MOJOK.COMungkin, emosi Jurgen Klopp tengah labil karena Liverpool kalah tiga kali di lima laga terakhir. Sayang sekali kalau ketokohan yang kuat enggan berbicara soal virus corona.

Sedikit info untuk Pak Jurgen Klopp:

Industri media, memang, sering bekerja secara serampangan. Tidak bisa dimungkiri kalau media, mau cetak atau digital, butuh sebuah bumbu demi oplah dan trefik. Kalau di dunia digital, kita mengenalnya sebagai “klik” untuk membaca. Soal page views, users, bounce rate, dan lain sebagainya, adalah target-target yang kudu dipenuhi.

Apa yang perlu dilakukan wartawan untuk mengejar target-target tersebut? Jawabannya mengerucut ke satu hal saja: konten. Wartawan, biasanya memperitmbangkan beberapa hal. Misalnya ketokohan, keunikan, aktualitas, kedekatan, dan lain sebagainya. Semuanya dikurasi demi menyajikan konten paling menjual.

Sebuah perkara muncul. Jurgen Klopp perlu tahu kalau persaingan di industri media itu sangat kejam, terutama media digital. Mereka tidak hanya bersaing dalam hitungan hari, tetapi menit, bahkan detik. Konten-konten baru menyeruak di antara konten lama. Padahal, yang disebut “konten lama” itu baru tayang barang satu atau dua jam saja.

Saking kejamnya persaingan, banyak media yang terlalu melenturkan cara kerja wartawannya. Makanya, terkadang di internal redaksi muncul istilah “budak konten” atau “budak alexa”. Alexa adalah salah satu situsweb peringkat media. Semakin bagus peringkat alexa, media tersebut semakin dipercaya dan kelak mudah untuk “diuangkan” jika tiba saatnya. Kalau ada yang mau beli, sih.

Ini kenyataan yang miris, Pak Jurgen Klopp. Namun, kenyataan miris ini sudah menjadi tradisi, tidak cuma di Indonesia, tetapi global. Media berlomba-lomba membuat konten paling menggugah untuk diklik oleh calon pembaca. Dari sana, muncul judul-judul click bait, wartawan yang memangkas wawancara narasumber secara serampangan, hingga mendistribusikan ulang sebuah hoaks.

Kerja-kerja tidak terpuji itu terjadi di banyak rubrik. Mau sosial, politik, kesehatan, hingga olahraga, salah satunya sepak bola. Ketika virus corona menjadi narasi arus utama, semua media harus ikut nyemplung di tema ini. Padahal, berenang di kolam yang sudah padat tentu sangat sulit. Supaya mendapatkan tempat yang lega di kolam yang padat, media “berbuat jahat”.

Beberapa hari yang lalu, Joshua Suherman mengeluh lewat akun Twitter pribadinya.

Joshua merasa wawancaranya dengan Detik sudah dipangkas secara serampangan. Kalimat Joshua, “disesuaikan” demi memainkan emosi publik. Ini salah satu teknik mencari klik, memang. Joshua, digambarkan kecewa tidak bisa menonton sebuah konser karena virus corona. Titik.

Baca juga:  Mengenali Virus Corona Biar Makin Waspada Bukan Menggampangkan Seperti Menteri Terawan

Padahal, kalimat Joshua tidak berhenti di sana. Dia masih menambahkan: “…tapi kita bukan ahli medis jadi nurut apa yang diregulasikan buat pencegahan aja….” Kalimat ini tidak masuk ke dalam artikel. Framing yang dilakukan Detik ini tidak terpuji. Namun, di tengah kejamnya arus media, aksi wartawan seperti ini lumrah terjadi. Catat, saya tidak membenarkan kerja seperti ini.

Kenapa media bertanya soal virus corona ke sosok seperti Joshua dan Ayu Ting Ting? Karena sisi ketokohan itu sangat menjual. Mereka bukan ahli virus corona. Namun, pendapat mereka bisa dijual. Hal ini sama saja dengan pertanyaan wartawan di konferensi pers setelah Liverpool kalah dari Chelsea. Wartawan bertanya soal virus corona kepada Jurgen Klopp.

Sisi ketokohan ini sangat menjual, sekali lagi saya tegaskan. Apalagi di Inggris Raya sudah ada yang positif virus corona. Sangat normal ketika wartawan bertanya kepada pelatih sepak bola. Sosok yang hidup di tengah lingkungan komunal, di mana virus corona bisa dengan mudah ditularkan.

