Episode Sebat Dulu kali ini, kembali kedatangan tamu spesial yang ditunggu-tunggu para netizen siapakah dia? ya tentu saja Rendra, Seorang pembaca manuskrip aksara Jawa kuno yang penuh ketekunan menyikapi jejak para leluhur
Dalam obrolan santai tapi dalam, Rendra mengajak kita menyelami perjalanan panjang aksara Jawa, dari kisah Aji Saka, hingga munculnya sistem tulisan carakan, yang dikenal melalui kalimat “Honocoroko”. Lebih dari sekedar sistem huruf, aksara jawa ternyata menyimpan mantra, doa, dan tatanan kosmos yang menjadi fondasi spiritual orang Jawa.
Cerita bermula dari legenda Aji Saka, kisah yang konon menjadi asal mula munculnya aksara Jawa, Rendra menjelaskan bagaimana kisah ini bukan sekedar mitos melainkan tentang tatanan dan pengetahuan.
Dalam versi tertentu, kisah ini diibaratkan seperti telur ayam yang jika dibacakan secara terbalik tidak akan menetas—sebuah lambang bahwa urutan dan harmoni dalam aksara membawa kehidupan.
Jejak Aksara Jawa dan Perubahan Zaman
Dalam Sejarahnya, aksara Jawa Kuno berkembang dari aksara India kuno, salah satunya aksara Pallawa yang muncul sekitar abad ke-4. Setelah pasca Majapahit yang kini berubah menjadi Carakan atau Honocoroko.
Namun, aksara Jawa yang asli yang disebut aksara jawa kuno berhenti digunakan sekitar abad ke 15, Sejak itu tradisi penyalinan naskah (mutrani) menjadi penting, Tapi di situ pula tantangannya: dalam setiap penyalinan, selalu ada risiko distorsi atau salah tulis.
Bahasa Baru dan Pandangan Kalsik
Obrolan lalu bergeser ke Jawa modern. Menurut Mas Rendara, bahasa Jawa baru relatif mudah dipahami karena masyarakat masih banyak menggunakannya. Tapi menariknya, kata-kata dalam bahasa Jawa kuno banyak yang menyelamatkan makna lama meski tafsirnya kini berbeda.
Tak sampai di situ Mas Rendra juga menyinggung pandangan klasik orang jawa tentang perempuan ideal, yang dikenal dengan bibit, bobot, bebet, dan triman. Konsep ini menggambarkan nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Jawa yang menilai manusia bukan hanya dari tampilan, tapi dari keseimbangan antara asal, moral, dan martabat.
Selain itu, mas rendra juga menyinggung tentang tingkat tutur yang menjadi cermin spiritualitas. Dari Dupak kuli bahasa yang kasar, Semu Mantri yang halus, hingga Sasmito Ratu yang sangat sopan. Karena sejatinya semakin tinggi derajat seseorang, semakin sedikit tutur yang ia perlukan untuk menyampaikan maksud.
Simak kisah lengkapnya di episode terbaru sebat dulu. Karena belajar masa lalu bukan hanya tentang menambah informasi, tapi meneruskan warisan dan pemaham akan arah masa depan.









