Baca cerita sebelumnya di sini.

Pada zamannya, saya adalah pemain sepak bola yang andal. Lalu kenyataan meminjam sebuah mobil untuk menabrak saya dan, seperti biasa, gravitasi selalu menarik apa-apa yang seharusnya tak mengapung terlalu lama di udara. Lima bulan setelah itu, saya yakin tak ada olahraga yang didesain untuk saya; untuk umat manusia. Semua cabang olahraga membahayakan diri manusia yang, pada dasarnya, gampang remuk. Keyakinan ngawur itu tertanam di dalam pikiran saya begitu saja, dan saya tak pernah protes.

Keyakinan ngawur memang tak perlu terlalu dipikirkan, misalnya seperti keyakinan penulis-penulis yang ingin mendapatkan pembaca baru sebanyak-banyaknya. Jumlah pembaca dan kualitas tulisan merupakan dua variabel yang mustahil menghasilkan kesimpulan masuk akal; keduanya mustahil bersatu, bahkan hingga satu hari setelah kiamat terjadi, tetapi kenyataan adalah sesuatu yang memaksa beberapa penulis menghubung-hubungkan keduanya.

Ketimbang penulis-penulis itu, saya lebih khawatir dengan kabar kelahiran nabi baru. Kabar ini sudah sepatutnya membuat siapa pun yang berakal gentar sebab nabi baru ini punya potensi melahirkan generasi keparat baru yang senang merusak separuh dunia dan menguasai sisanya. Belum terang siapa yang harus bertanggung jawab atas rasa sakit dan penderitaan umat manusia pasca kelahiran nabi-nabi dari timur jauh, sudah harus ditambah ajaran nabi baru. Kenyataan adalah sesuatu yang mencegah apapun perkataaan Epicurus soal kebahagiaan terjadi.

Cerita tentang nabi baru selalu punya tempat istimewa dalam benak manusia, bisa jadi didorong oleh dua hal: pertama karena keterpesonaan kita, homo sapiens, terhadap jauhnya batas kebejatan spesies kita. Kedua berkat cerita yang mereka tuturkan sendiri, dan klaim mereka, dan merasa itu tak cacat, dan karena itu mereka suka sekali menghabiskan waktu luang yang mereka miliki untuk menceritakan kisah mereka; mengagumi diri sendiri dan mengajak pendengarnya untuk ikut kagum. Kenyataan adalah sesuatu yang mencegah kita melupakan orang-orang ganjil yang pernah kita temui.

Malam itu di bar kopi—sesungguhnya seseorang perlu memberikan medali atas kepercayaan diri sang Pemilik menyebut tempat usaha kopinya ‘bar kopi’ ketimbang ‘kedai kopi’ atau ‘rumah kopi’ dan sebagai penghargaan aku akan tetap menyebutnya ‘bar kopi’—di Jalan Margonda, Depok, saya dan Dea Anugrah sedang asyik membicarakan gim Persona 3 ketika seorang tukang serobot datang dan membajak obrolan kami.

“Hei, dua udik perengus, dengarkan cerita saya,” katanya.

Saya dan Dea melihat-lihat sekitar. Kami memang suka merengus, dan kadang tak tahu sopan santun, tapi memanggil kami dengan sebutan ‘udik perengus’ jelas berlebihan. Barangkali ia memanggil seseorang yang bukan kami. Namun, dilihat dari situasinya, ia sepertinya memang bermaksud memanggil kami demikian.

Baca juga:  Lima Buku yang Perlu Segera Dicetak Ulang

Kalau saya menyebut ‘ia’ mungkin yang muncul di benak kalian, Pembaca yang Arif dan Bijaksana, adalah seorang lelaki dan memang begitulah kenyataannya. Ia adalah seorang lelaki yang sepertinya sudah berusia lima puluh tahunan dengan gaya pakaian dua puluh tahun lebih muda dari usianya. Ilmu tata busana menunjukkan fungsinya pada lelaki ini.

“Kalian tahu Elon Musk?” tanyanya.

“Orang yang melempar kaleng ke luar angkasa?” tanyaku.

Lelaki ini memuji bagaimana Elon Musk menjadi besar dan kaya raya denga perjuangan yang, pada titik tertentu, ia rasakan juga. Ia memulai semua dari nol, katanya, yang bagi saya terdengar seperti pengalaman semua orang tetapi ia menceritakannya seolah hal itu hanya terjadi pada dirinya. “Perusahaan yang kudirikan selalu berbasis pada semangat bersenang-senang, pokoknya nggak seperti perusahaan lain.”

