MOJOK.COJuventus dikabarkan akan memecat Sarri dan merekrut Pep Guardiola. Benarkah rumor tersebut? Bagaimana cara media menggarami berita transfer itu?

Musim 2019/2020 sudah akan berakhir empat bulan lagi. Maka maklum kalau mulai sekarang, kabar transfer dengan nominal besar akan lebih banyak beredar. Misalnya Chelsea, yang konon tinggal sedikit lagi mendapatkan tanda tangan Hakim Ziyech. Nominal uang yang terlibat lebih dari 47 juta euro.

Selain pemain, kepindahan pelatih punya bobot excitement yang sama. Apalagi ketika kita bicara soal pelatih dengan curriculum vitae mengilap. Misalnya ketika kita bicara Pep Guardiola, pelatih Manchester City. Karier pelatih berusia 49 tahun bersama City dikabarkan sudah akan paripurna.

Ke mana Guardiola akan melanjutkan karier? Tidak mungkin kalau ke Persiwi Wonogiri. Mau melatih sepak bola atau hiatus lagi demi belajar jualan mie ayam di Holy Land of Chicken Noodle. Nama Guardiola sudah dihubungkan dengan Juventus. Kenapa kabar ini bisa muncul? Mari kita lihat kemungkinan yang terjadi dan cara media menggarami rumor tersebut.

Performa Juventus

Performa Juventus baik adanya. Mereka masih dalam jalur perebutan Scudetto. Memang, mereka tidak menjadi juara paruh musim. Memang, mereka tidak sedang menguasai capolista. Kamu tentunya tidak bisa begitu saja mengeluarkan Inter Milan dari variabel penyebab. Namun, melihat performa Juventus secara keseluruhan, mereka “baik adanya”.

Namun, terkadang, “baik” saja tidak cukup. Juventus dan Serie A secara keseluruhan bukan lagi penyembah skor legendaris “uno-zero”. Serie A sudah berkembang pesat dan menjadi salah satu kampus terbaik untuk belajar. Serie A bukan lagi soal pertahanan gembok tebal. Serie A tetap cantik dengan caranya sendiri.

Ada kegelisahan yang saya rasakan dari Juventini yang wara-wiri di timeline @arsenalskitchen. Maurizio Sarri, hingga Februari 2020 terlihat masih kesulitan menentukan 11 pemain utama. Selain itu, Juventini juga mengeluhkan pemilihan pemain dari Sarri yang terkadang, atau bahkan sering, akan menyulitkan diri sendiri. Blaise Matuidi dan Federico Bernardeschi, misalnya.

Kegelisahan Juventini secara global itu sudah pasti akan ditangkap oleh media. Apalagi, dari Italia sendiri muncul kabar kalau Juventus akan mengganti Sarri dengan Max Allegri. Italian Football TV sudah membuat grafis komparasi antara Sarri dan Allegri.

Baca juga:  Rengekan Jose Mourinho dan Aroma Kutukan Tahun Ketiga

Konon, Allegri memang masih punya kontrak dengan Juventus meski masih dipecat. Koreksi kalau saya salah, yang dimaksud masih punya kontrak adalah Juventus masih punya kewajiban membayar sejumlah klausul di dalam kontrak mantan pelatin AC Milan tersebut.

Namun, kalau kamu seorang pendukung Juventus seharusnya sedikit paham soal kebiasaan ini. Sebelum Januari 2019, kata Arjun Pradeep, salah satu contributor Guardian, Juventus bermain stabil di bawah Allegri. Bahkan saat itu, Allegri cuma punya 10 pemain yang cukup fit untuk bermain. Namun, ketika hasil positif jarang didapat, orang dengan mudah melupakannya.

Siklusnya adalah: fans minta Juventus merekrut pelatih baru > main harus cantik > mengeluh ketika tidak mendapatkan hasil positif > membandingkan Juventus dengan Barcelona > membuat viral sebuah tagar untuk meminta pelatih dipecat dan pemain tertentu dijual > pelatih yang menjabat betul-betul dipecat. Ini kata @juvefcdotcom, bukan saya.