Jawaban Jurgen Klopp sangat diplomatis, lucu, dan diamini banyak orang. Jurgen Klopp menegaskan kalau dirinya enggan memberi komentar soal virus corona. Pelatih Liverpool itu merasa bukan ahlinya. Jurgen Klopp berseloroh: dia hanya seorang pelatih sepak bola, yang pakai topi baseball, dan nggak bisa cukur jenggot dengan benar. Kok mau ditanya soal corona.

Ini jawaban yang “aman”, tetapi kurang bijak juga. Masalahnya begini: Jurgen Klopp adalah sosok yang diidolakan jutaan orang. Komentar-komentarnya ditunggu. Bahkan mungkin mereka yang mengidolakan akan melakukan saran-saran Jurgen Klopp.

Saya yakin, tim medis dan divisi kesehatan Liverpool sudah melakukan sosialisasi virus corona ke semua personel Liverpool. Tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tentang menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain. Bisa saja, divisi kesehatan Liverpool sudah mengingatkan untuk rajin cuci tangan, bahkan menganjurkan minum rebusan kunyit, jahe, temulawak, gula aren, dan sejumput garam. Lho, siapa tahu, kan.

Apa yang bisa dilakukan orang seperti Jurgen Klopp? Jawabannya ada di pernyataan Walikota New York, Bill de Blasio.

Saat ini, di Amerika Serikat, sudah ditemukan pasien dengan positif virus corona. Bill de Blasio bilang begini:

Baca juga:  Tsunami Selat Sunda x Mesut Ozil: Antara Ketulusan Hati, Relasi, dan Bisnis

“Virus corona sudah kita perkirakan akan terjadi di sini. Pertanyaannya bukan lagi “jika” tetapi “kapan”. Kita harus terbuka soal fakta kalau di New York akan ditemukan kasus lagi. Bahkan aka nada banyak kasus (virus corona) di Amerika Serikat. Krisis ini akan terjadi selama beberapa bulan. Virus corona tidak boleh mendefinisikan jati diri kita. Tidak boleh mengalahkan kita. Semua orang harus berpartisipasi untuk mengatasinya.”

Kasus virus corona masih akan ditemukan lagi di Amerika Serikat. Tidak menutup kemungkinan semakin banyak di Inggris Raya. Ketika tidak punya pengetahuan yang memadai, kita tetap harus berpartisipasi untuk mengatasinya.

Bill de Blasio menyusun kalimat dengan baik dan jelas. Jurgen Klopp bisa mencontoh pernyataan seperti itu. Jurgen Klopp mungkin merasa cuma pelatih sepak bola, cuma pelatih Liverpool, bukan tenaga medis. Namun, ingat, ketokohan itu penting di tengah arus berita. Wartawan akan terus memburu. Tanpa ampun.

Jurgen Klopp boleh, kok, bilang tidak mau menjawab. Namun, alangkah baiknya kalau Jurgen Klopp, setidaknya mengingatkan, untuk menjaga kesehatan, jangan menimbun masker atau mie instan, dan lain sebagainya. Pokoknya yang positif untuk meningkatkan kewaspadaan publik. Ini juga salah satu berpartisipasi, kok.

Jawaban Jurgen Klopp dianggap sangat tepat karena ketakutan dipelintir oleh wartawan? Takut dibuatkan framing yang melenceng dari substansi?

Ketakutan itu justru akan terus melanggengkan kerja jahat beberapa wartawan. Keberanian untuk bersuara, di tengah ancaman pelintiran wartawan, sangat dibutuhkan. Banyak orang yang tidak membaca pernyataan tenaga medis karena cuma fokus dengan idola mereka. Orang-orang seperti ini yang perlu mendapatkan edukasi. Kalau takut dipelintir, tinggal bikin video resmi di akun pribadi Jurgen Klopp atau lewat situsweb Liverpool.

Ketakutan akan framing wartawan tidak boleh menjadi pembenaran orang yang enggan bersuara. Yang perlu diperkuat adalah kontrol media itu sendiri, bukan keengganan untuk bersuara. Yang ditegur keras adalah media, jangan kekuatan suara. Pada saatnya nanti, pembaca akan menjadi penentu. Media-media jahat akan ditinggal dan mati dengan sendirinya.

Jurgen Klopp mungkin berusaha untuk rendah hati. Mungkin juga emosinya tengah labil karena Liverpool kalah tiga kali di lima laga terakhir. Sayang sekali kalau ketokohan yang kuat enggan berbicara untuk kepentingan global.

BACA JUGA Betapa Munafiknya Jurgen Klopp Bersama Liverpool atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.