MOJOK.COAwkarin berdiri sejajar dengan Barcelona, AS Roma, dan Liverpool. Sebagai entitas yang berhasil melakukan remontada, bangkit dari kekalahan, untuk menang kemudian.

Samar-samar ingatan saya kembali. Tentang sebuah konten di Youtube. Saya tidak ingat pasti bagaimana cerita konten itu. Saya cuma berhasil mengingat ada seorang wanita, masih usia remaja, yang menangis tersedu. Beberapa hari kemudian saya tahu nama wanita di video tersebut adalah Awkarin dan dia dihujat habis-habisan.

Beberapa tahun kemudian, ingatan itu seperti terpanggil kembali ketika menonton video klip untuk lagu baru Awkarin. Saya ingat betul yang satu ini.

Awkarin naik seekor kuda, pakai bra berwarna hitam, dengan sebuah jaket yang terbuka. Dia mengendarai kuda di kebun pisang. Sumpah, untuk sepersekian detik, saya kira sedang melihat pocong naik kuda. FYI saja, habitat pocong adalah kebun pisang. Dan pocong cewek itu ada.

Yang saya ingat hanya adegan itu. Untuk lagunya saya nggak ingat. Cuma penyesalan yang sangat ingat. Iya, saya nyesel sudah mengabiskan sepersekian kilobyte kuota saya. Apalagi saat itu saya lagi miskin-miskinnya. Ya sampai sekarang masih, sih. Pakainya saja provider yang angka tiga itu. Surem.

Sejak saat itu, bersama Young Lex dan Atta Halilintar, Awkarin jadi influencer paling dibenci. Saya sih nggak benci. Tahu saja tidak.

Coba saja kamu masuk ke kolom pencarian di situsweb Mojok. Masukkan kata kunci “Awkarin” di sana. Yang akan kamu temukan adalah tulisan-tulisan bernada menyindir dan mempertanyakan.

Misalnya: “Drama Kembalinya Awkarin yang Jual Akun Instagram Ke Dirinya Sendiri”, lalu ada “Kenapa Sih Bad Influencer Disukai dan Terkenal?”, masih ada lagi “Awkarin Jual Akun Instagram Itu Mau Back To The Real Life Atau Back To Recycle Bin?”. Well, sebagai pengusung tema-tema nakal, Awkarin memang sosok yang tepat untuk ditulis Mojok (baca: diserang).

Satu hal yang bisa dibaca dari tulisan-tulisan itu adalah: Karin Novilda, menjadi salah satu influencer paling dibenci. Well, setidaknya, jadi sasaran empuk untuk dinyinyirin. Citra dirinya sudah begitu buruk. Jatuh.

Ngomong-omong soal jatuh, di sepak bola, ada tiga klub yang akrab dengan kejatuhan dan kebangkitan. Mereka adalah Barcelona, AS Roma, dan Liverpool. Dipaksain masuk ke sepak bola biar ada rasa-rasa rubrik Balbalan saja, sih.

Tapi ini serius, masih ada benang merah antara Awkarin dengan Barcelona, Roma, dan Liverpool. Benang merah di antara keempat entitas itu adalah “kebangkitan”. Sebuah usaha keras untuk memperbaiki citra diri demi memenangkan sesuatu. Budaya sepak bola Spanyol mengenalnya sebagai remontada.

Kebetulan, remontada tersohor yang dilakukan Barcelona, Roma, dan Liverpool semuanya terjadi di Liga Champions. Tempatnya adalah stadion Camp Nou, tertanggal 8 Maret 2017. Barcelona membalikkan defisit empat gol atas Paris Saint-Germain.

Baca juga:  Kalau Influencer Ikutan Anya Geraldine Makan di Warteg, Ini Menu yang Mereka Pesan

Di leg pertama, Barcelona kalah dengan skor 4-0. Salah satu kekalahan terbesar yang pernah diderita Barcelona di sepanjang sejarah klub asal Catalan ini. Di leg kedua, bermain gung ho sejak awal, Barcelona menang dengan skor 6-1! Total agregat adalah 6-5, sebuah remontada dengan skor agregat paling besar dalam sejarah Liga Champions.