Ketika ada kata “bermain cantik” di sana, ekspektasi fans akan mengerucut. Sudah banyak pelatih yang bisa membuat sebuah klub bermain cantik. Namun, jika menyandingkan main cantik dengan prestasi, sedikit pelatih yang bisa melakukannya. Atas nama konteks ini, muncul nama Pep Guardiola.

Memikat Guardiola

Kabar yang muncul di Italia ini direproduksi ulang oleh media di seluruh dunia. Siapa yang tidak tertarik menyematkan Juventus di dalam judul dan menjadikannya sebagai keyword sebuah artikel. Reach dan potensi keterbacaan kata kunci Juventus sangat besar. Mungkin cuma kalah dari Real Madrid, Barcelona, Manchester United, dan Liverpool.

Salah satu media besar yang dengan cerdik membuat artikel soal transfer adalah BBC. Mereka menyematkan banyak nama pemain sebagai judul sebagai pemikat. Pun mereka membubuhkan istilah “transfer rumour” di awal judul. Di sebuah artikelnya, BBC mengompilasi kabar transfer, salah satunya Leroy Sane yang dikabarkan dilirik Juventus.

Bukan BBC yang kali pertama menulis kabar ini, melainkan Calcio Mercato, media dari Italia. Kenapa Calcio Mercato membuat berita ini dan BBC memanfaatkannya? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok proses kepindahan Cristiano Ronaldo, dari Manchester United ke Real Madrid.

Baca juga:  Betapa Munafiknya Jurgen Klopp Bersama Liverpool

Sir Alex Ferguson mengeluh. Beliau sadar kalau kepindahan Ronaldo tinggal menunggu waktu. Kenapa? Karena Real Madrid membeli Gabriel Heinze. “Saya tahu Ronaldo bakal ke Real Madrid, jadi saya tidak kaget. Ketika kami menjual Gabriel Heinze ke Real Madrid, kami tahu transfer itu akan terjadi karena Ronaldo sangat dekat dengan Heinze. Saya tahu Real Madrid tidak tertarik kepada Heinze. Ujungnya adalah untuk mendapatkan Ronaldo,” kata Sir Alex dikutip The Times.

Terkadang proses transfer tidak terjadi secara straight forward. Strategi “jalan memutar” lumrah dilakukan. Nah, masuk akal bukan kalau muncul kabar Juventus tertarik kepada Leroy Sane. Pemain sayap adal Jerman itu adalah salah satu pemain favorit Guardiola. Pun Sane sudah sering dikabarkan akan hengkang.

Jika Juventus bisa mendapatkan Sane, secara logika, merekrut Guardiola akan lebih mudah. Semua pelatih tentu senang ketika mendapatkan pemain yang dibutuhkan. Masuk akal.

Media lain menggarami kabar Juventus tertarik dengan Guardiola dengan sebuah istilah “cuci gudang”. Pemain-pemain seperti Matuidi, Ramsey, Bernardeschi, Kheidira, dan lain sebagainya masuk ke dalam konteks “evaluasi”. Ingat, kedatangan Guardiola ke City juga diawali dengan cuci Gudang. Melepas yang tidak lagi berguna, untuk membeli yang dibutuhkan.

Media-media di Indonesia pun sudah banyak yang membuat komparasi Guardiola dan Sarri. Pandit Football, misalnya. Apakah salah? Ya tentu tidak, buktinya saya juga menulis soal rumor ini. Penikmat sepak bola bakal selalu melahap berita transfer secara rakus. Meskipun sebetulnya rumor itu tidak punya bobot kebenaran.

Berita transfer itu seperti candu. Orang ingin merasakan ekstasi, sensasi melayang lagi dan lagi. Dibuai oleh sebuah angan klubnya dilatih pelatih kelas elite dan skuatnya dijejali pemain berkualitas. Wajar saja, meski kita perlu hati-hati ketika menyaring rumor-rumor tersebut.

Satu hal yang pasti, jika Juventus dilatih Guardiola, Serie A bakal semakin berwarna. Melihat Guardiola bekerja di Italia nggak buruk juga.

BACA JUGA Juventus: Menjaring Pemain, Membeli Mental Juara Eropa atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.