Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Prejengan

Fesyen Mahasiswa Paling Ulala ada di ISI Yogyakarta

Harly Yoga Pradana oleh Harly Yoga Pradana
11 Agustus 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dandananmu bisa menentukan di kampus mana kamu kuliah. Pengalaman bicara, jargon BSI bukan pepesan kosong belaka.

Di Yogyakarta, jika di jalan kamu lihat ada anak muda pakai kemeja hitam lengan panjang berbahan kanvas, yakinlah: itu anak UGM. Tidak percaya? Coba mendekat, bisa dipastikan ada bordir logo UGM di punggungnya. Sebab, jika anak kampus lain disuruh pakai jas alma mater saja malas, anak UGM justru giat berswadaya bikin kemeja-kemeja kelas/jurusan/fakultas/Hima/ormawa/BEM yang template-nya seperti sudah jadi brand: kemeja hitam lengan panjang berbordir logo UGM.

Alternatif lain prejengan anak UGM? Kaus KKN. Berlogo UGM. Tetep.

Selain UGM, kampus lain yang ciri fesyen mahasiswanya mencolok adalah UIN. Sarungan/celana, pakai kaus gelap, gondrong, siang-siang di warung kopi: sudah pasti anak UIN.

Lain lagi kalau kamu ketemu orang berpakaian putih hitam pagi-pagi. Bisa jadi dia bukan sales atau anak magang Indomaret, melainkan mahasiswa jurusan kependidikan dari beberapa kampus di Yogya.

Bagaimana dengan mas-mas rambut gondes berkemaja kain kedodoran dengan kancing atas dibuka? Dia bukan remaja ’70-an yang sedang tur ke masa depan. Coba cek alas kakinya. Kalau sepatunya sneakers atau bot, itu dia anak Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Di kampus dengan lambang Hindu dan jurusan yang memproduksi tenaga pembuat patung ini, prejengan adalah soal eksplorasi seni. Semakin murni senimu, makin edan (baca: eksploratif) laku hidupmu. Termasuk soal prejengan. Ini berlaku bukan cuma pada mahasiswanya, tapi juga untuk dosen-dosennya.

Hanya dan hanya di ISI kamu akan ketemu dosen yang saat ngajar tiba-tiba merobek kemejanya hanya untuk menunjukkan bahwa dia pakai kaus dengan logo Superman. Ini kisah nyata, dengan pelaku sejarah bernama Bapak Petrus Gogor Bangsa. Atau lain kali, seorang lelaki seliwar-seliwer dengan baju koko dan sarung. Dosen agama? Bukan. Dia mahasiswa.

Otentisitas anak ISI dalam berpakaian ini membuat Mojok Insitute penasaran untuk memantau model pakaian macam apa saja yang beredar di kampus itu. Berikut hasilnya, siapa tahu bisa membantu maba-maba untuk semakin ISI jiwa dan raga.

Gaya Tabrak Warna

Sneakers hijau pupus dengan kaus kaki merah muda yang tidak panjang, tidak juga pendek. Celana jeans marun dengan ujungnya dilipat biar bisa pamer kaus kaki meriah tadi. Untuk atasan, kaus tipis, adem, dan santai yang dilapisi kemeja cerah dengan kancing terbuka. Untuk aksesori kepala, pakai topi bucket tukang parkir dan flat cap pelukis dengan rambut dicat cerah. Gaya seperti ini bisa dijumpai di Jurusan Tekstil dan Kriya.

Gaya berkabung

Warna hitam-hitam banyak ditemukan di antara mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam di kampus. (Kalau zaman dulu, bahkan sampai memindah isi kos masing-masing ke kampus agar lebih total.) Pekerjaan seni yang melibatkan material penyebab kotor, seperti tanah liat, cat air, kayu/bambu, serta keringat saat berlatih sepertinya menjadi pemicu untuk memilih kaus dan celana hitam sebagai teman kerja.

Selain itu, kadang kaus hitamnya dipakai terbalik. Apa motifnya? Pamer merek di kerah baju? Semua orang punya alasan masing-masing.

