MOJOK.COPemanggilan Arthur Irawan ke timnas jelas bukan pengalihan isu sistem Liga 1 tanpa degradasi. Tolong ya, kamu itu jangan suka menuduh.

Sejak pagi hingga menjelang sore pada Jumat (7/5), saya menyempatkan waktu untuk memantau timeline Twitter. Bukan, bukan merutuki kegagalan Arsenal lolos ke final Liga Europa. Saya sedang mengikuti perdebatan Liga 1 yang bakal digelar tanpa degradasi.

Intinya, Liga 1 musim depan itu tidak ada degradasi. Sementara itu, sistem promosi di Liga 2 tetap ada. Oleh sebab itu, di musim baru kelak, jumlah peserta kompetisi akan berjumlah 20. Mirip kayak Liga Inggris. Mirip aja dulu soal sistemnya, soal kualitas mah ya entar dulu. You know lah….

Saya pantau di timeline. Ada banyak akun Twitter yang menolak sistem degradasi ini. Konon, sistem ini akan menghilangkan unsur kompetisi dari sebuah liga. Yah, kamu bisa membaca penolakan itu lewat klik kata kunci Liga 1 di kolom trending Twitter. Saya agak malas menjelaskan karena ada isu yang lebih genting.

Isu yang saya maksud adalah pemanggilan Arthur Irawan ke timnas Indonesia. Ini jauuuh lebih penting ketimbang sistem Liga 1 tanpa degradasi. Akhirnya, tim nasional dan Shin Tae-yong-nim, pelatihnya, mau membuka mata akan kualitas seorang Arthur Irawan.

Tentu saja semua orang berbangga hati. Tak terkecuali PS Sleman, tempat Arthur Irawan berkarya sebagai pemain profesional dan menabung pundi-pundi uang untuk masa depannya. Kita tahu, Arthur Irawan adalah sosok yang mandiri dan berdikari. Sosok panutan!

Sayangnya, banyak yang mencibir pemanggilan Arthur Irawan, salah satu pemain terbaik Liga 1, ke timnas. Banyak yang berprasangka kalau ahjussi Tae-yong nggak kuat juga dengan “serangan” orang dalam dan stigma “pemain titipan”. Kebangetan.

Oleh sebab itu, izinkan saya menjelaskan beberapa aspek yang membuat Arthur Irawan layak masuk timnas. Ini adalah sebuah usaha biar ahjussi Tae-yong bebas dari prasangka.

Arthur Irawan pemain berteknik tinggi

Segala alasan pemanggilan Arthur Irawan ke timnas bisa kamu temukan di dalam ilustrasi yang dibagikan akun resmi PS Sleman di Twitter. Silakan perhatikan ilustrasi di bawah ini:

Salah satu alasan pemanggilan Arthur Irawan, pemain dengan jam terbang tinggi di Liga 1, ke timnas adalah karena teknik pemain ini sangat tinggi. Tolong perhatikan betul ilustrasi di atas. Perhatikan bagaimana Arthur menendang bola dengan kaki luarnya.

Tidak sembarang pemain bisa melakukan umpan jenis ini. Di Eropa, ada Dennis Bergkamp, Ricardo Quaresma, hingga Angel Di Maria yang kerap melakukannya. Timnas mana coba yang tidak membutuhkan pemain berteknik tinggi.

Umpan-umpan kaki luar Arthur Irawan akan jadi senjata rahasia ahjussi Tae-yong. Tolong hal ini dirahasiakan biar rival kita, Timor Leste, bukan Malaysia atau Thailand, nggak tahu senjata rahasia ini.

Sang pemikir

Perhatikan kerut di dahi Arthur Irawan. Kerut di dahi adalah tanda seseorang yang kerap berpikir. Bukan, bukan overthinking. Ini semacam tanda King Arthur senang berpikir. Tentu saja nggak lagi ngelamun jorok, tapi tengah memikirkan jalannya pertandingan.

Bisa jadi King Arthur tengah merencanakan sebuah pola permainan yang tak bisa ditebak lawan-lawan di Liga 1. Sebuah pola permainan yang dipikirkan dengan begitu keras. Bisa jadi Mas Arthur malah menciptakan pola sepak bola jenis baru yang bikin kepala Pep Guardiola tiba-tiba tumbuh rambut gimbal.

Sosok pemain Liga 1 dengan fokus luar biasa

Perhatikan lagi ilustrasi di atas. Amati secara lekat-lekat arah mata Arthur Irawan. Sorot mata yang tajam itu memandang ke depan, ke arah rekan-rekannya di PS Sleman yang berpotensi menerima umpan berteknik tinggi. Dia tidak melihat ke arah bola, tanda pemain profesional kelas wahid.

Kita tahu, pesepak bola tak boleh selalu melihat ke arah bola. Dia harus peka dengan kondisi di sekitarnya. Jadi, dalam sepersekian detik, Arthur Irawan bisa melepas umpan terobosan seperti melewati lubang jarum. Masalah akurasi dipikir belakang, pokoknya umpan dulu.

Fokus ke kondisi sekeliling juga sangat bermanfaat untuk kehidupan sosial. Arthur Irawan mengajarkan bahwa sebagai pesepak bola Liga 1 juga harus aware dengan lingkungan sekitar. Jangan sampai tetanggamu sedang sakit keras atau nggak punya beras tapi kamu nggak tahu. Itu kehidupan bertetangga macam apa.

Nah, 3 aspek di atas membuat pemanggilan Arthur Irawan ke timnas menjadi jelas dan tepat. Sebuah inspirasi bagi pemain-pemain pro di Liga 1 lainnya. Pemain itu harus punya teknik, bisa berpikir, dan peka akan sekitar. Jangan jadi pemain yang cuma mengandalkan kekuatan orang dalam.

Jadi, sudah jelas, bukan. Pemanggilan Arthur Irawan bukan pengalihan isu sistem Liga 1 tanpa degradasi.

Tolong itu dicatat, ya.

BACA JUGA Shopee Liga 1: Antara Jadwal Tidak Manusiawi dan Pokoknya Jalan Saja dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Prediksi Barito vs Persela Lamongan: Barito Putera Melompat!