ada Manfaatnya

Penggambaran yang sederhana dari Ismail Suhendra. Namun, dari kesederhanaan cara penyampaian itu kita bisa mendapatkan gambaran betapa krusialnya sosok Choirul Huda di bawah mistar Persela.

Tidak hanya di atas lapangan. Almarhum adalah “Bapak” untuk anak-anak Persela. AC Milan punya Paolo Maldini, AS Roma punya Francesco Totti, Persela Lamongan punya Cak Choirul Huda. Dia tidak pernah menanggapi ketertarikan klub lain. Sarung tangan yang sudah kusam dan koyak itu hanya ia persembahkan untuk kejayaan Benteng Lamongan.

Tertanggal 23 Oktober 2017, Benteng Surajaya banjir air mata lagi. LA Mania memberikan penghormatan terakhir. LA Mania mengumandangkan “Sampai Jumpa”. Papan skor elektronik di Surajaya menampilkan rekaman Choirul Huda yang sedang melakukan selebrasi.

Kedua tangannya diangkat ke atas. Dua jari telunjuk menunjuk ke langit sebagai ucapan syukur. Choirul Huda merayakan gol Persela yang dicetak pemain lain seakan-akan kakinya sendiri yang mengoyak jala lawan.

Pendar cahaya lilin mulai mewarnai tribun Surajaya menjelang turunnya gelap dua tahun yang lalu.

Sampai jumlah di lain hari

Untuk kita bertemu lagi

Kurelakan dirimu pergi

Para pemain mengarak foto Choirul Huda. Diiringi ribuan isak dan mata terpejam menahan guguran air mata, Cak Huda menyapa LA Mania untuk terakhir kali. Saat itulah spanduk raksasa terbentang dengan sebuah kalimat ditorehkan di dalamnya. Bunyinya:

“TERSENYUMLAH DI ATAS AWAN KAPTEN”

Rest in Pride, Cak Choirul Huda. Benteng Surajaya masih kokoh dan tak akan lekang oleh waktu.

BACA JUGA Choirul Huda, Kebanggaan Besar Persela Lamongan atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles