Musim wisuda di Yogyakarta selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Namun, di baliknya menyimpan tragedi, membludaknya jumlah hewan peliharaan terutama anak bulu (anabul), entah kucing atau anjing yang ditelantarkan.
“Belum 2 jam sejak rescue si pom, ada lagi shitzu ditinggal pulang anak kos. Dudah 2 minggu dia ditinggal pergi. Dia menanti pemiliknya di depan pintu kamar kos. Tanpa kandang, tanpa tali, tapi dia tidak pernah pergi😞”
Membaca utas Threads dari salah satu shelter anjing di Jogja, Ron Ron Dog Care Jogja (RRDCJ) beberapa hari silam rasanya sedih. Dalam utasnya, RRDCJ menceritakan satu jam sebelumnya, mereka padahal baru melakukan rescue satu anjing jenis minipom dari sebuah kos-kosan. Anabul tersebut terkunci sudah satu minggu di dalam kamar, ditinggalkan pemiliknya. Akhirnya pintu dibuka paksa oleh pemilik kos demi menyelamatkan anjing tersebut.
RRDJ mencatat, musim wisuda tahun lalu, mereka melakukan rescue belasan anjing yang dibuang pemiliknya yang merupakan mahasiswa. Lembaga lain yang peduli dengan hewan
menginformasikan mereka menerima kiriman anabul dari mahasiswa yang akan pulang kampung atau pindah kota.
Skripsi jadi teman, usai wisuda ditelantarkan
Ada juga yang mendapat laporan dari pemilik kos kalau ada hewan yang ditinggal begitu saja oleh penghuni kos karena pulang kampung selepas wisuda. Persoalan hewan yang telantar setelah wisuda, bukan hanya terjadi di Jogja, tapi juga di kota-kota lain.
Ironisnya, alasan mahasiswa memelihara hewan seringkali sangat emosional. Banyak yang menjadikan anabul sebagai healing partner atau pendukung kesehatan mental. Interaksi dengan hewan terbukti mampu menurunkan stres, mengurangi kecemasan, dan mengusir kesepian di tengah tekanan tugas kuliah atau skripsi yang menghimpit.
Namun, ketika status mahasiswa itu selesai, kedekatan emosional itu seolah sirna tanpa bekas. Hewan yang dulu dipeluk saat pemiliknya menangis karena revisi, kini ditinggalkan begitu saja di kamar sempit atau dibuang ke jalanan karena dianggap sulit dibawa pulang atau pindah kota.
Ini adalah bentuk keegoisan mahasiswa yang memelihara hewan tanpa mengukur diri dan lingkungan tempat tinggalnya. Tidak semua mahasiswa kos bisa bertanggung jawab dengan baik ketika menjadikan kamar kos sehingga tempat tinggal hewan peliharaannya.
Apalagi ketika kemudian membuang hewan-hewan itu masa studi berakhir. Itu adalah sebuah pengkhianatan kemanusiaan. Banyak mahasiswa yang sekadar mengikuti tren “lucu-lucuan” tanpa menyadari bahwa memelihara nyawa adalah komitmen seumur hidup hewan tersebut, bukan sekadar komitmen selama empat tahun masa kuliah.
Gelar sarjana harusnya penuh empati
Daripada memaksakan diri memelihara hewan di indekos atau kontrakan, main-mainlah ke shelter hewan di Jogja atau lembaga-lembaga yang mendedikasikan diri untuk menyelamatkan hewan-hewan telantar. Banyak yang membuka diri bagi orang-orang yang ingin jadi volunteer, atau bermain dengan hewan-hewan di sana.
Kelulusan seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang telah tumbuh menjadi manusia yang lebih dewasa, bijaksana, dan bertanggung jawab. Sangat kontradiktif jika seseorang meraih gelar sarjana namun meninggalkan jejak kekejaman di belakangnya. Ijazah yang diraih dengan susah payah tidak akan ada artinya jika moralitasnya jatuh karena menelantarkan makhluk yang tak berdosa.
Kita perlu menyadari satu hal: bagi mahasiswa, anabul mungkin hanyalah pengisi waktu atau pengusir sepi selama masa studi. Namun bagi hewan-hewan tersebut, pemiliknya adalah seluruh dunia yang mereka miliki.
Jika belum siap bertanggung jawab hingga akhir, jangan pernah mulai memelihara hanya demi ego sesaat. Karena pada akhirnya, kehormatan seseorang bukan dilihat dari seberapa tinggi pendidikannya, tapi seberapa besar empati yang ia miliki terhadap makhluk hidup lainnya. (*)














