MOJOK.COSelamanya, bagi Brescia dan sepanjang ingatan Italia, Roberto Baggio adalah lengkungan pelangi yang indah. Menjadi sebuah tanda keberadaan salah satu putera dan seniman lapangan hijau terbaik yang pernah dimiliki Italia.

Usianya baru 18 tahun ketika Roberto Baggio menderita cedera lutut parah. Untuk menyambung ligamen lutut yang putus, 220 jahitan dalam harus dilakukan. Baggio alergi obat penghilang rasa sakit. Oleh sebab itu, rasa sakit dari 220 jahitan dalam dia “kunyah perlahan”. Rasa sakit dan kekecewaan seperti menjadi kawan baik bagi Baggio di sepanjang kariernya.

Roberto Baggio membutuhkan waktu 18 bulan untuk pulih dari cedera perusak karier yang bahkan baru sebatas kuncup itu. Angka 18 mungkin menjadi angka magis bagi pria kelahiran Caldogno, Italia, itu. Ketika berseragam AC Milan, Baggio mengenakan nomor punggung 18. Kini, nomor 18 menjadi angka favorit saya.

Sebagai kanak yang tumbuh sembari “dimandikan” oleh pesona Serie A periode 1990an, saya mengenal Baggio dengan seragam AC Milan. Di keluarga saya, Milan sudah seperti identitas, diwariskan turun-temurun. Menjadi ironi ketika kini saya menjadi fans Arsenal.

Namun, nama dan pesona Roberto Baggio sudah kadung tertanam di dalam memori. Meski kelebat Thierry Henry dan keanggunan Dennis Bergkamp mewarnai hari-hari, The Divine Ponytail itu menempati tempat spesial di hati saya. Ketika menapak tilas perjalanan kehidupan Baggio, saya bersyukur sudah menjadikannya idola.

Kilat vajra sang Buddha

Cabikan di lututnya tak pernah benar-benar sembuh. Cerita soal cedera selalu mengikuti, mengiringi kegemilangannya bersama Fiorentina, Juventus, AC Milan, Internazionale, dan Brescia. Azeglio Vicini, pelatih timnas Italia di Piala Dunia 1982 menyebut Baggio seperti bom waktu untuk lawan, tetapi terkadang menjadi kerugian juga untuk tim sendiri.

Mungkin Vicini sedang merujuk rekam medis cedera Roberto Baggio. Ketika cedera hampir selalu datang “di waktu yang tepat”, ketika keberadaan Baggio sedang sangat dibutuhkan.

Namun, publik Italia harus bersyukur Roberto Baggio muda punya pandangan terbuka soal kepercayaan. Ketika masih belia, Baggio tertarik dengan ajaran Buddha. Lahir di tengah keluarga Katolik yang taat, dia menemukan kedamaian dalam pelukan Buddha.

Pertentangan batin itu terjadi begitu cepat. Ketika fajar merekah pada 1 Januari 1988, ketika Italia baru saja dibuat lelah oleh pesta tahun baru, Baggio mengontak salah satu sahabatnya, Morrichio, di Kota Florence. Morrichio adalah teman yang mengenalkan agama Buddha kepada Baggio.

Batin dan hati Roberto Baggio sudah bulat. Di fajar yang dingin itu, Baggio resmi memeluk agama baru. Ibunya cemas, tunangannya kalut. Namun, meski berasal dari keluarga Katolik yang taat, ibu dan tunangannya mau berusaha memahami proses berpikir Baggio.

Rentetan cedera, keprihatinan akan kehidupan glamor pesepak bola, intoleransi yang disebabkan agama mayoritas, dan kekecewaan yang menumpuk menuntun Baggio menyambut Buddha. Sebuah proses batin tidak terjadi begitu saja. Terkadang, memang sudah takdir disurat demikian.

Roberto Baggio menemukan sebuah pengajaran baru setelah memeluk Buddha. Baggio belajar bahwa hidup ini adalah perjuangan dan kebenaran yang tersaji tidak selalu membahagiakan. Seiring waktu, seiring meditasi yang rutin dilakukan dua kali setiap hari, cara pandang Baggio terhadap rasa sakit dan perjuangan berubah.

Ajaran Buddha meningkatkan level toleransi akan rasa sakit dan kekecewaan. Pada titik tertentu, cedera dan rasa sakit berjalan beriringan dengan perkembangannya sebagai pesepak bola dan manusia. Namun, kini, Baggio tidak lagi lari dari kenyataan itu. Dia tidak lagi menyalahkan diri sendiri dan terlalu banyak mengeluh.

Menjadi pemeluk Buddha adalah usaha seumur hidup untuk mendevosikan diri kepada penyerahan diri. Bukan untuk lari dari perjuangan, tetapi menyambutnya. Pada titik ini, cara pandang Baggio berubah. Perubahan cara pikir dan keimanan yang membantunya bangkit, menjadi bintang Juventus, dan masa depan Italia.

Pada titik ini pula, Roberto Baggio menemukan kekuatan terbesarnya, yaitu kemampuan bangkit dari kekecewaan, bahkan yang paling menyakitkan. Salah satunya ketika menjadi “kambing hitam” kegagalan Italia di Piala Dunia 1994.