Iklan

Gaya Rocker

Kaus hitam, jaket, dan celana jeans biru dengan noda-noda cat dipadukan dengan bot hitam mengilap full aksesori. Kemudian di tangan dan leher, kenakan rantai, gelang, dan anting/piercing. Dengan dandanan berkompisisi sama, jika diganti dengan kostum yang lebih kolonial dan sedikit berbau Karibia, penggunanya akan tidak bisa dibedakan antara mahasiswa Seni Rupa/Seni Musik atau Jack Sparrow.

Dandanan ini biasa dipakai mahasiswa yang nge-band setelah kuliah. Jangan remehkan dunia musikal anak ISI, terutama anak Seni Rupa. Kesuksesan FSTVLST atau Steak Daging Kacang Ijo sudah jadi buktinya.

Gaya SKJ ‘94

Ketika pengamatan untuk tulisan ini berlangsung, secara tak sengaja Mojok Institute menemukan seorang mahasiswa dengan celana training, tidak pakai alas kaki, dan kaus putih lengan panjang penuh tanda tangan teman ospeknya sedang lewat. Sungguh kompilasi luar biasa antara jiwa sporty dan rasa setia kawan.

Walau tak mesti senyentrik itu, pemakai training bukan pemandangan langka di ISI, apalagi di Jurusan Teater. Datanglah ke ISI di pagi menjelang siang atau pada sore hari saat mereka sedang latihan vocalizing sambil jogging keliling lapangan parkir Fakultas Seni Pertunjukan. Maling pun akan pikir-pikir untuk beraksi di jurusan ini jika tak mau dikejar sampai bengek. (Mending maling di Jurusan Filsafat, Bro.)

Gaya Majapahit

Di pendopo kekuasaan anak Seni Tari, dresscode terbaik untuk dikenakan adalah yang tipis, elastis atau longgar sekalian, tidak panas, dan kompromistis dengan keringat. Di sinilah celana kulot, palazo, joger, fit n flare dipadukan dengan kaus ketat berkerah scoop/turtleneck atau kaus manset dipakai oleh mbak-mbak berkepang panjang dengan kalung selendang tari. Kalau Gaj Ahmada nggak sibuk perang dan sering-sering jalan ke keputren Kerajaan Majapahit, mungkin tragedi kayak gini nggak bakal terjadi.

Gaya Standar

Kaus oblong, kemeja flanel nggak dikancing, dan sneakers buat cowok. Kaus atau blus berbahan ringan, celana jeans pensil (astaga, istilah ini masih hidup nggak sih?), dan flat shoes berwarna cerah untuk cewek. Ini mungkin gaya yang bisa ditemukan di semua kampus, termasuk ISI. Sebab, nggak semua anak ISI ingin jadi pusat perhatian.

***

Ketika kampus lain semakin ketat menyeragamkan busana mahasiswanya, di ISI Yogya celana pendek masih diperbolehkan, sepatu dan kemeja tidak jadi kewajiban. Untuk kampus dengan cerita nyeleneh seperti sepeda ontel wajib ber-STNK, pembolehan seperti itu sangat wajar.

Bahkan dirayakan malah.

Buktinya, di Pascasarjana ISI, ada acara tahunan bernama “Sehari Boleh Gila”. Mungkin, kalau ada orang gila masuk ke lingkungan ISI, dia nggak akan bisa dibedakan dari mahasiswa ISI sendiri.

Soal prejengan, memang tidak semua jurusan edan bin ulala begitu. Anak Jurusan Desain Interior cenderung berlaku “normal”. Kata seorang teman, kultur edan-edanan di ISI memang mulai hilang. Sudah susah mencari cerita tentang mahasiswa yang pakai celana dalam di luar seolah-olah Superman (yang dilakukan pelukis Bob Sick) atau memakai kostum wayang orang lalu naik sepeda 7 kilo dari ISI ke UGM (yang dilakukan pelukis S. Teddy D. dan Yustoni Volunteero, kisahnya ada di buku Menanam Padi di Langit). Ya, hidup pendek, dan seni berubah ….

Buat kamu-kamu yang punya pengamatan soal dresscode kampus-kampus se-Indonesia, jangan ragu membagikannya di kolom komentar tulisan ini atau di medsos Mojok yha~

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: fesyenisi yogyaMahasiswapakaianUGMuinuny
Harly Yoga Pradana

Harly Yoga Pradana

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.