Bicara remontada, Barcelona juga salah satu korbannya, bahkan terjadi sampai dua kali. AS Roma dan Liverpool yang jadi protagonis kisah pilu Barcelona di Liga Champions.

Musim 2017/2018, babak perempat final Liga Champions. Unggul dengan skor 4-1 di leg pertama, Barcelona tandang ke Olimpico di leg kedua. Roma bermain begitu efektif. Menit 82, lewat skema sepak pojok, Kostas Manolos berlari lebih kencang dari siapa pun untuk menanduk bola sepak pojok dan memberikan kemenangan 3-0 untuk Roma. Remontada!

Pertandingan itu menjadi begitu mengharukan ketika Peter Drury, komentator sepak bola dengan diksi paling mewah, melontarkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati. Ketika Manolas melakukan selebasi yang sangat emosional, Peter Drury bilang: “Roma have risen from their ruin!”

Hingga saat ini, kalimat Peter Drury itu menjadi salah satu komentar paling epic untuk mengawal sebuah kisah remontada. Mampu menggambarkan dengan tepat perjuangan Roma. Memadukan sejarah panjang Kekaisaran Roma dan kisah pembalik keadaan AS Roma.

Barcelona dipermalukan lagi satu musim kemudian. Kali ini Liverpool, yang membalik agregat kalah 3-0 menjadi 3-4 setelah menang 4-0 di leg kedua. Untuk remontada kali ini, Barcelona benar-benar dibuat tidak berdaya di Anfield, kandang Liverpool. Bahkan gol keempat Liverpool dicetak dengan begitu mudah. Lagi-lagi, lewat sepak pojok! Nampaknya, El Barca memang tidak berjodoh dengan sepak pojok di paruh akhir pertandingan.

Bagaimana dengan remontada Awkarin?

Kini, namanya dirindukan muncul di Twitter ketika ada orang yang sedang tertimpa bencana. Awkarin berhasil melakukan remontada, membalik anggapan publik, dari bad influencer menjadi media darling.

Awalnya adalah kemunculan Awkarin ketika demo mahasiswa yang lalu. Dia datang membawa ribuan nasi bungkus untuk logistik peserta demo. Tidak hanya menyediakan makanan, Awkarin juga bisa mengatur “pasukan” untuk membersihkan sampah di sekitar lokasi demo, terutama bekas nasi bungkus yang dia bawa.

Di Twitter, Awkarin menjadi begitu murah hati. Dia membelikan pulsa hingga ratusan ribu untuk followers. Bahkan terakhir, dia siap membelikan motor untuk driver ojek online yang dua kali kena musibah: kena order fiktif hingga Rp600 ribu dan kehilangan motor ketika ambil order makanan di sebuah rumah makan siap saji.

Awkarin juga menjadi satu-satunya influencer yang datang langsung ke lokasi kebakaran. Dia membantu memadamkan api, mengangkat selang air yang berat itu, dan menanam pohon.

Yang dilakukan Awkarin adalah sebuah usaha membangun kembali citra diri. Tidak ada yang salah dari usaha rebranding. Soal apakah tidak iklas dan tidak tulus itu urusan hati dirinya dan Tuhan. Namun, satu hal, yang dilakukan Awkarin adalah contoh baik. Melepas segala prasangka, yang dia lakukan adalah contoh jernihnya hati manusia.

Baca juga:  AC Milan & Inter Milan: Sepasang Kekasih Mendefinisikan Sebuah Rumah

Di mata saya, Awkarin berhasil melakukan remontada. Dari citra bad influencer menjadi panutan, bahkan jujugan ketika kesusahan terjadi. Bagaimana Young Lex, Ria Ricis, dan Atta, kapan mau giveaway rumah berserta isinya?

BACA JUGA Surat Cinta untuk Mbak Awkarin dan Para Pencari Exposure atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles