Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Napak Tilas Mendoan dan Usaha Merevisi Mental Tempe

Aditya Rizki oleh Aditya Rizki
28 Juli 2015
A A
Napak Tilas Mendoan dan Usaha Merevisi Mental Tempe

Napak Tilas Mendoan dan Usaha Merevisi Mental Tempe

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebanyakan orang menyebut tempe yang digoreng dengan tepung sebagai mendoan. Namun, belum tentu tempe goreng yang dimaksud itu termasuk dalam jenis mendoan. Dalam tata bahasa ngapak Banyumasan, ‘mendoan’ berasal dari kata ‘mendo’, yang artinya tempe berbalut tepung yang digoreng setengah matang atau lembek.

Selain dimakan dengan nyigit cabai rawit hijau, mendoan juga cocok disajikan dengan sambal kecap, baik sebagai camilan biasa maupun lauk pauk yang dibadog bersama nasi.

Mendoan berbeda dengan tempe goreng tepung atau biasa disebut tempe kemul. Jika mendoan digoreng dalam sewajan minyak goreng yang hampir penuh hingga setengah matang, maka tempe kemul digoreng sampai benar-benar matang dengan minyak goreng secukupnya.

Ukuran tempe mendoan bisa lebih besar dua sampai tiga kali tempe kemul. Jenis tempe yang digunakan untuk membuat mendoan biasanya diiris tipis-tipis dan dibungkus dengan daun pisang. Satu ikat daun pisang atau disebut juga dengan tempe buntel biasanya terdiri dari 4-5 mendoan mentah.

Jika Anda penasaran, sesekali datanglah ke daerah penjual tempe mendoan asli di daerah Sawangan, Purwokerto, kemudian bandingkan dengan tempe kemul yang banyak dijual di daerah Wonosobo.

Di Kebumen, kampung halaman saya yang berjarak 85 kilometer dari Purwokerto, sebenarnya juga tidak banyak yang menjual tempe goreng yang benar-benar ‘mendo’. Tiga tempat favorit mendoan di kota Kebumen yang saya suka adalah mendoan kaki lima depan toserba Rita Pasaraya, mendoan kaki lima di depan Bank BCA, dan mendoan di warung kopi depan SMA Negeri 1 Kebumen.

Untuk warung yang saya sebut terakhir, kini sudah raib entah kemana. Selain karena tempatnya diurug untuk renovasi bangunan SMA, emperannya juga sudah disulap menjadi sentra kuliner kota Kebumen. Dulu, warung itu sering jadi langganan saya jajan sekolah sewaktu SMA. Rupa tempe mendoan anget yang habis ditiriskan dari penggorengan dan cocolan saus berwarna merah muda selalu membuat siapa saja menelan ludah.

Warung kopi depan SMA itu hanya punya tempat duduk sebayang bambu sebagai tempat nongkrong yang strategis. Lokasinya berada di pinggir jalan raya, dinaungi sebuah pohon besar, diapit oleh dua sekolah, terletak di pojokan alun-alun, sekaligus tempat mangkal beberapa tukang becak.

Warung itulah yang sahih untuk melepas lelah dengan segelas kopi, es teh, atau kopi susu. Tempat yang paling nyaman untuk menunggu waktu les, sambil berbagi tawa dan kisah kawan-kawan yang suka mbajug. Tak jarang kami harus sembunyi-sembunyi beli mendoan karena tidak diperbolehkan membeli jajanan, apalagi sambil merokok, oleh penguasa sekolah pada saat jam pelajaran/istirahat .

“Mak, nyong tuku mendoane, sing anget ya…” adalah kalimat yang terlontar dari beberapa teman yang sedang memesan mendoan melalui bilik tembok sekolah.

Semakin jauh dari tempat asal mendoan, semakin sulit tempe yang benar-benar ‘mendo’ diperoleh. Kala rindu kampung halaman menggoda, saya sungguh kesulitan menemukan warung yang menjual mendoan di Jogja misalnya, tempat saya kuliah. Dua warung yang menjual tempe yang dimasak mendekati tempe mendoan asli yaitu mendoan ‘Maning’ di Jalan Colombo atau mendoan di Warung Inyong.

Kendati ditemui warung makan yang menyebut mendoan di daftar menu makanannya, tempe yang dihidangkan seringkali bukan termasuk tempe mendoan. Orang asli Banyumasan tentu akan mudah mengenali mana mendoan dan mana yang bukan.

Yang jelas, apapun dan dimana pun, yakinlah bahwa jenis olahan tempe dari tempe goreng biasa, tempe kemul, tempe mendoan, keripik tempe, kering tempe, sambal tempe, hingga oseng kacang panjang tempe semangit, merupakan hasil olahan tempe karya anak bangsa.

Keaslian berbagai macam olahan tempe yang demikian haruslah dirayakan bangsa ini sesuai dengan adabnya. Tempe goreng harus dimakan ketika masih hangat. Keripik tempe harus digoreng dalam keadaan garing, renyah, dan kaya rempah. Sambal tempe harus disandingkan dengan sayur bobor atau sayur bening bayam untuk mencapai puncak kenikmatan.

Iklan

Maka dari itu, saya termasuk yang tidak setuju dengan istilah ‘mental tempe’ yang dicetuskan oleh Bapak Proklamator RI. Sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut mental lembek dan tak punya harga diri. Namun, rasanya istilah tersebut sudah terlanjur kadaluarsa.

Buktinya, masyarakat Indonesia sudah bisa memberdayakan tempe secara kreatif ke dalam berbagai purwarupa olahan. Jangan salah, meskipun bahan baku kedelai Indonesia juga diimpor dari beberapa negara, tetapi olahan tempe Indonesia telah layak ekspor hingga ke India, Amerika Serikat, dan Eropa. Olahan tempe di luar negeri sana sudah sah menjadi makanan alternatif bagi para vegetarian.

Seandainya Bung Kusno Sosrodihardjo alias Bung Karno itu masih hidup, saya ingin mengajak beliau nongkrong di tepian Waduk Sempor. Jamuan makan tempe mendoan jumbo (panjang 30 cm, lebar 15 cm) dan air cengkir kelapa hijau–yang konon adalah minuman favoritnya—siap dihidangkan untuk menemani pertemuan kami.

Kami akan membuat sebuah perjanjian untuk merevisi ungkapan “Jangan menjadi bangsa tempe” menjadi “Jadilah bangsa tempe yang berkeadilan”. Salah satu klausul yang dihasilkan adalah tempe harus diangkat derajatnya, seadil-adilnya, menjadi makanan nasional yang berhasil go international dalam bentuk mendoan seperti halnya ayam goreng dengan KFC-nya, kentang goreng dengan french fries-nya, atau daging sapi dengan steak-nya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: Bung KarnoKulinerMendoanTempe
Aditya Rizki

Aditya Rizki

Webmaster Mojok. #YNWA

Artikel Terkait

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO
Kuliner

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

16 Februari 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)
Pojokan

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
sate taichan.MOJOK.CO
Catatan

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
meminjam uang, lebaran.MOJOK.CO

Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit

21 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.