[MOJOK.CO] Ketika Persib Bandung membutuhkan gelandang yang mampu mengontrol tempo seperti Michael Essien musim lalu.

Liga 1 musim 2018/2019 belum berjalan manis bagi Persib Bandung. Dua kali bermain, Usap Perning belum pernah menang. Hasil minor didapat, satu kali bermain imbang, dan yang paling anyar, Persib kalah dari Sriwijaya FC. Meski sempat unggul terlebih dahulu, Persib justru menyerah dengan skor 1-3.

Kritik untuk manajemen mengalir deras. Ada dua poin besar yang menjadi keprihatinan Bobotoh. Pertama, lini pertahanan yang diisi pemain-pemain uzur yang mulai tidak kompetitif dan kerinduan akan sosok Michael Essien.

Untuk lini pertahanan Persib, memang diisi nama-nama besar seperti Toni Sucipto, Supardi Nasir, dan Victor Igbonefo, rekrutan baru musim ini. Namun, ketiganya tak lagi berada dalam usia emas, tak lagi punya kewaspadaan yang dibutuhkan ketika stamina mulai anjlok dan lawan menaikkan intensitas serangan.

Toni Sucipto, bek serba bisa itu, sudah berusia 32 tahun. Toni adalah bek dengan pengalaman cukup banyak untuk bermain di banyak posisi. Keberadaannya sangat penting untuk menutup banyak posisi lantaran kedalaman skuat Persib yang tidak terlalu baik.

Supardi Nasir, bek kanan modern ala Indonesia, sudah menginjak usia 34 tahun. Bagi bek sayap, usia senja, yang biasanya dibarengi dengan penurunan akselerasi dan stamina, berpotensi menjadi masalah. Banyak bek sayap yang mengubah cara bermain ketika menginjak usia senja. Misalnya dengan lebih banyak bergerak ke tengah layaknya gelandang bertahan. Meski memang, perubahan tersebut juga bergantung kepada kebijakan pelatih.

Bagaimana dengan Victor Igbonefo? Pemain naturalisasi berdarah Nigeria tersebut sudah berusia 32 tahun. Pengalaman membuatnya sangat terlatih menghadapi beragam situasi.

Namun, kondisi fisik, untuk intensitas tinggi Liga Indonesia, menjadi musuh besar Igbonefo. Apalagi, Igbonefo baru saja pulih dari cedera. Kondisinya tidak akan selalu 100 persen untuk Persib.

Dua gol Sriwijaya dalam rentang dua menit menjadi bukti. Penurunan kondisi fisik, biasanya dibarengi dengan level konsentrasi. Yang berbahaya, berujung kepada menurunnya keamanan gawang.

Selain ketiga pemain di atas, manajemen mendatangkan “pemain senja” lagi untuk lini belakang dalam diri Bojan Malisic. Pemain asal Serbia tersebut sudah berusia 33 tahun. Selain usia, masalah lain dari Bojan adalah statusnya sebagai pemain baru, di mana pastinya tidak mudah beradaptasi dengan iklim sepak bola Indonesia.

Baca juga:  Indonesia Merdeka, Tapi Sepak Bolanya Masih Dijajah 5 Hal Ini

Selain masalah usia senja pemain belakang, Persib juga merindukan sosok gelandang yang bisa “menenangkan” tim di tengah pertandingan yang ketat. Musim lalu, Michael Essien sedikit banyak bisa melakukan tugas tersebut dengan baik. Kedewasaan dan kematangannya mendistribusikan bola sangat dibutuhkan Persib.

Musim ini, manajemen membuat kejutan ketika tidak memasukkan nama Essien ke dalam skuat baru. Apakah Persib tak lagi mampu merekrut pemain premium dalam diri Essien? Sebuah pertanyaan yang tentunya cukup janggal karena Persib “disokong” mesin manajemen yang kita semua tahu kekuatannya.

Nama-nama gelandang yang saat ini dimiliki Persib seperti Atep, Hariono, Eka Ramdani, Oh In-Kyun, hingga Kim Jefry Kurniawan bukan tipe controller yang bisa mengatur cara bermain tim. Kelima pemain tersebut justru bisa maksimal ketika ada satu controller yang mampu menggerakkan mereka.

