fbpx

MOJOK.COManchester United, Rashford, dan duet McTonminay-Fred adalah susunan skuat untuk big match. Makin kuat, mereka menjadi big game player yang sulit kalah.

Anomali sering terjadi ketika sebuah tim menjadi begitu sulit dikalahkan di “laga-laga besar”. Ketika menghadapi lawan satu level atau mereka yang lebih baik, tim ini tampil luar biasa. Ketika melawan tim yang seharusnya mudah dikalahkan, tim ini terbawa ritme lawan dan gagal menang. Musim ini, Manchester United menjadi “tim itu”.

Penonton sepak bola, mayoritas saya yakin suka dengan pertandingan yang terbuka. Biasanya, mereka menemukan keasyikan itu ketika menonton big match. Saling menyerang, saling menekan membuat lawan membuat kesalahan, dan gol-gol yang terjadi bergantian. Pertandingan yang terbuka, mereka menyebutnya.

Lain cerita ketika sebuah tim besar bertemu dengan para penghuni papan tengah, bahkan bawah. Kalah kualitas, tim papan tengah atau bawah akan bertahan dengan “apa yang mereka bisa”. Mulai dari bermain dengan garis pertahanan rendah, menumpuk pemain, dan memaksa pertandingan berjalan dengan tempo yang lambat.

Penonton akan cepat bosan. Apalagi ketika tim besar malah terbawa ritme lambat lawan. Manchester United, di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjaer punya masalah itu. Melawan Aston Villa, Sheffield United, Bournemouth, Newcastle United, atau West Ham United, Setan Merah gagal menang. Laga-laga yang membuat Ole menjadi bahan meme terbaik sepanjang minggu.

Sepak bola adalah masalah pemanfaatan ruang kosong. Manchester United bermasalah ketika ruang kosong itu tidak tersedia. Ketika lawan bertahan cukup dalam, Manchester United kekurangan ide untuk setidaknya sampai di depan gawang. Ketika pertandingan seperti menemui jalan buntu, serangan balik lawan dan gol-gol konyol menghukum mereka.

Lain cerita ketika bertemu tim besar. Mereka berpesta ruang karena lawan juga lebih suka menyerang. Lini depan yang diisi pemain-pemain cepat membuat Manchester United lebih mudah menemukan ruang. Situasi seperti ini yang membuat mereka berbahaya. Melawan enam besar Liga Inggris, Manchester United belum pernah kalah. Kini, mereka adalah big game player sesungguhnya.

Saya sebut “player” karena sebuah tim diisi pesepak bola. Tentu saja. Selama menghadapi tim-tim besar, pemain seperti Marcus Rashford, Anthony Martial, Dan James, bahkan hingga Jesse Lingard, mendapatkan ruang untuk membuat peluang. Situasi ini paling ideal, terutama untuk Rashford dan Martial. Dua big game player Manchester United yang rajin bikin gol.

Baca juga:  Bersama Paul Pogba dan Papua, Tendang Rasisme Jauh-jauh

Bermain dari sisi kiri, Rashford membutuhkan ruang untuk melakukan cut inside dan akselerasi jarak pendek. Manchester United belum menjadi tim yang jago menciptakan ruang dari sebuah teknik bernama positional play. Apa itu? Secara sederhana, positional play adalah sebuah usaha menggeser blok pertahanan lawan untuk membebaskan pemain dari kawalan pemain lawan.

Misalnya dengan membuat situasi menang jumlah pemain di sisi kanan. Lawan akan terpancing untuk menggeser blok pertahanan ke sisi “menang jumlah itu”. Lalu, secara tiba-tiba, tim yang menang jumlah, melakukan switch ke sisi kiri, di mana ada satu atau dua pemain yang kosong untuk eksekusi peluang.

Manchester United belum sampai ke level jago. Mereka memanfaatkan betul ruang yang dibuat oleh lawan sendiri. Misalnya patahnya transisi dari bertahan ke menyerang atau organisasi pertahanan yang memang buruk. Rashford dan Martial seperti sepasang naga yang mendapat hujan. Mereka sangat berbahaya ketika ruang itu diberikan cuma-cuma.

Rashford memberi gambaran nyata di dua big match terakhir. Manchester United menang atas Tottenham Hotspur dan Manchester City. Dua big match di mana mereka tidak dijagokan dan diprediksi akan kalah. Rashford membuat satu gol di masing-masing big match itu. Keduanya berasal dari ruang yang diberikan lawan.

Manchester United sendiri punya catatan apik ketika bertemu lawan berat. Mereka menang atas Chelsea (4-0), imbang melawan Arsenal (1-1), imbang melawan Liverpool (1-1), menang atas Chelsea lagi (2-1), menang atas Spurs (2-1), dan terakhir atas City (2-1). Kemenangan yang membuat tagar Manchester is Red menjadi trending topic dunia.

Membaiknya performa Manchester United bukan saja diwarnai dengan matangnya Rashford. Dua pemain yang mengawal perbaikan performa itu adalah duet McTominay dan Fred. Duet pemain yang sebelumnya tidak pernah diperkirakan akan bisa bermain bersama karena keberadaan Paul Pogba.

Baca juga:  Santi Cazorla: Legenda Arsenal dan Pengingat Beratnya Sebuah Proses Kebangkitan

Saya masih ingat betul ketika Fred diledek suporter Manchester United sendiri. Pemain asal Brasil itu dianggap tidak punya standar menjadi penting. Ketika Pogba pulih dari cedera, Fred pasti terlempar ke bangku cadangan. Namun, yang justru terjadi adalah, meski Pogba pulih, menggeser Fred ke bangku cadangan akan menjadi pilihan yang tidak bijak.

McTominay dan Fred bukan pemain super kreatif. Namun, keduanya paham dengan makna kerja keras. Etos kerja mereka yang membuat lini tengah Manchester United menjadi sebuah mesin yang berbeda. Etos kerja yang sejak dulu menjadi dasar kerja lini tengah Manchester United.

Duet Roy Keane dan Paul Scholes. Duet Scholes dan Michael Carrick. Bahkan ketika Owen Hargreaves sehat, Sir Alex Ferguson tidak pikir dua kali untuk memainkannya. Mereka adalah big game players. Apalagi Hargreaves, yang langsung masuk starting XI di final Liga Champions karena Sir Alex paham dengan kekuatan mental dan kualitas teknisnya

Sudah menjadi tradisi bagi Manchester United untuk punya duet gelandang tengah yang mau berlari sampai muntah. Mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggal bek sayap. Siap mengorbankan diri untuk melakukan tactical foul. Punya cadangan napas untuk naik membantu serangan. Intinya adalah duet gelandang tengah ini menciptakan keseimbangan.

Kini, Manchester United punya skuat yang sangat bagus di big match. Perpaduan lini tengah yang kokoh dan tajamnya lini depan. Sebuah tim bisa sesumbar menantang sang juara ketika mereka punya cara untuk apa pun jenis pertandingan. Titik itulah yang perlu dicari Ole Gunnar dan anak-anak asuhnya.

Kelak, ketika titik itu tercapai, bayangan dominasi Manchester United di medio 90an pasti terbayang. Dominasi yang bukan hanya didasari oleh kualitas teknis, melainkan mental dan–orang Italia menyebutnya sebagai grinta atau komitmen untuk tidak kalah!

BACA JUGA Sosok Ole Gunnar Solskjaer dengan Siluet Sir Alex Ferguson di Belakangnya atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles