Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Rendra: Menelusuri Akar dan Makna Aksara Jawa

Redaksi oleh Redaksi
21 Oktober 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Episode Sebat Dulu kali ini, kembali kedatangan tamu spesial yang ditunggu-tunggu para netizen siapakah dia? ya tentu saja Rendra, Seorang pembaca manuskrip aksara Jawa kuno yang penuh ketekunan menyikapi jejak para leluhur

Dalam obrolan santai tapi dalam, Rendra mengajak kita menyelami perjalanan panjang aksara Jawa, dari kisah Aji Saka, hingga munculnya sistem tulisan carakan, yang dikenal melalui kalimat “Honocoroko”. Lebih dari sekedar sistem huruf, aksara jawa ternyata menyimpan mantra, doa, dan tatanan kosmos yang menjadi fondasi spiritual orang Jawa.

Cerita bermula dari legenda Aji Saka, kisah yang konon menjadi asal mula munculnya aksara Jawa, Rendra menjelaskan bagaimana kisah ini bukan sekedar mitos melainkan tentang tatanan dan pengetahuan.

Dalam versi tertentu, kisah ini diibaratkan seperti telur ayam yang jika dibacakan secara terbalik tidak akan menetas—sebuah lambang bahwa urutan dan harmoni dalam aksara membawa kehidupan.

Jejak Aksara Jawa dan Perubahan Zaman

Dalam Sejarahnya, aksara Jawa Kuno berkembang dari aksara India kuno, salah satunya aksara Pallawa yang muncul sekitar abad ke-4. Setelah pasca Majapahit yang kini berubah menjadi Carakan atau Honocoroko.

Namun, aksara Jawa yang asli yang disebut aksara jawa kuno berhenti digunakan sekitar abad ke 15, Sejak itu tradisi penyalinan naskah (mutrani) menjadi penting, Tapi di situ pula tantangannya: dalam setiap penyalinan, selalu ada risiko distorsi atau salah tulis.

Bahasa Baru dan Pandangan Kalsik

Obrolan lalu bergeser ke Jawa modern. Menurut Mas Rendara, bahasa Jawa baru relatif mudah dipahami karena masyarakat masih banyak menggunakannya. Tapi menariknya, kata-kata dalam bahasa Jawa kuno banyak yang menyelamatkan makna lama meski tafsirnya kini berbeda.

Tak sampai di situ Mas Rendra juga menyinggung pandangan klasik orang jawa tentang perempuan ideal, yang dikenal dengan bibit, bobot, bebet, dan triman. Konsep ini menggambarkan nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Jawa yang menilai manusia bukan hanya dari tampilan, tapi dari keseimbangan antara asal, moral, dan martabat.

Selain itu, mas rendra juga menyinggung tentang tingkat tutur yang menjadi cermin spiritualitas. Dari Dupak kuli bahasa yang kasar, Semu Mantri yang halus, hingga Sasmito Ratu yang sangat sopan. Karena sejatinya semakin tinggi derajat seseorang, semakin sedikit tutur yang ia perlukan untuk menyampaikan maksud.

Simak kisah lengkapnya di episode terbaru sebat dulu. Karena belajar masa lalu bukan hanya tentang menambah informasi, tapi meneruskan  warisan dan pemaham akan arah masa depan.

Tags: aksara jawajawa modernmanuskrip jawa kunorendra

Terpopuler Sepekan

guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Suasana "Tiongkok Kecil" di Lasem. MOJOK.CO

Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat

27 Januari 2026
tbc di jogja mojok.co

Indonesia Darurat TBC: Rasio Kasus Lampaui India, Stigma Negatif Jadi Hambatan Pencegahan

29 Januari 2026
Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY.MOJOK.CO

Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY

29 Januari 2026
Tabungan likuid untuk jaga-jaga pas kehilangan pekerjaan (PHK) memang penting. Tapi banyak pekerja Indonesia tak mampu MOJOK.CO

Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup

29 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.