Solusi apa yang cocok untuk Persib? Mengubah cara bermain dan peran pemain tentu bukan pekerjaan mudah pun cepat. Apalagi, jika melihat komposisi gelandang di atas. Salah satu solusi instan tentu dengan membeli pemain. Kebetukan, jendela transfer Liga 1 masih tersisa dua hari. Akankah jadwal sepak mula yang molor akan menjadi berkah untuk Persib?

Jika memang harus membeli pemain, inilah 3 pemain alternatif bagi Persib:

Persib merekrut Essien lagi

Proses transfer, terutama membeli pemain, memerlukan waktu yang tidak sebentar. Mengingat keterbatasan waktu yang dimiliki Persib, langkah yang paling masuk akal adalah merekrut kembali Essien.

Yang dibutuhkan Persib hanyalah kebesaran hati untuk kembali mendekati Essien, pemain yang sudah terlanjut mereka coret sebelum liga dimulai. Tak perlau penjelasan panjang lebar soal kelebihan bergabungnnya Essien kembali.

Yang paling menguntungkan adalah Persib mampu memotong waktu adaptasi pemain dan bisa segera memproduksi hasil instan.

Baca juga:  Mengapa Ezechiel N'Douassel, Striker Persib, Begitu Berbahaya?

Mendekati Mark Klok

Sumber kekuatan PSM Makasaar adalah lini tengah, dengan Mark Klok sebagai salah satu kuncinya.

Klok mampu bermain di dua posisi sama baiknya, yaitu gelandang bertahan dan gelandang serang. Kemampuannya pun sangat komplit untuk berlaga di Liga Indonesia. Sebagai gelandang bertahan, Klok punya kemampuan duel satu lawan satu, pandai membaca perkembangan sebuah laga, dan jeli menutup ruang di wilayah pertahanan.

Yang menarik, Klok mampu menginisiasi serangan dari kedalaman. Anda bisa menyebutnya sebagai deep playmaker. Tingkat kreativitasnya bisa diandalkan, punya teknik satu sentuhan yang baik, teknik umpan yang prima, dan kepercayaan diri untuk menjadi kontrol lini tengah. Betul-betul pemain yang dibutuhkan Persib.

Kendala Persib apabila ingin memboyong Klok adalah soal harga dan sikap PSM. Melihat kualitas, harga Klok jelas akan tinggi. Sementara itu, melepas pemain ketika musim sudah berjalan akan sangat merugikan PSM. Apalagi, saat ini PSM tengah duduk di peringkat pertama. Mengurangi kekuatan tim dengan melepas Klok sungguh sulit terjadi.

Pemain underrated: Fadil Sausu

Fadil Sausu adalah pemain yang jarang disebut ketika Bali United mampu tampil luar biasa di paruh kedua musim lali. Padahal, kapten Bali United ini merupakan kunci mengapa Bali United dengan Stevano Comvalius di depan bisa sangat berbahaya. Fadil punya kemampuan umpan vertikal yang sangat baik, dengan akurasi yang bisa diandalkan.

Fadil banyak beroerasi di depan bek Bali United. Tak hanya sebagai gelandang bertahan yang cakap merebut bola tanpa melakukan sliding, Fadil mengontrol tempo Bali United dengan baik lewat akurasi umpan. Ketika butuh penguasaan bola, Fadil membagi bola ke sisi lapangan. Ketika butuh serangan balik cepat, umpan tegak dari kedalaman dapat diandalkan.

Memboyong Fadil artinya tidak perlu menghabiskan jatah pemain asing, yang memang sudah penuh terisi. Berbeda dengan Essien dan Klok yang berstatus pemain asing, memboyong Fadil seharusnya lebih mudah. Dan satu hal lagi, Fadil punya materi untuk menjadi kapten. Sosok yang bakal “menenangkan” Persib ketika kecamuk pertandingan mengancam.



Loading...



No more articles