Kesenangan yang saya bayangkan saat mendengar kalimat itu adalah: ia membangun sebuah ketapel raksasa dan melontarkan seluruh pegawainya ke laut. Saya membisikkan hal itu kepada Dea dan Dea menambahkan, “Mungkin akan lebih menyenangkan kalau dilontarkan ke Kutub Utara.”

“Kutub Utara tempat yang bagus!” potong lelaki itu, “Aku pernah ke Kutub Utara, selain Barcelona dan Palo Alto. Ke makam Steve Jobs.”

Tak ada satu pun dari kami yang menanyakan hal itu, tetapi hidup memang terus berjalan meski kau tak bertanya mengapa dan bagaimana.

“Inovasi adalah kunci,” katanya, “Itulah yang saya pelajari dari Steve Jobs. Berpikir kreatif—”

Ia menceritakan Steve Jobs seperti sedang menceritakan kakak kandungnya, dan ia bisa membicarakannya selama satu bulan penuh tetapi sepertinya ia tak punya waktu sebanyak itu sebab tiba-tiba ia membelokkan ceritanya, “Pokoknya, menjadi seperti saya itu susah. Saya harus bangun pagi setiap hari dan langsung melatih logika supaya saya tetap punya alasan-alasan yang setajam silet, lalu saya harus menanyakan orang-orang ‘apakah mereka tahu orang ini?’ dan saya akan menjelaskan panjang lebar kepada mereka segala hal tentang orang itu. Saya harus melakukannya paling tidak kepada sepuluh orang setiap hari. Tapi jangan khawatir, kalian masih muda dan bisa sukses seperti saya dan Jobs. Kuncinya cuma satu: bekerja lebih keras ketimbang orang lain.”

Baca juga:  Setelah Selawat Dinyanyikan di Stadion, Ini Saatnya Reggae dan Dangdut Koplo

Ya, tentu saja, Tuan Galileo! Semua orang bekerja keras, yang membedakan hanyalah keistimewaan yang didapatkan setiap orang. Ada orang yang bekerja sampai mati dan hanya mendapat seperempat dari yang didapat orang lain dan alangkah baiknya kita hentikan ocehan ini sebelum salah satu di antara kita menjadi Komunis. Namun rupanya lelaki itu tak sepakat, ia tetap menceritakan pengalaman-pengalamannya yang mengharukan—setidaknya bagi dirinya dan kerabat-kerabatnya—dan kami terpaksa mendengarkan sebab kenyataan adalah sesuatu yang mencegah kami membenturkan kepalanya ke meja dan mengguyurnya dengan dua cangkir kopi dingin.

Kejadian ini sudah terjadi lama sekali, saking lamanya saya sendiri sudah lupa bagaimana percakapan itu berakhir. Saya, dan Dea (barangkali), tak akan mengikuti jejak lelaki itu meski dalam kondisi paling ekstrem. Bukan karena masukan dan cerita motivasinya tak ada gunanya, melainkan karena saya sendiri tak ingat apa saja yang ia ucapkan. Malam itu kami setidaknya tahu bahwa spesies homo sapiens tak bisa membanggakan diri di bidang teknologi: faktanya spesies ini masih membuka hutan sawit dan menghasilkan listrik dari batu bara, spesies ini juga tak bisa membanggakan diri di bidang tingkah laku mengingat sebagian dari spesies ini masih membela pemerkosa dan mungkin masih ada yang berpikir cara terbaik untuk lulus ujian adalah dengan berdoa kepada batu gamping, tetapi spesies ini memiliki kemampuan luar biasa dalam memuliakan diri sendiri dan itu bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan jika suatu hari sebuah pesawat dari planet lain mendarat di bumi.

Kenyataan adalah sesuatu yang memaksa umat manusia mencari jalan lain untuk berbahagia, misalnya dengan menulis buku motivasi berbalut komedi dan mengajak orang lain untuk mengikuti jalan kesuksesan yang sama. Seperti pendahulu mereka yang terlalu banyak bicara soal kesuksesan diri sendiri. Seperti ribuan orang yang menghancurkan halaman, menjarah rumah, dan memasang bom di tubuh anak-anak karena salah mengartikan anjuran kesuksesan pendahulu mereka yang terlalu banyak bicara soal kesuksesan diri sendiri.

Lelaki itu meninggalkan bar kopi saat kami sudah tak punya tenaga lagi untuk menghabisinya dalam pikiran kami sendiri, dan bertahun-tahun kemudian kenyataan adalah sesuatu yang mencegah kami untuk kabur saat lelaki lain, dengan perawakan yang persis, menceritakan kisah suksesnya lagi. Kenyataan adalah sesuatu yang tak mengizinkan gorila di kebun binatang protes, yang barangkali mendorongnya gantung diri.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles