MOJOK.CODominasi Liverpool dan Mohamed Salah memang terlihat membosankan di mata para medioker. Namun, itu ujung dari kerja keras dan tidak bisa kita salahkan.

Puthut EA, lewat akun Twitter pribadinya angkat suara. Kepala Suku Mojok itu bilang kalau Liga Inggris kian membosankan. Pertandingan antara Liverpool vs Manchester United yang bisanya panas pun berjalan begitu dingin. Pada titik tertentu, saya setuju dengan klaim komentator spesialis Liga Albania itu: Liga Inggris memang membosankan.

Sebentar. Liga Inggris memang membosankan. Namun, kamu nggak bisa begitu saja menyalahkan Liverpool dan pemain terbaiknya: Mohamed Salah. Saya tahu, klaim “Liga Inggris yang membosankan” pasti membuat semua mata tertuju kepada jarak antara pemuncak klasemen dengan posisi dua.

Jarak antara Liverpool dan Manchester City terbentang mencapai 16 poin. The Reds di posisi satu dengan 64 poin dan City baru mengumpulkan 48 poin. Hasil imbang ketika melawan Crystal Palace membuat jarak antara keduanya menjadi 16 poin. Di Twitter, orang sudah ramai-ramai mengucapkan selamat kepada Liverpool menjadi juara Liga Inggris 2019/2020.

Padahal ini baru Januari 2020. Biasanya, juara sebuah liga baru ketahuan di awal Mei, paling cepat April. Jika sampai akhir pemain kunci seperti Mohamed Salah, Jordan Henderson, Virgil van Dijk, dan Alisson tidak kena teluh, Liverpool bakal menjadi juara paling cepat dalam sejarah Liga Inggris. Pengakuan di Januari 2020 kita anggap saja sebagai penegasan status juara itu.

Ya kalau misalnya jarak 16 poin bisa disusul karena Liverpool tiba-tiba kalahan, kamu nggak usah heran juga. Itu artinya Liverpool menjadi diri sendiri. Nggak ada yang mengherankan.

Namun, sekali lagi, Liga Inggris menjadi membosankan bukan salah The Reds dan Jurgen Klopp. Mereka keliwat konsisten? Bukankah semua klub di papan atas memang mengejar konsistensi? Ketika sebuah klub berhasil melakukannya, berarti salah klub lain yang memang medioker dan kalahan. Titik.

Baca juga:  Virus Corona, Juventus, PS Sleman, dan Sepak bola dalam Keterasingan

Mohamed Salah kok bisa dengan mudah menemukan jaring lawan hampir di setiap laga? Mau keadaan itu karena keberuntungan pun boleh. Terkadang, mereka yang beruntung adalah mereka yang berjuang paling keras di setiap laga. Konsisten The Reds memang mengerikan. Untuk satu aspek ini, kamu perlu memberikan apresiasi.

Bagaimana ceritanya, Mohamed Salah yang sudah ditempel pemain Manchester United, masih bisa mengirim bola di bawah kaki David De Gea untuk mencetak gol pemasti kemenangan? Liverpool mengubah pendekatan menjadi lebih pragmatis ketika menarik keluar Sadio Mane dan Roberto Firmino. Pendekatan yang terbilang pas.

Liverpool sering melakukannya. Mereka bermain lebih pragmatis. Membuat lapangan tengah “aman” untuk mereka. Bermain lebih buruk tidak lantas mereka “jelek”. Toh pada akhirnya mereka memenangkan pertandingan. Pada akhirnya, bukankah itu yang paling penting dari sebuah pertandingan? Menyelesaikannya dengan kemenangan.

Virgil van Dijk langsung bisa menggeser fokus ke laga berikutnya setelah mengalahkan United. Mereka punya pendekatan yang berbeda untuk sebuah laga. Mereka siap dengan segala sesuatu. Dan di ujungnya adalah konsisten.

Konsisten yang membuat mereka belum merasakan kekalahan. Konsisten yang membuat Mohamed Salah dan kawan-kawan berpeluang menjadi tim kedua di Liga Inggris setelah Arsenal yang menjadi juara tanpa terkalahkan. Konsistensi yang membuat mereka berpeluang diganjar piala emas di akhir musim.

Fans Arsenal kesal dengan pencapaian Liverpool? Sudah, tidak perlu senewen. Rekor kan memang ada untuk dipecahkan. Hampir tidak ada rekor di dunia ini yang tidak bisa digapai orang lain.

Baca juga:  Hasil Pertandingan Liga Inggris Pekan ke-34: Manchester City Pesta Pora, Liverpool Raih Hasil Seri

Dulu, tidak ada yang menyangka rekor Gerd Muller bisa dipecahkan Lionel Messi. Rekor 85 gol yang dicetak oleh Muller selama satu tahun kalender itu sudah bertahan selama 37 tahun. Rekor yang dibuat pada 1972 itu pecah pada 2012 ketika Messi mencetak 86 gol dalam satu tahun kalender. Di akhir musim, Lionel Messi diganjar dengan penghargaan Ballon d’Or.

Rekor Arsenal terjadi pada musim 2003/2004. Liverpool berpeluang memecahkan rekor itu pada musim 2019/2020. Baru 16 tahun yang lalu. Bukan waktu yang lama.

Yang perlu kita salahkan kemudian adalah para pesaing. City yang tidak konsisten, Leicester City juga sama saja. Chelsea? Kalau mereka tidak konsisten karena skuat yang “apa adanya” yang maklum saja. Frank Lampard sudah bekerja dengan baik, meski tidak cukup untuk membuat mereka sekadar menjadi “pesaing”.

Tottenham Hotspur? Sebentar, kita sedang berbicara soal Liga Inggris, bukan pameran instalasi seni toilet duduk.

Arsenal? sudahlah, finish di posisi 10 saja sudah sangat baik. Arsenal mau mencegah Liverpool tidak clean sheet kekalahan di musim ini? Ya silakan saja. Kalau gagal, jawabannya sudah kita ketahui bersama: Liverpool memang konsisten dan sangat fokus untuk sebuah laga.

Dominasi memang terlihat membosankan di mata para medioker. Katanya tidak ada greget dan keseruan. Itu cuma kalimat-kalimat pembenaran karena kegagalan mencegah Mohamed Salah dan kawan-kawan menjadi begitu dominan.

Bagi mereka yang perkasa di liga, dominasi adalah ujung dari kerja keras. Tidak ada yang bisa membantah teori itu.

BACA JUGA Heavy Metal Ke Rock Ballad: Jurgen Klopp dan Pupur Liverpool atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.