MOJOK.COBicara soal pernikahan, selain mencari jawaban pertanyaan “kapan nikah?”, pernikahan usia muda adalah topik yang paling sering dibicarakan dan diperdebatkan.

Seandainya pandemi ini tidak terjadi, niscaya media sosial akan dipenuhi jokes garing tentang pernikahan yang diproduksi ulang tiap tahun. Pertanyaan “kapan nikah?” adalah momok tiap anak muda waktu Lebaran. Dari turunnya Soeharto hingga ditemukannya tata surya baru, pertanyaan macam ini seakan tak pernah bisa dijawab dan jadi masalah menahun.

Tapi ngomong-ngomong soal pernikahan, selain mencari jawaban pertanyaan “kapan nikah?”, pernikahan usia muda adalah topik paling sering dibicarakan dan diperdebatkan. Ketika ada orang menikah muda, katakanlah usia 16-19 tahun, dan diposting di media sosial, pasti keributan terjadi tidak jauh dari tempat itu.

Ada dua argumen yang sering ditemukan dalam perdebatan pernikahan usia muda. Argumen pertama, menolak pernikahan muda karena jalan mereka masih panjang dan banyak yang harus dipersiapkan. Argumen kedua berpendapat bahwa sah-sah saja selama mereka mampu dan itu adalah salah satu upaya menghindari zina.

Saya pikir, kedua argumen tersebut ada benarnya karena saya sendiri belum menikah karena banyak yang harus saya siapkan dan pada saat yang bersamaan, saya belum mampu. Tapi ketika diminta menulis tentang pernikahan usia muda, saya pikir saya harus meminta pendapat yang otoritatif alias bertanya kepada para orang yang sudah menikah lama.

Saya segera menghubungi orang-orang yang saya kenal sudah menikah lama, salah satunya adalah ibu saya.

Ibu saya sempat kaget saat saya mintai pendapat, mengira saya sudah ingin menikah. Bahkan sempat minta untuk dikasih cucu perempuan. Tapi begitu saya bilang bahwa ini kepentingan pekerjaan, dia menggerutu dan lanjut isah-isah. Namun, sambil isah-isah itu ibu memberikan pendapat tentang pernikahan usia muda.

Baca juga:  Walau Angka Kemiskinan Menurun, Pemerintah Masih Punya PR Ini!

Menurut Ibu saya, pernikahan usia muda itu rentan pertikaian tidak penting. Ibu bilang, karena masih muda, egonya masih dikedepankan dalam menyelesaikan masalah. Apalagi jika yang dihadapi adalah masalah ekonomi, masalah yang harusnya didiskusikan malah jadi pertikaian tanpa henti.

Tapi ibu juga mengapresiasi keinginan nikah muda. Setidaknya, nanti pasangan itu bisa menemani anaknya lebih lama. Tenaga orang tua masih ada untuk mencarikan nafkah hingga anaknya kuliah.

Saya lalu meminta pendapat istri kakak saya yang sudah menikah selama 12 tahun. Mbak Linda (sebut saja begitu) memberi jawaban yang lebih detil tentang masalah pernikahan muda.

Mbak Linda juga memberi jawaban yang sama seperti Ibu, yaitu masalah ego. Tapi Mbak Linda menambahkan bahwa ego ini terkadang datang dari pihak orang tua juga. Karena merasa anaknya terlalu muda untuk menjalani hidup, kadang orang tua ikut campur dalam menentukan keputusan dalam rumah tangga. Ekonomi yang belum stabil membuat orang tua ikut membantu keuangan keluarga tersebut, yang seringnya malah justru mencetak masalah baru.

Selain itu, pasangan yang umurnya masih muda sering terpengaruh teman-temannya yang masih bujang. Temannya masih sering ngajakin main dan ngecengin kalau dilarang istri/suaminya.

Orang terakhir yang saya hubungi, sebut saya Projo. Dia memang belum lama menikah, tapi saya tetap menanyai kenapa dia tidak memilih menikah dari dulu. Jawabannya menarik: dia tidak mau mencetak kere anyar alias orang miskin baru.

Menurut Projo, tidak semua orang terlahir dengan kondisi ekonomi yang amat mapan. Ketika memilih menikah di usia muda, sekitar umur 18 hingga 21 tahun, ekonomi orang tersebut hampir pasti belum stabil. Memaksakan pernikahan, menurutnya, hanyalah menciptakan kere anyar yang hanya jadi beban keluarga dan negara. Dia menikah baru ketika ekonominya siap, setidaknya dia tidak akan hidup sengsara.

Baca juga:  Perceraian dan Feminisme

Saya sempat bertanya iseng, kenapa dia tidak memilih menikah saja waktu usianya masih begitu muda untuk menghindari zina. Jawabnya adalah, kalau memang mau menghindari zina, ya jangan menikah, tapi jaga nafsu masing-masing. Lagi-lagi, dia menekankan kere anyar dalam alasannya.

Setelah menanyai 3 orang tersebut, kesimpulan yang saya dapat adalah pernikahan usia muda ini begitu rentan. Dalam hal mental, usia muda yang masih penuh dengan gelora dan belum mencapai titik kematangan bisa membuat pernikahan jadi lebih rumit. Keadaan ekonomi yang belum stabil juga membuat pernikahan jadi riskan.

Data BPS pada tahun 2018 menyebutkan bahwa angka perceraian di Indonesia menyentuh 408.202 kasus. Penyebab perceraian terbesar disumbang oleh faktor perselisihan dan ekonomi, masing-masing 183.085 kasus dan 110.909 kasus. Melihat data tersebut, maka pendapat ketiga orang yang saya tanyai tadi valid, bahwa masalah mental dan ekonomi adalah penyebab kenapa pernikahan usia muda itu rentan akan banyak hal.

Bagi yang keukeuh menikah muda, monggo itu hak kalian. Tapi melihat risiko yang ada dan jika kalian masih ragu kapasitas diri sendiri, mending ditunda dulu. Pernikahan bukan perlombaan, dan jika kalian menganggapnya begitu, taruhannya begitu besar, yaitu masa depan kalian dan buah hati kalian.

BACA JUGA One Piece Mungkin Ceritanya Bermasalah, tapi Naruto Jelas-jelas Sampah dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.