Kita tahu, Franco Baresi dan Daniele Massaro juga gagal di adu tos-tosan melawan Brasil di laga final Piala Dunia itu. Namun, selepas petaka di Pasadena itu, satu-satunya yang mendapat cap “orang gagal” hanya Baggio. Publik Italia seakan-akan menutup mata akan kontribusi Baggio dari babak penyisihan grup. Tanpa kejeniusan Baggio di laga melawan Nigeria dan Bulgaria, Italia tak akan pernah menapaki tangga final.

Di laga final melawan Brasil, Roberto Baggio memaksakan diri untuk tetap bermain meski sedang cedera hamstring. Ingat, Baggio alergi terhadap obat penahan rasa sakit. Oleh sebab itu, Baggio harus bermain sambil menahan rasa sakit. Setelah 120 menit berlalu, cedera hamstring di kaki sudah tidak tertahankan, tetapi dia tetap membulatkan tekad menendang penalti demi negaranya.

Tidak banyak yang mau peduli dengan penderitaan yang tampak nyata bersemayam di pundak Baggio. Namun, banyak orang bersepakat bahwa karier Baggio akan habis selepas Piala Dunia. Namun, hati dan mental Baggio sudah sekeras diamond. Tahun berikutnya, dia memenangi Scudetto bersama Juventus.

Hati dan mental Baggio sudah sekeras diamond. Seperti vajra, senjata sang Buddha yang mengeluarkan kilat dan gemuruh, Baggio menyambut kegagalan dengan lapang dada. Ketika menginjakkan kaki di lapangan hijau selepas kegagalan itu, Serie A tak pernah menyangka Baggio tetap sekonsisten itu.

Sifat vajra melambangkan keadaan akan pengetahuan dan pencerahan yang tak dapat ditembus, tak tergoyahkan, dan tak bisa dihancurkan. Vajra juga bisa diartikan sebagai kekokohan jiwa dan kekuatan spiritual. Makna luhur dari benda kuno yang ada di dalam ajaran Buddha dan Hindu ini didasarkan kepada tradisi dharma.

Roberto Baggio memeluk Buddha dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu, dia bisa menyelami arti devosi dan penyerahan diri. Pemahaman yang membuat jiwanya sangat kokoh dan berpendirian kuat. Inilah salah satu aspek yang sangat dihargai dari sosok Baggio ketika berseragam Brescia.

Kenangan akan un bellissimo arcobaleno curvo

Salah satu gol Roberto Baggio yang paling berkesan (menurut dirinya sendiri) adalah gol cantik ke gawang Atalanta yang dijaga Massimo Taibi. Sebuah gol yang saya deskripsikan sebagai un bellissimo arcobaleno curvo, sebuah pelangi yang melengkung indah. Hanya ada dua pemain yang bisa menciptakan keindahan ini. Mereka adalah Roberto Baggio dan Francesco Totti.

Menerima bola di lapangan tengah, Baggio mengirim bola lambung ke arah lari Luca Toni. Striker jangkung itu berhasil mengontrol dan menahan bola. Toni melihat Baggio berlari hendak masuk kotak penalti. Bola dia sodorkan kembali ke arah lari Baggio. Tanpa mengontrol, fantasista yang saat itu sudah berusia 36 tahun itu melambungkan bola melewati jangkauan Taibi. Bola sempat menggores mistar gawang bagian bawah sebelum masuk dengan begitu mulus. Pelangi yang indah muncul di langit Lombardy. Seniman lapangan hijau sedang menciptakan mahakarya.

Gol tercantik yang dicetak Baggio tersebut seperti wujud ragam warna yang dia goreskan untuk Brescia. Klub dari Lombardy ini tidak pernah konsisten sebelum Baggio bergabung. Sempat menolak tawaran Barcelona, Baggio memilih mencari kedamaian di sudut Italia.

Brescia memang tidak pernah menjadi kekuatan besar di Serie A. Papan tengah adalah capaian paling tinggi. Namun, periode indah bersama Baggio adalah prestasi tersendiri. Tim ini terlihat begitu menikmati sepak bola. Tidak tertekan oleh ekspektasi konyol.

Brescia dan Roberto Baggio juga menjadi semacam madrasah untuk pesepak bola. Andrea Pirlo muda menemukan titik mekarnya di bawah bimbingan Baggio. Sementara itu, Pep Guardiola sangat bersyukur memilih Brescia setelah hijrah dari Barcelona. Bagi Guardiola, Baggio adalah pemain terbaik yang pernah bermain dengannya.

Baggio datang dengan kedamaian. Dia menularkannya lewat warna-warna kebahagiaan dan kekecewaan yang pasti saling bertautan. Brescia selalu susah payah untuk bertahan di Serie A. Namun, mereka tidak kehilangan esensi bermain sepak bola, yaitu kebersamaan dan kebahagiaan.

Selamanya, bagi Brescia dan sepanjang ingatan Italia, Roberto Baggio adalah lengkungan pelangi yang indah. Menjadi sebuah tanda keberadaan salah satu putera dan seniman lapangan hijau terbaik yang pernah dimiliki Italia.

BACA JUGA Thierry Henry dan Sepatu Putih: Ketika Arsenal Sudah Menang Sebelum Bertanding dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Mikel Arteta Ingin Arsenal Bermain dengan Skema 4-3-3: Sebuah Misi atau Sebatas Alibi?